Bayu mencium bibir Aina. Lidahnya yang berasa pahit kopi ia masukan ke dalam mulut Aina. Aina memukul d**a Bayu yang telanjang, Bayu lupa kalau ia masih hanya memakai handuk saja di pinggangnya. "Pahit!" Aina memuntahkan air liurnya ke tempat pencucian piring. Wajahnya merah padam. Ada rasa malu, karena Bayu sudah mencium bibirnya, bahkan memasukan lidah ke dalam mulutnya. "Pahitkan?" "Yang minta kopi pahit, Kak Bayu sendiri." Bayu mengambil irisan pisang lagi, lalu ia kunyah perlahan, sambil berjalan mendekati Aina. "Kak Bayu mau apa?" Aina mendorong d**a Bayu seperti tadi. "Kata Nenek, kita disuruh bikin anak." "Kalau anaknya lahir, Raisa lulus sekolah, bagaimana nasib anak itu? Apa harus menjadi korban perpisahan orang tuanya?" "Nenek yang minta, Ai. Bukan keinginanku." "Ju

