Pertama kalinya dalam hidup, Diana merasakan kemarahan yang luar biasa pada seorang laki-laki yang bahkan tidak sedang menyakiti dirinya. Gilang pantas dibinasakan dari bumi ini. Setidaknya itulah yang paling terpikirkan oleh otaknya yang sedang berusaha mencerna segala hal yang tidak masuk akal ini. Ibu Heni masih tersedu-sedu memeluk putrinya yang juga sedang menangis sambil terbaring lemas dengan perut besarnya. Kenyataan pahit ini semakin tidak bisa dibiarkan. Bagaimana seseorang seperti Gilang bisa berkeliaran dan hidup tenang seolah tak pernah melakukan kesalahan sebesar ini pada Heni? Ia melirik pada Risa yang sejak tadi hanya terpaku menatap kosong ke depan. Ini pasti menyakitkan baginya. Dengan perlahan Diana mengguncang pundak kakak angkat Heni sambil berkata, “Kita ngobrol d

