Bab. 21 Memulai Penyelidikan

1133 Words
"Sharon?!!" teriak Albern sambil berlari mendekati anjing itu. "Mana Chloe?" tanya Albern cepat. "Guk! Guk! Guk!" Sharon menggaruk-garuk pintu toilet yang dimasuki Alice, teman-temannya dan juga Chloe. "Disini," gumam Albern. "Chloe!!!! Buka Chloe!!! Buka!!!" teriak Albern. Tok. Tok. Tok. Tok. Tok. Tok. Tak hanya Albern orang-orang yang cemas dengan keadaan Chloe di dalam pun ikutan mengetuk pintu itu dengan sekeras-kerasnya. "Sepertinya di luar banyak orang, Lice?" ujar Joanne. Salah satu teman Alice. Tawa Alice pun segera berhenti. Dan tak lama kemudian…. Blak!!!! Albern berhasil mendobrak pintu toilet itu hingga terbuka. "Alice!!" teriak Albern saat melihat Alice sedang mengucurkan air tadi ke arah Chloe. Seketika Alice pun melepas shower itu dari tangannya. Brak!!! Bunyi benda itu saat terbentur lantai. Semua orang yang ada di tempat itu tercengang melihat tingkah Alice. Siapa yang tidak tau dia. Anak dari salah satu pengusaha kaya raya dan juga terpandang di kota Aberdeen. Bahkan, orang yang hanya sekilas lewat pun pasti akan mengenalinya. Albern berjalan tegap mendekati Alice dan Chloe. Sedangkan kedua teman Alice sudah ngacir sejak pintu berhasil didobrak. Albern langsung meraih tangan Chloe yang sedang digenggam Alice. "Ingat! Kau akan mendapatkan masalah yang besar!" ancam Albern pada Alice yang hanya dapat terdiam dengan wajah yang ketakutan. Albern segera menarik Chloe pergi dari tempat itu. Albern mengajak Chloe dan Sharon mampir ke rumah barunya yang berjarak cukup dekat dari taman kota. Meskipun rumah itu dibilang baru dan hanya dihuni seorang diri oleh Albern. Namun, perabotan rumah itu begitu lengkap. Mulai dari hiasan ruang tamu sampai peralatan dapur semua ada. Makanya, Chloe begitu terpukau saat memandangi batu ukiran yang menghiasi kamar Albern. "Wow. Lihat pahatan kayu ini. Sangat bagus dan berseni," gumam Chloe sambil memandangi ukiran batu alam bermotif ikan mas di bawah laut. Lengkap dengan batu karang dan rumput laut yang turut menghiasi. Tangan Chloe pun tak kuasa untuk tidak memegang benda itu. "Eh, bahannya keras banget. Pasti kualitas terbaik," tambah Chloe masih dengan nada yang sama. "Bagaimana tidak keras bahannya kan dari batu," ujar Albern yang ternyata sudah berdiri di belakang Chloe. Chloe pun segera menoleh. Albern pun menyodorkan salah satu cangkir teh hangat ke arah Chloe. Sambil melirik kaos oblongnya yang kini dipakai Chloe. "Thanks," sahut Chloe sambil meraih cangkir itu. "Aku beli hiasan ini saat ada di Indonesia. Tempat yang indah, makanannya enak dan orangnya ramah-ramah." "Indonesia? Seperti pernah dengar?" "Itu salah satu negara kepulauan di Asia. Saat aku di Indonesia, banyak hal-hal di luar nalar yang dipercayai di sana. Hal-hal yang menurut kita tidak mungkin terjadi, tapi benar adanya," kata Albern sambil terus memandangi ukiran batu yang terpasang di ruang keluarga rumahnya itu. Chloe berpaling ke arah Albern. Memandang wajahnya yang terlihat serius. "Apa Mister percaya hal-hal tak masuk akal itu?" tanya Chloe pelan tapi pasti. "Awalnya tidak. Tapi, setelah melihat dengan kedua mata. Mau tidak mau pikiranku jadi tersugesti." "Ehms…. Apa menurutmu jika ternyata makhluk yang menculik para anjing saat itu adalah sekelompok mahkluk aneh yang berniat buruk untuk peradaban manusia?" tanya Chloe pelan. Albern berpikir keras. "Sekelompok mahkluk aneh yang berniat buruk pada manusia?" tanya Albern berusaha mencerna ucapan Chloe. Ekor matanya melirik ke arah Chloe yang langsung mengangguk cepat. "Pastinya dia punya alasan dong. Mengapa dia punya niat buruk pada kita?" "Bener. Dan itu yang perlu kita cari tau jawabannya, Mister." "Maksud kamu apa?" "Jadi, sebenarnya anjingku sudah pulang sejak beberapa hari yang lalu. Setelah dia pulang, dia menceritakan banyak hal padaku. Sebuah kejadian aneh, tapi sedikit mengerikan." "Tunggu-tunggu. Dia menceritakan banyak hal? Memangnya kamu tau pasti apa yang diucapkan sama anjing kamu itu? Okelah. Kalian memang sudah lama bersama, tapi siapa yang tau gonggongannya itu bermaksud menceritakan sesuatu. Bagaimana kalau sebenarnya dia hanya lapar atau kangen karena sudah lama kalian tidak bertemu," ujar Albern. "Benar. Benar sekali ucapan Mister. Tapi, bagaimana jika anjing saya ternyata bisa bicara seperti manusia." "Apa?! Berbicara seperti manusia? Apa kamu sedang bercanda?" tanya Albern sambil menahan senyum gelinya. Chloe tidak menjawab. Ia langsung meraih tangan Albern lalu menariknya keluar dari kamar itu. Sampai di ruang tengah mereka berdua berdiri di depan Sharon yang sedang tidur siang. Chloe pun meminta Albern untuk terdiam dengan menempelkan telunjuknya di bibir mungilnya. Kemudian ia mengendap-endap mendekati Sharon yang masih terlelap. Chloe mendekatkan wajahnya ke telinga Sharon. Lalu…. Huuuuft!!! Chloe meniup telinga Chloe sampai anjing itu terlonjak kaget. "Angin topan!!!" teriak Sharon kaget. Albern pun melongo melihat hal ajaib itu. "Wow. It's so amazing," gumam Albern dengan pandangan yang terus menatap ke arah Sharon. Kemudian ia pun mengangkat badan Sharon dan meletakkan di atas pangkuannya. Albern memeriksa badan Sharon dengan sangat teliti. "Tidak ada jahitan. Tidak ada perubahan struktur anatomi kerongkongan. Semuanya rapi. Kenapa bisa ya?" ujar Albern bingung. "Aku juga tidak tau pasti apa yang terjadi saat itu. Sebab, saat aku membuka mata. Aku sudah bisa mencerna kata-kata Pho pada Profesor dan juga Panglima." "Pho? Siapa Pho?" "Pho itu pemimpin. Dia seperti raja bangsa Fabelion." "Fabelion?" "Iya. Bangsa Fabelion itu adalah sekelompok makhluk yang mirip seperti campuran antara manusia dan anjing. Disana ada empat klan. Pertama klan terendah. Mereka seperti sekumpulan pekerja kasar yang bertugas untuk mengumpulkan bahan-bahan yang aku sendiri tak tahu apa itu. Seperti batu tapi warnanya lebih mirip sendok stainless steel. Badan mereka mirip sekali dengan manusia, tapi pikiran mereka seperti anjing yang tidak berdaya. Kemudian klan kedua adalah klan prajurit. Mereka yang menjaga kami, mematuhi perintah Pho untuk mengurusi kami dan mengatur kami melewati setiap proses yang mereka kehendaki. Tangan dan kaki mereka kekar seperti manusia, tapi badan dan kepala mereka seperti anjing. Klan ketiga adalah klan Prajurit. Dia hanya berisi beberapa anjing yang bertugas untuk menjaga keamanan dan ketertiban seluruh bangsa Fabelion. Termasuk juga para anjing yang diculik saat itu. Badan dia seperti manusia. Tangan dan kakinya juga. Hanya saja kepala mereka masih berbentuk anjing." "Kalau Pho? Dia ada di klan berapa?" tanya Albern dengan tampang serius. Seakan ia bener-bener tertarik dengan cerita Sharon. "Pho ada di klan keempat. Klan tertinggi dan terkuat. Dia juga punya kecerdasan yang hampir setara dengan manusia. Sehingga, dia bisa mengatur Kerajaan Fabelion dengan sebaik-baiknya." "Bagaimana bentuk tubuh Pho?" tanya Chloe ikutan penasaran. "Dia sama seperti klan prajurit, tapi otaknya lebih pintar dan cerdas," jawab Sharon mantap. Albern dan Chloe saling melempar pandang satu sama lain. "Kayaknya kita harus bawa Sharon ke laboratorium pribadi aku deh," celetuk Albern. "Dimana? Apa ada orang lain selain kita berdua?" tanya Chloe cepat. "Tenang saja. Tempatnya ada di belakang rumah ini. Dan hanya ada kita di sana. Bagaimana menurut kalian berdua? Aku jadi penasaran apa yang sebenarnya mereka lakukan pada tubuh anjing kamu ini." "Aku sih tidak masalah. Bagaimana menurut kamu Sharon? Ini kan tubuh kamu. Jadi, kamu yang berhak memutuskan semuanya." "Aku setuju," jawab Sharon mantap. "Oke. Baiklah. Kita ke laboratorium sekarang," ajak Albern. Chloe mengangguk mantap. Lalu mereka bergegas pergi sesuai petunjuk yang Albern arahkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD