Bab. 20 Ketemu Mister Albern

1622 Words
"Chloe," panggil seseorang laki-laki dengan suara yang sangat khas. Chloe pun menoleh. Lalu bibirnya tersenyum melihat sosok Albern berjalan ke arahnya. "Mister. Wow. Anda tak terlihat seperti seorang guru ya. Pasti orang-orang akan mengira anda masih sekolah," ujar Chloe dengan nada memuji. Matanya pun terus menatap sosok guru Biochemistry barunya yang terlihat sangat santai dengan setelan sport. Kacamatanya pun ia lepas sehingga wajahnya tampak begitu tampan. "Hahaha. Kamu ada-ada saja, Chloe. Kamu lagi jogging?" tanya Albern. "Iya," balas Chloe sambil menganggukkan cepat. "Kalau begitu bagaimana jika kita jogging bersama sampai taman kota? Gimana?" ajaknya. "Oke. Tidak masalah." "Ya, sudah. Ayo!" Chloe, Albern dan Sharon pun berlari santai beriringan menuju taman kota. Dari awal bertemu Albern. Senyum Chloe terus menerus mengembang. Rasanya ia begitu bahagia sampai-sampai ia tidak menyadari jika ada sepasang mata yang terus mengawasinya sejak ia keluar rumah tadi. "Heh. Setelah kau menemukan yang teman baru. Apa harus melupakan aku?" gumam Damian dengan pandangan yang terus menatap ke arah Chloe dan Albern pergi. Waktu pun semakin berlalu. Setelah memutari taman sebanyak dua kali. Chloe dan Sharon beristirahat di salah satu bangku taman. Sedangkan Albern baru datang dengan membawa dua botol air mineral yang baru saja dibelinya. "Ini minum dulu," kata Albern sambil menyerahkan salah satu botol kepada Chloe. "Thank you," timpal Chloe singkat. Sambil meraih botol itu. "Okay. You're welcome." Albern membalas sambil duduk di samping Chloe. Mereka berdua membuka tutup botol, menenggak isinya hingga tersisa setengah. Albern menutup botol itu lagi, sedangkan Chloe memberikan sisa airnya pada Sharon. "Chloe. Kau merasa ada yang aneh tidak?" tanya Albern tiba-tiba. "Aneh? Apanya yang aneh?" tanya Chloe balik. "Coba deh kamu pikir. Beberapa saat yang lalu mendadak anjing-anjing menghilang. Populasi mereka tersisa sangat kecil di dunia. Hingga dinyatakan hampir punah. Sementara, para petugas yang mencari anjing yang hilang. Tidak menemukan jejak mereka sama sekali. Seakan mereka ditelan bumi. Tapi, kenapa disaat publik mulai tenang dan menerima kenyataan. Tiba-tiba mereka kembali. Seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya," kata Albern panjang lebar. Chloe tidak langsung menjawab. Ia malah melirik ke arah Sharon yang sedang menatapnya juga. "Ehms…. Aku juga merasakan hal yang sama sih. Apalagi saat itu aku juga benar-benar tidak percayai ucapan Tim Gabungan yang menyatakan bahwa anjing-anjing itu sudah mati akibat kejahatan sekelompok mafia. Perasaanku selalu berkata mereka masih hidup. Tapi, heh…." Chloe menghentikan ceritanya sambil tersenyum meremehkan. "Tapi, aku malah dianggap gila dan tidak ada yang mau percaya," tambah Chloe dengan nada tidak bersemangat. Pandangannya pun menunduk dalam-dalam. Mengingat kejadian menjengkelkan beberapa bulan yang lalu. "Apa yang membuat kamu sangat percaya anjing kamu masih hidup?" tanya Albern mulai penasaran. Sebelum menjawab Chloe menghela nafas panjang. Lalu ia juga mengelus ujung kepala Sharon yang duduk di samping kakinya. "Aku dan Sharon bersama sejak aku berumur lima tahun. Dia adalah hadiah terakhir Mommy sebelum ia mati karena kecelakaan. Kita selalu bersama, tidur bersama, makan bersama, bermain bersama dan juga melewati banyak hal bersama-sama. Sharonlah yang paling mengerti aku. Begitu pula sebaliknya. Kami saling mengerti, saling percaya dan saling membantu. Tak hanya satu hati, kami juga satu jiwa. Apapun yang terjadi padaku pasti dia tau dan apapun yang terjadi padanya aku juga pasti tau. Dan saat itu feelingku benar-benar mengatakan dia masih hidup di suatu tempat. Dan ternyata benar kan? Mereka akhirnya pulang dengan selamat," cerita Chloe dengan pandangan yang menerawang jauh entah kemana. "Apa Sharon juga baru pulang pagi tadi?" tanya Albern pelan. Chloe kembali menoleh ke arah Sharon. Seakan meminta izin untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, Sharon menggelengkan kepalanya perlahan. "Oh…. Ehms…. Iy… iya," jawab Chloe terbata. "Begitu ya. Apa benar dia datang tepat di tempat saat ia menghilang?" tanya Albern penuh selidik. Lagi-lagi Chloe melirik Sharon sesaat. "Kamu tau darimana?" "Beberapa orang yang aku temui mengatakan hal yang sama. Dan berdasarkan pernyataan ini. Aku jadi semakin penasaran dengan kasus anjing hilang itu. Menurutku, ini bukanlah kasus kejahatan mafia, tapi lebih pada kejahatan biologis. Aku berpikir ada sebuah kelompok yang punya rencana tertentu untuk tujuan tertentu dengan memanfaatkan para anjing ini. Karena mau bagaimanapun anjing itu hewan yang dekat dan setia dengan para pemiliknya," ungkap Albern mengemukakan isi kepalanya. Chloe pun berpikir sejenak. "Ehms…. Mister. Maaf sebelumnya, tapi apa boleh aku mengantar Sharon pipis di kamar mandi umum dulu," kata Chloe. Sharon yang sedari tadi tiduran di samping kaki Chloe pun langsung membulatkan matanya. Saat mendengar namanya disebut-sebut. "Oh, ya. Tentu saja. Silahkan." "Terima kasih." Chloe segera membopong tubuh Sharon. Lalu membawanya ke arah toilet umum. Chloe segera masuk ke dalam toilet wanita. Kemudian masuk ke dalam salah satu bilik. Tak lupa ia mengunci pintu rapat-rapat dan membuka shower dengan sekencang-kencangnya. Untuk meredam pembicaraannya dengan Sharon. Sedangkan mereka berdua malah nangkring di atas toilet duduk yang masih tertutup. "Chloe. Apa-apaan ini? Kenapa kau bilang aku harus pipis. Padahal, kau tau sendiri aku selalu tidur siang jam segini. Selain itu, kenapa kita harus masuk ke dalam toilet wanita. Aku kan laki-laki?" protes Sharon. "Hussst…. Ini bukan saatnya untuk berdebat. Harusnya kau pikir sendiri kenapa aku lakukan ini," kata Chloe dengan nada penuh penekanan. "Iya-iya. Baiklah manusia. Apa yang ingin kau katakan? Bicaralah!" "Kita harus menceritakan semuanya pada Mister Albern." "Menceritakan apa?" "Tentang Pho, tentang Bangsa Fab dan tentang rencana dia membalas dendam pada manusia. Bukannya kau yang bilang jika peradaban manusia dalam keadaan terancam. Apakah kau hanya kan menonton sampai semua rencana Pho berhasil dan aku mati dari dunia ini?" "Chloe. Jangan bicara kematian. Aku sungguh tak ingin mendengarnya." "Maka dari itu. Kita harus cepat mengatur strategi. Sebelum semuanya terlambat. Dan kita butuh bantuan orang yang lebih ahli. Kita tidak mungkin meminta bantuan Profesor terkenal untuk membantu memecahkan misi ini. Karena selain dia tidak akan percaya, aku juga tidak punya cukup uang untuk membayarnya. Sementara Mister Albern. Dia adalah guru Biochemistry. Dia tau banyak hal tentang anatomi tubuh hewan ataupun manusia. Selain itu, dia juga punya laboratorium pribadi karena keluarganya yang kaya raya. Jadi, dia adalah orang yang paling tepat untuk membantu kita memecahkan misteri ini. Selain kita harus tau bagaimana cara mengatasi kejahatan Pho. Kita juga harus tau kenapa Pho sampai dendam dengan umat manusia. Iya, kan?" Chloe berkata sampai berbusa. Sharon terlihat masih berpikir keras. Ia sangat menimbang-nimbang tentang hal ini. Sebab, salah-salah dia bicara tentang keadaannya sekarang. Bisa jadi, dia malah jadi korban penelitian. 'Ulah bangsa Fab kemarin saja sukses membuatku sedikit trauma, apalagi ulah pada peneliti manusia yang memiliki isi otak diluar batas. Bisa-bisanya badanku dijadikan rica-rica penelitian mereka,' batin Sharon. "Bagaimana Sharon? Ayolah. Kita tidak punya banyak waktu lagi," bujuk Chloe. Belum sempat Sharon menjawab pintu kamar mandi mereka diketuk dari luar. Tok. Tok. Tok. "Siapapun yang ada di dalam cepetan keluar! Kalau mau berendam! Mandi saja di rumah! Jangan di toilet umum! Aku juga mau pakai toilet ini, tau!" teriak seseorang dari luar toilet. "Cepat Sharon! Putuskan!" bentak Chloe cepat. Tok. Tok. Tok. Ketuk orang yang ada di luar toilet dengan lebih kencang. "CEPAT!!! CEPAT KELUAR!!! AKU SUDAH TIDAK TAHAN NIH!!!" Teriakan orang itu pun semakin keras terdengar. "Baiklah. Baiklah. Kita minta bantuan guru mudamu itu sekarang!" ujar Sharon akhirnya. "Yes! Terima kasih, Sharon," sorak Chloe senang. Chloe segera memutar keran shower hingga mematikan kucuran air yang terus keluar. Kemudian setelah air di lantai surut, ia membopong Sharon turun dari atas toilet itu. Krek! Krek! Tak lupa Chloe membuka kunci pintu itu agar ia bisa segera keluar. Saat pintu dibuka tampak sosok Alice sedang berdiri tepat di depan pintu dengan kedua tangan yang ia lipat di depan d**a. "Oh…. Kamu lagi? Pantas saja aku merasa s**l sekarang. Ternyata memang kamu penyebabnya!" kata Alice dengan nada yang semakin meninggi. "Maaf Alice. Aku tidak punya waktu untuk menanggapi perbuatan kasarmu. Aku harus pergi sekarang." Di saat Chloe melewati Alice, tiba-tiba tangan gadis itu ditahan. "Tidak semudah itu, Chloe," balas Alice. Ia pun segera menarik lengan Chloe kembali masuk ke dalam. Sedangkan Sharon dibuang kedua teman Alice di luar toilet. "Alice. Apa-apaan ini?! Ini bukan di sekolah. Jadi, tak bisakah kau bersikap sedikit baik padaku?" Chloe berucap dengan nada memelas. "Hahaha. Benar. Benar sekali. Ini memanglah bukan di area sekolah. Tapi, gara-gara kau. Aku harus mengantri di depan toilet sampai beberapa saat. Apa kau pikir itu hal yang mengasyikkan, hah? Itu adalah penghinaan. Karena aku tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya. Kau ataupun semua orang disini harus mengalah padaku. Tapi sayangnya, kau malah lebih memilih membuatku menunggu di luar seperti orang bodoh. Jadi, bukan salahku jika aku semakin membencimu!" Plak! Plak! Plak! Alice menampar pipi Chloe kanan dan kiri secara bergantian. Sampai-sampai kedua sisi wajah Chloe terlihat memerah. "Guk! Guk! Guk!" Di luar Sharo terus menggonggong sehingga membuat orang-orang berdatangan. "Rasakan ini! Rasakan ini! Hahahaha!" bentak Alice sambil mengguyur badan Chloe dengan shower yang dibuka dengan kekuatan maksimal. Tak sekali dua kali ia juga mengucurkan air itu tepat di wajah Chloe sehingga gadis itu gelagapan. "Am… ampun, Lice. Ampun," rengek Chloe yang tidak didengar oleh Alice. "Guk! Guk! Guk!" Sharon terus menggonggong dan orang-orang semakin banyak berdatangan. Salah satunya Albern yang merasa aneh dengan kepergian Chloe yang tidak kunjung datang. "Sharon?!!" teriak Albern sambil berlari mendekati anjing itu. "Mana Chloe?" tanya Albern cepat. "Guk! Guk! Guk!" Sharon menggaruk-garuk pintu toilet yang dimasuki Alice, teman-temannya dan juga Chloe. "Disini," gumam Albern. "Chloe!!!! Buka Chloe!!! Buka!!!" teriak Albern. Tok. Tok. Tok. Tok. Tok. Tok. Tak hanya Albern orang-orang yang cemas dengan keadaan Chloe di dalam pun ikutan mengetuk pintu itu dengan sekeras-kerasnya. "Sepertinya di luar banyak orang, Lice?" ujar Joanne. Salah satu teman Alice. Tawa Alice pun segera berhenti. Dan tak lama kemudian…. Blak!!!! Albern berhasil mendobrak pintu toilet itu hingga terbuka. "Alice!!" teriak Albern saat melihat Alice sedang mengucurkan air tadi ke arah Chloe. Seketika Alice pun melepas shower itu dari tangannya. Brak!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD