Bab. 19 Jalan-jalan Pagi

1493 Words
Malam yang sunyi dan sepi di kota Aberdeen. Tak seperti biasanya yang selalu ada saja kegiatan manusia yang membuat kota itu seakan tak pernah tidur. Namun, malam ini sangat berbeda. Tak ada satupun orang yang tampak duduk-duduk bersantai di cafe ataupun pinggir jalan, tak ada kendaraan berlalu lalang bahkan tidak ada ruang di gedung-gedung yang tampak masih menyalakan lampu. Semua orang tampak sudah terlelap dalam mimpi masing-masing. Hingga tidak ada yang menyadari sebuah kejadian aneh menyapa mereka. Sebuah kabut putih mulai muncul dan terlihat semakin pekat di banyak titik di seluruh kota. Ketika asap itu benar-benar menelan seluruh bangunan dan juga fasilitas terbuka. Cling! Cling! Cling! Sebuah kejadian luar biasa terjadi. Tampak anjing-anjing yang sempat menghilang selama ini, muncul di tempat yang sama seperti disaat terakhir mereka menginjak bumi. Mereka pun bersikap seperti apa yang biasa mereka lakukan pada malam hari. Ada yang tidur, melolong, mencari mangsa dan sebagainya. Keesokan paginya mentari bersinar sangat cerah. Secerah hati Chloe dan Sharon yang hendak jogging bersama. Dengan menggunakan setelan sport hijau dan sepatu ket putih Chloe keluar dari dalam kamarnya. Rambutnya yang sudah dikuncir kuda bergerak kesana-kemari saat gadis itu berjalan dengan mantap mendekati meja makan bergaya minibar yang menjadi sekat antara dapur dan ruang keluarga. Di belakangnya, Sharon berlari kecil mengikuti langkah kaki Chloe. "Morning, Dad," sapa Chloe sambil duduk di atas bangku yang cukup tinggi. Adam yang sedang menyiapkan makanannya di dapur langsung menoleh sambil tersenyum. "Morning, Honey," balas Adam lalu ia mengecup ujung kepala Chloe sekilas. "Wow. Kau mau jogging bersama Sharon?" "Iya, Dad. Kita kan udah lama nggak jogging bareng. Jadi, Chloe pikir ini saat yang tepat," timpal Chloe sambil meraih satu potong sandwich dan segera memasukkan ke dalam mulutnya. Di samping bangku yang didudukinya, Sharon tengah menikmati sarapannya. "Kalian hanya berdua saja? Apa Damian tidak ikut?" tanya Adam. "Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Mendadak Chloe tersedak mendengar pertanyaan Adam yang sangat sederhana. "Chloe! Chloe! Kau tidak apa-apa?" ujar Adam panik. Ia segera meraih gelas lalu mengisinya dengan air putih. "Ayo minum dulu." Adam menyodorkan gelas di tangannya. Chloe pun segera meraih benda itu lalu meminumnya hingga tersisa setengah gelas. "Bagaimana?" "Terima kasih, Dad." "Your welcome," sahut Adam dengan mata yang terus menatap ke arah Chloe dengan tatapan penuh curiga. "Kau dan Damian tidak ada masalah, bukan?" tanya Adam pelan. Chloe sedikit terkejut. Sebenarnya, sejak kemarin dia dan Damian memang sedikit berselisih. Entah mengapa Damian tiba-tiba marah padanya saat melihat Chloe dan Albern berjalan bersama dari taman samping sekolah saat jam istirahat berakhir. Flashback. Chloe berjalan beriringan dengan Albern dengan sesekali melempar canda dan tawa. Kini mereka memang terlihat semakin akrab. Bahkan melebihi kedekatan guru dan murid. Meskipun banyak anak-anak yang mulai memperbincangkan kedekatan mereka, tapi tak ada satupun dari mereka yang berniat menelisiknya lebih detail. Bukan karena tidak penasaran. Hanya keduanya terkenal tertutup dan tidak suka banyak bicara dengan orang lain. Makanya, mau seberapa besarnya rasa penasaran mereka. Tetap saja tak akan ada informasi pasti yang mereka dapatkan. Tak terkecuali Damian. Cowok yang sedari tadi memperhatikan sikap keduanya dari balik dinding yang menyembunyikan tubuh jangkungnya. "Sampai nanti di kelas. Bye," ujar Albern sambil melambaikan tangannya. "Bye," balas Chloe sambil membalas lambaian tangan Albern. Guru muda itu berjalan lurus menuju ruang guru, sedangkan Chloe akan membelok ke sisi kiri untuk sampai di kelasnya. Untuk beberapa saat Chloe menatap punggung Albern yang semakin menjauh. Bibirnya pun tersenyum tipis. Namun, tiba-tiba seseorang menarik tangan. Lalu menyeretnya di bawah tangga. Awalnya Chloe kira orang yang menyeretnya adalah Alice dan teman-temannya. Makanya dia langsung berontak begitu saja, tapi saat ia dipepetkan pada dinding. Ia baru sadar siapa pelakunya. "Damian?!" ujar Chloe dengan nada setengah tidak percaya. "Kenapa kau melakukan ini?" tambah Chloe sambil menepis tangan cowok itu. "Harusnya aku yang bertanya Chloe? Kenapa kau melakukan ini padaku?" balas Damian dengan pandangan yang menusuk mata indah Chloe. Chloe pun gelagapan. Tubuh mereka sangat dekat sekarang. "Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?" sahut Chloe sambil memalingkan wajahnya. Damian langsung mengejar pandangan Chloe agar wanita itu mau membalas tatapan matanya. "Kenapa kau menghindariku Chloe?" tanya Damian lirih. Namun, berhasil membuat bulu kuduk Chloe berdiri. Chloe semakin kebingungan. Tak tau harus menjawab apa. "Siapa juga yang menghindarimu? Aku tidak pernah merasa melakukan itu," sahut Chloe berkelit. "Tidak. Kau berbeda Chloe. Kau tak seperti Chloe yang aku kenal. Apa semua ini karena pengaruh guru muda itu?" "Tidak. Tidak-tidak. Dia tidak salah sama sekali kok," kata Chloe cepat. "Benarkah? Lalu kenapa dia diizinkan ke taman samping bersamamu sedangkan aku tidak?!" tanya Damian dengan nada semakin meninggi. Chloe pun terkejut mendapat bentakan dari Damian. Sebab, selama ini Damian tidak pernah sekadar itu padanya. "Kau ini kenapa sih? Kenapa harus semarah itu? Aku saja tidak pernah marah saat kau bersama wanita lain. Bahkan, kau sampai mengencaninya. Tapi, kenapa kau langsung repot-repot dengan urusan pribadiku!" timpal Chloe dengan nada yang tidak mau kalah. Damian hanya terdiam. Namun, dadanya naik turun tidak beraturan. Wajahnya yang selalu terlihat penuh pesona pun kini tampak masam dan penuh aura negatif. Sehingga membuat Chloe sedikit ketakutan. "Sudahlah. Jangan ganggu hidupku lagi. Pikirkan saja wanita yang kau putuskan tanpa basa-basi itu," tambah Chloe dengan menundukkan pandangannya. Setelah mengucapkan hal itu. Chloe bergegas berlalu dari tempat itu. Meninggalkan Damian sendirian dalam kebingungannya. . "Hei!" sapa Adam sambil menyentuh pundak putri semata wayangnya. Chloe tersentak. Lamunannya pun mendadak buyar. "Apa ada masalah?" tanya Adam dengan nada penuh perhatian. Chloe pun segera menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Tidak. Tidak Dad. Aku baik-baik saja," timpal Chloe setelah sadar dari lamunannya. "Ayo, Sharon. Kita berangkat sekarang!" tambah Chloe sambil turun dari bangkunya. "Kau tidak salah? Makananmu kan belum habis?" protes Adam. "Aku sudah kenyang. Bye, Dad. Sampai nanti," jawab Chloe sambil bergegas menuju pintu. Adam mengangkat tangannya untuk membalas lambaian tangan Chloe. Lalu setelah Chloe menghilang, kening Adam pun seketika berkerut. "Ada apa dengan mereka? Apa ada masalah?" gumam Adam bingung. Di luar rumah Chloe dan Sharon langsung berlari kecil mengitari kompleks. Wajah mereka berdua terlihat begitu bahagia. Sama bahagianya dengan beberapa orang yang sempat mereka temui di jalan. Chloe memperlambat larinya saat menatap seorang wanita setengah baya yang terlihat tengah memeluk anjingnya dengan penuh kasih sayang. Chloe yang belum terlalu sadar dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Hanya melewati mereka begitu saja. Di tempat berikutnya seorang anak perempuan berusia lima tahunan sedang asyik bermain dengan anjingnya. Senyum bahagia pun terpancar tak hanya dari si anak dan anjing, tapi juga orang tua anak itu yang berdiri tak jauh dari tempat mereka bermain. Chloe hanya tersenyum sekilas sambil melanjutkan lariannya. Hingga akhirnya ketika Chloe berpapasan dengan seorang pria dengan anjing ras Doberman Pinscher yang berlarian kecil mendampingi langkahnya. Chloe yang merasa ada sesuatu yang aneh pun menghentikan langkahnya seketika. Ia menatap ke sekitar. Menyapukan pandangannya ke sekitar. Tampak anjing-anjing yang dulu menghilang kini sudah kembali pada pemilik mereka masing-masing. "Sharon. Apa kau memikirkan apa yang aku pikirkan?" tanya Chloe tanpa melepas pandangannya dari anjing-anjing yang terlihat bahagia bersama para pemiliknya. "Guk!" Sharon menjawab dengan suaranya sebagai anjing. Tentu saja ia tidak ingin ada orang lain yang tau tentang apa yang sudah terjadi padanya. "Chloe!" panggil seseorang dari belakang gadis delapan belas tahun itu. Chloe pun menoleh. "Nyonya Grace. Hei, kakimu sudah sembuh?" ujar Chloe pada wanita yang sempat ditemuinya sedang memakai kursi roda itu. "Hei, Steve," sapa Chloe juga pada suami Grace yang tidak bisa melihat itu. Steve hanya tersenyum sambil mengangkat tangan kanannya untuk menyapa. "Iya. Aku sembuh beberapa hari setelah pertemuan kita," jawab Grace dengan senyum yang terus mengembang. Perhatian Chloe langsung tertuju pada anjing yang kini berada di pelukan Grace. Anjing jenis Samoyed putih dengan bulu panjang yang sangat halus. "Lihat! Mereka mengembalikan anjing kita. Aku sangat bahagia akhirnya bisa bertemu Miss You kembali," kata Grace sambil mengelus bulu anjing itu dengan lembut. "Oh, iya. Benar," balas Chloe pura-pura tidak tahu apa-apa. "Ehms…. Kalau aku boleh tau. Kapan Miss You kembali?" tanya Chloe pelan. "Aku juga tidak tau pasti. Hanya saja saat tadi pagi aku dan Steve keluar rumah. Dia sudah ada di depan pintu." Kala Chloe dan Grace sedang berbincang. Sharon terus memperhatikan wajah anjing itu. Bahkan, ia berusaha mengontaknya dalam hati. Namun, anjing itu tak merespon Sharon sama sekali. Seakan dia menolak berhubungan dengan Sharon meskipun hanya dalam hati. Tatapan mata anjing itu pun seakan tidak menentu. Di fokus pada sesuatu. 'Seperti badannya saja yang ada disini, tapi pikirannya ada di tempat lain. Apa yang dilakukan oleh Pho setelah mereka diberi makan ya?' batin Sharon penasaran. "Ya, sudah Chloe. Kita pergi dulu," pamit Grace. "Kalau ada waktu. Jangan lupa mampir," pesan Steve. Chloe pun tersenyum ramah mendengarnya. "Dan jangan lupa ! Ajak pacarmu juga," tambah Steve yang langsung membuat senyum Chloe memudar. "Ba… baiklah," balas Chloe dengan nada tak bersemangat. "Bye, Chloe. See you next time," kata Grace seraya berjalan menjauh. "See you next time," sahut Chloe. Huft. Chloe menghembuskan nafas beratnya. Sejak berantem di bawah tangga kemarin, Damian memang tidak pernah menghubungi Chloe. Apalagi sampai datang ke rumah untuk mengajak olahraga bersama. "Chloe," panggil seseorang laki-laki dengan suara yang sangat khas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD