Undangan

1006 Words

Wajah Diana memerah karena mendengar ucapan Rama barusan. Ditambah rasa pedas soto yang sedari tadi masih membakar lidahnya membuat otak perempuan itu sulit mencerna apa yang terjadi. Ia tak sedang berhalusinasi kan? Baru saja ia mendengar tetangganya itu mengajaknya menikah. “Apa mas? Nikah?” tanyanya sekali lagi. Peluh menetes dari pelipisnya. “Iya, kamu mau?” Rama masih menggenggam tangan Diana. Seolah tiada keraguan untuk mengajaknya menikah. Buru-buru Diana menarik tangannya lalu menegak habis teh hangat di hadapannya. Rama sampai melongo melihatnya dapat menghabiskan segelas teh hangat dalam waktu sesingkat itu. “Pelan-pelan Di.” Ia meletakkan gelas kaca kosong bekas tehnya ke atas meja dengan cukup keras hingga membuat beberapa pengunjung warung itu menoleh padanya. “Mas kamu la

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD