Bab 4

1130 Words
Paul hanya tersenyum menanggapi dugaan Asri bahwa dirinya menyukai Yasmin. Tak terlihat marah sedikit pun. Itu karena di dalam hatinya dia mengakui tuduhan Asri kepadanya. Sementara itu, Yasmin membuat jus semangka buat istri muda suaminya, Nia. Hatinya menangis saat menyadari kalau secara tidak langsung dirinya telah diperlakukan seperti pembantu istri muda suaminya itu. Jika selama ini dia menerima telah diperlakukan seperti pembantu oleh Darius, ibu mertua, dan adik ipar karena sebagai bakti seorang istri dan mertua, tapi pola pikirannya tidak sama ketika Nia yang menyuruhnya. Ada perasaan marah karena seharusnya dirinya yang merupakan istri tua lah yang diistimewakan. Jus semagka sudah selesai dibuat. Yasmin hendak mengantarkan ke kamar yang dulu adalah kamarnya ketika Paul mencegah. "Biar aku saja yang mengantarkannya, nona. Jangan nona." Yasmin menatap mata Paul dengan penuh tanda tanya. "Kenapa jangan aku?" "Karena aku khawatir nona akan melihat yang tidak ingin nona lihat. Aku takut itu akan semakin menyakiti hati nona." Yasmin tercenung. Sepertinya yang dikatakan oleh Paul benar. Sebagai pasangan pengantin baru bukan tidak mungkin suami dan istri barunya itu sedang melakukan hal-hal yang layaknya dilakukan oleh pasangan pengantin baru di kamar itu saat ini. Yasmin bisa membayangkan itu karena dulu dirinya pun pernah menjadi pengantin baru. "Baiklah," ucap Yasmin. Nampan yang di atasnya ada gelas berisi jus semangka, kini berpindah tangan darinya ke Paul. Paul pun melangkah menuju kamar utama sementara Yasmin kembali memasak untuk makan malam. Setelah sampai di depan pintu kamar itu, tatapan Paul berubah seram. Jangankan Yasmin yang jelas-jelas telah dilukai, dirinya saja panas hati walau hanya melihat pintu di depannya ini. Rasanya begitu membuka pintu tersebut, dia ingin mengamuk. Tapi tentu itu tidak dia lakukan. Mengingat apa yang terjadi belum sesuai dengan kemauannya. Maka, setelah melemaskan rahangnya yang mengencang dan membuang api kemarahan dari matanya, Paul mengetuk pintu di depannya. "Masuk!" Langsung terdengar sahutan dari dalam. Paul pun langsung membuka pintu itu dan mendapati Darius sedang membantu Nia membuka risleting gaun pengantin. "Jusnya, nona." Mata Nia berkedip melihat yang muncul adalah Paul bukan Yasmin. "Yasmin mana? Kok kamu yang mengantar?" "Nona Yasmin sedang memasak, nona. Dimana aku harus menaruh jus ini?" "Taruh di atas meja rias saja," ucap Nia dengan wajah tidak puas. Sebenarnya dia meminta jus ini adalah agar Yasmin yang mengantarnya dan bukan Paul. Baginya tidak cukup menyakiti perasaan Yasmin hanya dengan menikah dengan suami. Dia ingin lebih dari itu. Yaitu ingin memperlakukan Yasmin seperti pembantu dan tidak diperdulikan lagi oleh Darius. Sesuai perintah, Paul pun menaruh gelas berisi jus semangka ke atas meja rias. Tapi sebelum pergi, dia berkata pada Nia. "Kalau butuh apa-apa yang harus diantar ke kamar ini, tolong suruh aku saja, nona. Jangan Nona Yasmin." Kening Nia mengerut. "Kok begitu?" "Ada dua alasan. Yang pertama, Nona Yasmin itu bukan pembantu. Dia juga Nona di rumah ini. Jadi tidak pantas untuk disuruh-suruh seperti seorang pembantu. Yang kedua, Nona Yasmi sudah cukup berkorban dengan membolehkan Tuan Darius menikahi nona. Tolong hargai perasaannya dengan tidak menyakiti perasaannya lagi dengan memperlihatkan kemesraan kalian berdua." Mata Nia langsung melotot mendengar itu. Tapi belum separuh kata pun untuk membalas, Paul sudah keluar dari kamar terlebih dahulu. Akhirnya, Dariuslah yang jadi sasaran kekesalannya. "Kamu dengar apa yang dikatakannya tadi?! Kurang ajar sekali kan?! Aku mau kamu memecat sopir itu sekarang juga!" Namun Darius terlihat tenang. "Sudahlah. Jangan terlalu didengar kata-katanya. Aku rasa dia tidak bermaksud apa-apa selain mengingatkan kita. Memang benar sih. Kita sebaiknya menjaga perasaan Yasmin. Jadi kamu jangan lagi menyuruh Yasmin kalau butuh sesuatu, tapi suruhlah dia saja." Rahang Nia mengencang mendengar itu. Dia ingin protes tapi khawatir kalau Darius malah akan memarahinya. *** Makan malam pun tiba. Semua berada di meja makan. Darius duduk bersebelahan dengan Nia dan Asri duduk bersebelahan dengan Dessy. Sementara Yasmin, duduk di sisi meja yang diisi oleh kursi tunggal, berhadapan dengan kursi kosong tak bertuan. Yasmin bagai orang asing di meja makan. "Bersyukur sekali pesta resepsi tadi berjalan dengan sangat meriah. Semua tampak bahagia. Bukan hanya kita tapi juga tamu undangan," ucap Asri dengan menggebu-gebu. Nia tersenyum lebar sekali. "Semoga kebahagiaan kian bertambah dengan berita baik ya, bu. Doakan saja aku segera hamil." "Amin. Amin. Ibu pasti mendoakan. Karena itu gencarkan usahanya. Kalau perlu dalam semalam sampai sepuluh ronde," jawab Asri. Yasmin yang mendengar itu, langsung mencengkram sendok dan garpunya kuat-kuat. Hatinya sakit sekali mendengar ini. Nia melirik Darius. "Memangnya Darius masih kuat untuk melakukan sampai sepuluh ronde, bu?" "Tentu saja kuat. Besok ibu belikan ramuan kuat buat Darius. Dengan begitu setiap malam ranjang kalian akan berguncang hingga pagi." Nia kembali tersenyum. Dia melirik Yasmin yang menikmati makanannya dalam diam dan kepala yang tertunduk. Dia yakin obralan saat ini semakin membuat hati Yasmin terasa perih. Lalu dia mengalihkan pandang pada Asri lagi. "Aku tunggu obat kuatnya, bu. Ibu sudah janji jadi jangan diingkari." "Ibu janji. Ibu tidak akan mengingkari. Demi cucu, apa sih yang tidak bisa ibu lakukan?" balas Asri. "Kak Nia, nanti kasih ponakannya jangan satu ya. Tapi dua atau tiga. Soalnya selama lima tahun ini rumah ini sudah menantinya." Nia mengangguk. "Iya. Kalau perlu setengah lusin sekalian." Semua tertawa mendengar candaan yang tidak lucu itu. Tawa itu seolah dihadirkan dengan dipaksa agar menyakiti satu hati yang ada di meja makan itu. Hati seorang wanita yang seolah layak untuk disakiti meskipun tanpa kesalahan apa pun. Nia yang sangat senang menyakiti perasaan Yasmin, lalu menyenggol sendok yang ada di atas piring. Sendok itu pun seketika jatuh ke lantai. Bukannya mengambil sendok yang jatuh itu, Nia justru menoleh pada Yasmin. "Yas, sendokku jatuh. Bisa tolong kamu ambilkan aku sendok yang baru?" Yasmin yang hendak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, menaruh sendoknya ke atas piring kembali. Dia lalu mengangguk. "Iya." Tapi baru saja hendak berdiri, Paul datang entah darimana. "Biar aku saja yang ambilkan sendoknya, nona. Nona lanjutkan makan saja." Yasmin mengangguk dan kembali menikmati makanan. Sementara itu, pandangan Paul dan Nia bertemu. Tatapan Paul pada Nia begitu tajam seolah marah karena Nia tidak menuruti perintahnya untuk tidak memperlakukan Yasmin seperti seorang pembantu. Karena tatapan Paul begitu menyeramkan, Nia tidak berkutik. Paul pun mendekati rak piring dan mengambil satu sendok dari sana. Sendok itu pun dia berikan pada Nia. Lagi-lagi dengan pandangan yang tajam. Mendapati perlakuan tak mengenakan dari Paul, Nia pun mengadu pada Darius. "Kamu lihat tidak sikap sopirmu tadi kepadaku?" "Sikap yang mana?" Darius malah balik bertanya. "Yang menggantikan kamu mengambil sendok tadi?" "Iya. Yang itu." "Lha terus masalahnya dimana? Dia sudah bersikap bagus dengan mengambilkan kamu sendok." "Tatapannya itu lho. Dia seperti sangat marah saat aku menyuruh Yasmin yang mengambilnya. Dia itu siapa di rumah ini? Hanya sopir tapi kok seberani itu sama aku." "Sudahlah. Jangan dipermasalahkan. Sepertinya dia tidak suka kalau Yasmin disuruh-suruh seperti tadi olehmu. Karena menurutnya, Yasmin adalah nona-nya dia." "Yang bayar gajinya kan kamu? Harusnya dia lebih berpihak kepada kamu daripada Yasmin. Mungkin tidak kalau dia itu menyukai Yasmin?" Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD