Bab. 18 Tempat Tersembunyi

1359 Words
Jam istirahat berbunyi. Semua anak-anak di kelas Chloe berhamburan keluar. Hanya tersisa Chloe dan Damian yang masih ada di dalam ruangan itu. Setelah menutup bukunya, Damian beranjak dari duduknya lalu menghampiri Chloe di bangkunya dengan membawa kotak bekal di tangannya. "Mau makan bersama?" tanya Damian sambil menunjukkan kotak bekal itu. "Tidak. Aku mau makan sendiri," balas Chloe dengan nada ketus. Ia pun mengeluarkan kotak bekal yang dibawakan Adam tadi pagi. Lalu bergegas meninggalkan Damian sendiri dengan tampang bingungnya. "Ada apa sih sama tuh anak?" gumam Damian bingung. Sambil terus menatap punggung Chloe yang semakin menjauh. Chloe tak mau menoleh ke arah Damian. Meskipun hatinya terus memintanya melakukan itu. Jujur, relung hati Chloe merasa bersalah sudah menghindari Damian sejak tadi pagi. Namun, ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak mau membuat Sarah semakin salah paham dengannya. 'Maafkan, aku Damian. Tapi, lebih kita jangan terlalu dekat lagi,' batin Chloe sambil terus berjalan ke arah taman samping sekolah. Tempat itu adalah tempat favorit Chloe di sekolah ini. Karena letaknya yang jauh dari kantin ataupun lapangan basket, membuat tempat itu sepi dan jarang dikunjungi oleh para siswa lainnya. Sampai di bawah pohon yang rindang. Chloe duduk di bangku yang berada tepat di bawah pohon itu. Chloe membuka kotak bekal yang berisi sandwich yang sama seperti yang ia makan tadi pagi. Senyum Chloe pun berangsur memudar. Bukan karena ia tidak suka atau tidak bersyukur sudah diberi bekal seperti itu. Hanya saja sudah lebih dari dua Minggu ini Adam selalu membuat sandwich untuk sarapan ataupun bekal Chloe berangkat sekolah. "Daddy itu bekerja di restoran, tapi dia tidak bisa masak dengan baik. Huh," sungut Chloe dengan nada yang tidak bersemangat. "Tidak perlu mengomel seperti itu," ujar seseorang dari belakang Chloe. Gadis cantik yang selalu tampil dengan kuncir kuda itu pun langsung menoleh ke sumber suara. Dan alangkah terkejutnya ia saat melihat sosok guru baru yang tadi dikenalkan oleh Mister Raymond ada di depannya. "Mister Albern," kata Chloe sambil beranjak dari duduknya. "Hai. Kita ketemu lagi," sahut Albern sambil duduk di samping Chloe. "Kenapa Mister bisa ada disini?" "Kamu sendiri sedang apa disini?" ujar Albern bertanya balik. "In… ini tempat kesukaanku di sekolah. Setiap hari aku selalu menghabiskan waktuku di tempat ini," jelas Chloe cepat. "Sama," jawab Albern singkat. "Hah? Maksudnya?" tanya Chloe dengan alis yang nyaris bertabrakan. "Dulu saat aku masih menjadi siswa disini. Tempat ini juga menjadi tempat favoritku. Jadi, kalau dipikir-pikir. Aku lebih dulu berada di tempat ini jauh sebelum kamu ada disini." "Beneran?!" tanya Chloe setengah tudka percaya. "Iya, bener kok. Untuk apa aku berbohong." "Kalau begitu Mister senior aku dong." "Iy…yap," kata Albern. "Dulu tempat ini seperti apa Mister? Pasti banyak anak-anak dateng ya?" "Enggak juga. Tempat ini nggak jauh beda sama sekarang. Sepi, sunyi, nggak ada orang. Ya, kayak gini ini." "Tapi kenapa Mister lebih suka disini. Padahal, tempat ini nggak ada siapa-siapa?" "Kamu sendiri kenapa lebih suka disini? Nggak bersama anak-anak lain di kantin atau menonton permainan basket di pinggir lapangan?" "Kalau aku kan udah jelas, Mister. Semua anak-anak di sekolah ini tidak ada yang suka sama aku. Semua membenci aku, membully aku dan tidak suka sama aku. Jadi, pokoknya aku lebih baik nggak ada di hadapan mereka deh. Beda sama Mister. Kalau Mister sudah pasti banyak yang suka." "Sama saja. Aku juga seperti itu. Banyak yang nggak suka. Banyak yang membenci. Makanya aku lebih suka menyendiri," kata Albern yang membuat Chloe membulatkan matanya. "Apa?! Jadi dulu Mister juga korban bully juga?" tanya Chloe cepat. "Iya." "Kenapa? Kalau aku kan udah jelas karena bukan dari golongan orang kaya. Boro-boro untuk datang ke party dengan gaun mahal, Daddy aku aja sering telat membayar uang administrasi sekolah, tapi kalau Mister kan anak orang kaya di kota ini. Jadi, apa yang membuat mereka menjauhi Mister?" "Karena saya anak introvert," jawab Albern singkat. Lagi-lagi Chloe membulatkan matanya lebar-lebar. "Introvert?" beo Chloe. "Iya. Dulu saya itu nggak suka berkumpul dengan teman-teman, nggak suka party, nggak suka nonton basket. Saya lebih suka disini. Menyendiri." "Hahaha." Chloe tertawa garing. "Masih sangat sulit dipercaya jika Mister itu seorang introvert. Sedangkan di kelas tadi Mister sangat friendly, mudah mengendalikan kelas dan suka menolong orang yang tertindas." Chloe tersenyum lebar ketika menyebutkan ucapan terakhirnya. "Hahaha. Kamu mau berterima kasih atas bantuan saya tadi pagi?" sindir Albern. "Hehe. Iy...ya. Jika Mister tidak keberatan." "Oke. Your welcome." "Tapi, kenapa Mister bisa tau kalau sedang ada anak yang dibully di belakang sekolah? Padahal, tempat itu jauh dari ruang guru ataupun ruang kelas yang masih digunakan." Albern kembali tersenyum dengan pandangan yang menerawang jauh entah kemana. "Dulu tempat itu adalah tempat saya pergi dari kelas. Jika sedang malas mengikuti pelajaran," jelas Albern sambil menahan tawanya. "Saya sering sekali membenci pelajaran yang menurut saya gurunya terlalu membosankan. Dan saat itu juga saya langsung minta izin tidak mengikuti pelajaran. Dan tempat itu selalu menjadi tujuan saya saat itu." "Wow. Kalau Mister bosan di kelas. Mister langsung meminta izin keluar kelas? Kok bisa sih? Eh, maksudku kok dibolehin sih sama gurunya?" "Sebenarnya kan simpel aja. Kita mau ada di kelas ataupun tidak itu tidak penting. Yang penting nilai kita selalu bagus. Benar, bukan?" "Iy… iya benar sih. Cuma… otak Mister bagus banget dong. Karena bisa belajar sendiri tanpa guru-guru yang menurut Mister itu ngebosenin." "Iya. Dalam urusan belajar pun saya lebih suka melakukannya sendiri. Gimana ya lebih tenang dan menyenangkan aja rasanya." "Tapi, kenapa tempat tujuan Mister harus belakang sekolah? Padahal, tempat itu kan kumuh, jorok dan banyak nyamuk." Chloe semakin penasaran dengan kisah hidup guru baru yang ternyata juga seniornya di sekolah ini. Sampai-sampai ia lupa untuk memakan bekalnya. "Dulu tidak seburuk itu memang. Karena jalan belakang sekolah jadi jalan alternatif siswa. Jadi, para petugas kebersihan pun masih sering merawat tempat itu. Dan alasan kenapa saya lebih suka ke sana. Karena disana saya merasa benar-benar sendirian. Tidak ada siswa lain dan tidak ada orang yang mengawasi gerak-gerikku." "Oh, begitu. Apa Mister pernah kabur dari sekolah juga?" tanya Chloe pelan tapi pasti. "Tidak." "Kenapa?" "Karena di luar sekolah orang berkerumun lebih banyak lagi. Dan itu membuat mood ku benar-benar down saat itu." "Segitu introvertnya Mister sampai seperti itu?" "Iya. Aneh ya?" "Ya, bukannya aneh. Cuma rasanya nggak seperti apa yang tampak pada Mister sekarang." "Hahaha. Kamu ada-ada saja. Oh, ya. Kita jadi lupa makan saking asyiknya ngobrol." "Iya Mister. Benar juga." "Oh, ya. Aku pikir kamu sudah bosan dengan menu bekalmu. Mau ditukar dengan punyaku?" "Hah? Tapi, Mister?!" ………………………… Hai, kak. Jumpa lagi di cerita Riezka Karisha. Sebagai seorang penulis, saya kembali mengingatkan kepada kalian semua untuk saling menghargai setiap karya kita ya, kak. Tentunya, kakak-kakak semua punya sebuah karya yang mungkin berbeda bentuknya. Entah itu dalam bentuk lukisan, jahitan, makanan atau apapun itu. Yang pasti, kita tidak mau dong karya kita diatasnamakan orang lain, dijiplak orang lain, apalagi sampai diperjualbelikan orang lain. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Saya memohon kepada semua pembaca sekalian untuk bisa melindungi dan menghargai semua cerita yang pernah kalian baca. Entah cerita saya ataupun cerita penulis lain agar terbebas dari plagiat dan penjual Pdf tak bertanggung jawab. Memang benar kalian kadang harus membeli koin untuk membuka bab yang ingin dibaca. Namun, saya tekankan disini. Uang yang kalian bayar untuk membeli koin. Hanya mendapat hak membaca bukan membeli cerita. Karena sesungguhnya, cerita di Innovel maupun Dreame sudah dikontrak dengan Stary dan sepenuhnya milik Stary. Jadi, jika kalian melanggar hak cipta kami. Tentunya akan berurusan dengan pihak Stary yang lebih paham hukum. Selain itu, apakah kalian tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya si penulis yang menjadi sasaran plagiat. Ibaratnya nih, kita punya anak berprestasi. Tapi, diakui orang lain itu anak dia. Kan sakitnya tuh disini? Hehe. Aku yakin sih kalian semua pembaca bijak dan amanah. Tapi, saling mengingatkan itu penting, kan? Siapa tau kalian pernah baca cerita A disini lalu Nemu lagi disana. Kan nggak afdol tuh. Ya, sudah sekian pengumuman saya kali ini. Mungkin, kalian akan menemukan hal yang sama di bab-bab selanjutnya. Jadi, kalian bisa abaikan saja ya kak. Karena saya akan selalu mengingatkan hal yang sama. Agar kita bisa selalu sejalan dan sepaham. Terima kasih atas perhatiannya. Jika ada kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebanyak-banyaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD