“Mel?” “Gimana Diana?” “Malem ini si Rama ngundang gue ke rumahnya. Katanya dia mau masakin gue dinner gitu.” Diana membuang handuk yang baru saja ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Ia menyangga ponsel yang menempel pada telinga dan pundak begitu saja sambil berjalan menuju meja rias. “Seriusan?” suara Amel yang terdengar bersemangat membuat Diana spontan menjauhkan ponsel dari telinganya. “Aduh biasa aja dong jangan teriak-teriak gitu Mel,” protes Diana. “Sori sori, abis gue seneng banget.” “Seneng kenapa?” “Masakan Rama itu paling the best deh gue ga boong. Kalau dia udah masak tuh beuh! Lo enggak bakal bisa jaim. Dijamin minta nambah.” “Ah lebay lo,” Diana mencoba tak mempercayai begitu saja ucapan Amel. Ia tak ingin berekspektasi terlalu tinggi. “Lo pasti bakal tau ka

