Bab 5

1190 Words
Selesai makan malam, Yasmin memilih untuk mengurung diri di kamar barunya. Itu dia lakukan untuk menenangkan gemuruh yang bergejolak di dalam hati. Bukan apa, malam ini adalah malam pertama suaminya dengan sang istri baru. Mungkin menghindari semua orang, khususnya sang suami dan istri barunya, bisa mengurangi gemuruh di hatinya itu. Dan yang dilakukan Yasmin sekarang adalah menonton video-video lucu agar dirinya bisa tertawa, agar tidak membayangkan persetubuhan suaminya dengan istri barunya. Ya, Yasmin memang bisa tertawa. Dia terus tertawa. Tapi ada satu sisi hatinya yang memberontak tak ingin tertawa. Maka, di sela-sela tawanya, dia meneteskan air mata. Diseka. Tertawa lagi. Begitu seterusnya. Tok! Tok! Tok! Ketukan di pintu kamar membuat Yasmin terhenyak. Dia mematikan ponselnya, menaruhnya di atas tempat tidur, membetulkan penampilannya, baru terakhir membuka pintu. Dia cukup terkejut melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Darius. "Ada apa mas datang ke sini?" Bukannya senang, Yasmin justru merasa aneh. "Tentu saja untuk mengunjungimu, sayang. Aku tidak akan bisa tenang sebelum mengucapkan selamat malam." "O...," jawab Yasmin datar. "Ya sudah. Selamat malam juga." Kening Darius mengerut seketika. "Kenapa sikap kamu jadi seperti ini?" "Sikap yang mana?" sahur Yasmin. "Memangnya aku harus bersikap seperti apa?" "Kamu terlihat tidak senang aku berkunjung ke kamarmu?" Yasmin terdiam sejenak. Ada yang menyesakkan dadanya mendengar pertanyaan Darius barusan. "Jujur aku lebih senang mas tidak datang berkunjung kalau hanya untuk mengucapkan selamat malam." Pandangan Darius menyipit. "Kok begitu?" "Karena sebelum mas datang, aku sedang bersusah payah menenangkan pikiranku dari bayangan apa yang mas lakukan dengan istri baru mas malam ini. Aku sedang berusaha keras membuat diriku bahagia dengan menonton video-video lucu. Tapi mas, malah mengacaukannya? Apakah Mas sengaja ingin menyakiti aku dulu baru bisa tenang menikmati malam pertama dengan Nia?" "Aku tidak bermaksud seperti itu, Yas." Darius berusaha untuk memegang bahu Yasmin tapi langsung ditepis oleh istrinya itu. Bersamaan dengan itu airmatanya menetes. "Lebih baik mas sekarang pergi. Aku mohon untuk tidak menyakiti aku lebih dalam lagi." "Tapi aku...." "Ternyata kamu di sini? Aku cariin kemana-mana lho." Tiba-tiba Nia datang dengan kimono tidur. Wanita itu langsung memeluk Darius. Wangi parfum yang menyengat membuat kepala Yasmin pusing mengendusnya. "Aku sudah mandi dan sudah mengoleskan parfum di seluruh tubuhku lho. Ini semua demi kamu. Biar kamu senang." Kedua tangan Yasmin mengepal mendengar ucapan Nia yang memang disengaja demi membuatnya cemburu dan panas hati. Tapi untungnya Yasmin bisa mengendalikan diri sehingga dia tampak tenang di mata Nia. Darius melirik Yasmin. "O... e... baiklah. Kita ke kamar sekarang." Dengan pandangan untuk beberapa saat mengarah pada Yasmin, Darius akhirnya kembali ke kamar. Setelah Darius dan Nia menghilang dari pandangannya, Yasmin menutup pintu kamarnya. Dia tidak tertarik lagi menonton video lucu seperti semula, melainkan menangis meratapi nasibnya yang buruk karena harus menanggung perasaan yang hancur telah di duakan oleh suami. Jadi apa baiknya pria yang menikahi lebih dari satu wanita? Ya, pria memang diuntungkan karena bisa mencicipi sana sini. Sedangkan wanita? Yang didapat hanyalah rasa sakit hati saja. Ting! Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya. Yasmin segera mengecek. Rupanya Paul yang mengirim pesan padanya. 'Bagus nona tidak menangis dan emosi di depan Nona Nia. Lanjutkan, nona. Tetaplah seperti itu. Jangan menampakan kalau dirimu lemah. Kalau perlu, mulai hari ini bisa bersikap tegas. Ingat, nona itu berharga bagi orang yang menyayangi nona.' Yasmin menatap layar ponselnya lama. Dia membaca pesan dari Paul berulang kali. Mencoba memakai setiap kata-katanya. *** Seperti biasa, Yasmin akan bangun pagi-pagi untuk memasak. Pagi ini pun, iya. Pada pukul setengah tujuh, makanan sudah tersaji di atas meja. Tanpa memanggil siapa pun, Yasmin menikmati makanan itu sendirian. Kalau dipikir-pikir oleh Yasmin, ternyata enak malam sendirian seperti ini. Tidak ada yang menyindir dan memojokkannya seperti yang dia terima selama ini. Mungkin sejak sekarang, dia harus sering makan sendirian saja. Sedang asyik-asyiknya makan, Asri dan Desy muncul. "Kok tidak memanggil sih kalau sarapan sudah siap?" Desy menarik kursi sambil mengomel. "Aku selalu menyediakan sarapan di jam yang sama. Jadi harusnya kamu ingat sendiri tanpa perlu dipanggil-panggil," jawab Yasmin tanpa menoleh. Dia lalu menyuapkan makanan terakhirnya. Mendengar jawaban Yasmin, Desy merasa aneh. Karena tidak biasanya Yasmin akan menjawab seketus itu. Hal yang sama juga dirasakan oleh Asri. Menantu yang selama ini dikenal kalem kok tiba-tiba bisa berubah nada bicaranya. Seperti ada penekanan dalam kalimatnya untuk menegaskan. Makanan di piring Yasmin telah habis pada saat ibu mertua dan adik iparnya baru mulai makan. Yasmin pun beranjak dari duduknya dengan membawa piringnya. Tapi baru dua langkah meninggalkan meja makan, Yasmin menoleh pada Desy. "Habis makan, piringnya cuci sendiri ya, Des. Kamu sudah dewasa. Harus belajar melakukan pekerjaan rumah." Lalu dia pergi menuju wastafel untuk mencuci piring bekasnya makan. Sontak Desy tersenyak mendengar itu karena ini untuk kali pertama Yasmin berani memerintahnya. "Apa?! Aku mencuci piring?! Yang benar saja?!" protesnya dengan suara lantang. "Jangan panik begitu. Biasa saja. Mbak kan hanya memintamu mencuci piring bekas makan kamu saja bukan semua piring." Rahang Desy mengencang. "Mbak berani sekali mengatakan itu?" "Harusnya dari dulu mbak berani bersikap tegas seperti ini. Mbak di rumah ini adalah menantu, bukan pembantu. Kamu harus ingat itu." Desy kian terkejut lagi mendengar itu. Dia nyaris tidak percaya dengan yang dia dengar. "Bu... i... itu dia...." Asri menghela nafas keras. Dia pun merasa sikap Yasmin sangat aneh pagi ini. Tapi karena masih pagi, Asri tidak ingin ribut. "Sudahlah. Segera habiskan makananmu. Kalau hanya mencuci satu piring sepertinya tidak akan membuatmu capek." "Kok ibu membela doa?" Desy tidak terima. "Siapa yang membela dia? Ibu itu malas marah-marah pagi ini. Nanti akan mengganggu kakakmu dan Nia." Desy pun mendengus kesal. Mendapati ini, Yasmin tersenyum penuh arti. Sepertinya dia memang harus bersikap seperti ini. Tegas dan tidak boleh ada satu orang pun yang merendahkan harga dirinya. Selesai mencuci piring, Yasmin membawa sepiring makanan dan segelas kopi ke teras samping. Dia lalu mengarah pandang pada Paul yang sedang mengelap mobil. "Paul! Sarapan dulu!" Paul yang mendapat panggilan Yasmin langsung mendekat. "Wah, benar ini makanan dan kopi buatku?" Yasmin mengangguk. "Tentu saja iya. Sebagai ucapan terima kasih." Paul mengambil duduk di kursi, bersiap untuk makan. "Ucapan terima kasih untuk apa?" "Untuk pesan w******p yang kamu kirim semalam. Itu menyadarkan aku pada kebodohanku. Ternyata sikap orang-orang yang selalu merendahkan aku disebabkan karena aku tidak menghargai diriku sendiri." Paul tersenyum mendengar yang dikatakan Yasmin. "Syukurlah kalau nona sudah mengerti. Aku senang mendengarnya." Yasmin tersenyum. "Oya, aku mau beres-beres rumah. Nanti setelah makan, piring dan gelas cuci sendiri ya?" Paul mengacungkan ibu jarinya. "Beres. Pergilah beres-beres. Cepat selesai cepat istirahat." Yasmin mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan Paul untuk beres-beres rumah. *** "Aduh, perutku lapar sekali. Masak apa Si Yasmin?" ucap Nia sembari membuka tudung saji. Tapi dia tersentak kaget karena tidak menemukan apa-apa. "Lha kok? Yasmiiiiin! Yasmiiiin!" Yang datang bukan Yasmin melainkan Darius yang juga merasa lapar. "Kenapa teriak-teriak panggil Yasmin, Nia?" Nia membuka tudung saji tinggi-tinggi untuk menunjukkan isinya. "Coba kamu lihat! Tidak ada apa-apa. Makanya aku panggil Yasmin." "Oh, iya ya. Biasanya selalu ada makanan di bawah tudung saji." "Memang tidak beres istri kamu itu." Nia mengalihkan pandang ke kamar Yasmin. "Yasmiiiiin! Yasmiiiiin!" Yasmin yang dipanggil hanya tersenyum. Tak berniat sedikit pun untuk menjawab apalagi mendekat. Lagian saat ini dia sedang menyiram tanaman. Malas untuk memindahkan kaki hanya demi memenuhi panggilan Nia. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD