Bab. 22 Di Dalam Tubuh Sharon

1300 Words
Rumah Albern benar-benar penuh kemewahan. Tidak hanya untuk urusan bangunan dan perabotan, tapi juga fasilitas yang tersedia di rumah ini. Semua terasa lengkap dan sedikit berlebihan untuk ukuran Albern yang hanya tinggal sendirian. Sambil terus berjalan Chloe memandang takjub berbagai ruang di kanan dan kirinya yang berisi berbagai hiasan dinding yang terbuat dari berbagai negara yang ada di dunia. 'Sepertinya Albern tipe orang yang suka jalan-jalan,' batin Chloe sambil terus berjalan. Saking asyiknya memandangi hiasan-hiasan dinding itu. Chloe tidak sadar, jika Albern dan Sharon sudah berhenti di depan sebuah pintu. Bruk!! Chloe menabrak pintu itu dengan cukup keras. "Aw!" pekiknya sambil memegangi pelipisnya yang terlihat memerah. "Kau tidak apa-apa?" tanya Albern cemas. "Tidak. Aku tidak apa-apa. Hehe. Maaf." "Baik. Kalau begitu ayo, kita lanjutkan!" kata Albern sambil membuka pintu itu dengan sekali tarikan. Chloe pikir itu tempat misterius yang tidak sembarang orang bisa memasukinya. Namun, ternyata itu hanya sebuah dapur mewah yang dilengkapi dengan peralatan masak berkelas dengan kulkas empat pintu dan sebuah mini bar yang melintang bersama kompor listrik yang tertanam di salah satu bagian. Albern berjalan mendekati pintu kulkas empat pintu itu. Chloe dan Sharon yang masih bingung dengan apa yang akan dilakukan Albern. Masih berdiri di tempat ia masuk tadi. Sesekali Chloe dan Sharon saling melempar pandang satu sama lain. Tatapan Chloe pun seakan hendak berkata, 'Apa yang akan dia lakukan?' sementara Sharon segera membalasnya dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali. Seperti ingin menjawab, 'Entahlah. Aku pun tak tahu.' Di saat yang sama Albern sedang mengawasi mereka berdua. Makanya saat Chloe dan Sharon menghadapkan wajahnya ke arah Albern. Laki-laki itu langsung memandang mereka penuh curiga. "Kenapa?" tanya Albern bingung. "Tidak. Tidak ada apa-apa," ujar Chloe cepat. "Jadi, lanjutkan misi kita?" tanya Albern. "Tentu. Itu yang kami tunggu sejak tadi." Albern tersenyum sekilas mendengar ucapan Chloe. "Kalau begitu kalian berdua cepat kemarin," perintah Albern. Chloe da Sharon saling melempar pandang lagi. "Oke. Baik." Chloe berjalan mendekat lalu berdiri di samping Albern. Si guru baru itu kemudian membuka kulkasnya lebar-lebar. Menunjukkan isinya yang dipenuhi oleh bahan-bahan makanan. "Kenapa kita membuka kulkas? Kau bilang kita hendak pergi ke laboratorium pribadimu," tanya Chloe yang sudah tidak tahan lagi untuk bertanya. "Lepas alas kakimu dan masuklah!" Bukannya menjawab Albern malah meminta hal aneh yang membuat kening Chloe berkerut sempurna. "Hah? Maksudmu di dalam sini? Kenapa aku harus masuk ke dalam kulkas? Jangan gila, Mister. Aku masih ingin hidup," ujar Chloe sambil membalikkan badannya untuk segera lari. Namun, belum sempat melangkah tangannya ditahan Albern agar tidak bergerak. Chloe langsung menoleh ke arah si Albern. "Kau tidak percaya denganku?" tanya Albern dengan nada sangat serius. "Oh, bukan. Bukan seperti itu. Hanya saja rasanya aneh masuk ke dalam kulkas bisa-bisa aku akan mati kedinginan." "Percayalah. Tidak akan terjadi keburukan pada kalian. Aku yang akan memastikannya," bujuk Albern dengan nada yang sangat serius. Chloe menatap mata Albern lekat-lekat. Hingga akhirnya kepalanya mengangguk mantap. "Baiklah. Ayo, Sharon!" Chloe pun segera melepas sepatu ket yang melindungi kedua telapak kakinya. Kemudian ia dan Sharon masuk ke dalam kulkas itu. 'Semoga tidak akan terjadi hal buruk pada kami,' batinnya sambil menggosok kedua tangannya dan diusapkan ke kedua lengannya yang mulai terasa kedinginan. Apalagi dia hanya memakai kaos lengan pendek dengan celana sport yang tidak terlalu tebal. Jadi, pantas saja hawa dingin seketika menusuk sampai di sumsum tulang belakangnya. Albern pun berjongkok untuk meraih sepasang sepatu ket milik Chloe. Kemudian disingkirkan ke samping lemari es. Setelah itu ia juga masuk ke dalam kulkas yang sama. Chloe dan Sharon hanya mampu menatap Albern yang sedang menutup pintu itu dari dalam. Chloe mulai merasa aneh dengan kulkas itu. Apalagi sebelum mereka bertiga masuk. Rasanya akan sulit baginya untuk berdiri dengan bebas. Karena saking sempitnya space di dalam ruangan bersuhu rendah itu. Belum sempat mengeluarkan pernyataan seputar kejanggalan yang baru saja ia pikirkan. Tiba-tiba sebuah lampu infrared mendeteksi kuman yang mungkin saja terbawa dari luar. "Kondisi tubuh aman!" ujar sebuah alat yang dipasang di langit-langit tempat itu Setelah mereka bertiga dinyatakan aman dari segala kuman. Mendadak dinding yang ada di depan mereka pun membuka dan menunjukkan sebuah tangga menurun. Chloe langsung menoleh ke arah Albern. Sedangkan lelaki itu hanya menjulurkan tangannya ke depan. Selayaknya seorang pelayan meminta sang putri untuk masuk ke dalam. Karena Chloe sudah merasa semakin penasaran. Ditambah lagi dengan suhu tubuhnya yang semakin kedinginan. Maka tanpa banyak basa-basi Chloe segera masuk ke dalam ruang misterius itu. Mereka bertiga berjalan menapaki anak tangga satu per satu. Chloe pun terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Menatap ruang seluas dua puluh lima meter persegi. Dengan peralatan laboratorium yang lengkap.l dan berkualitas terjamin. Di salah satu dinding ruangan itu. Terdapat sebuah layar datar cukup besar mungkin sebesar meja tenis yang menayangkan video dari semua cctv yang terpasang di rumah ini. Mulai dari bagian depan teras rumahnya sampai dapur yg baru saja mereka lewati. "Wow. Ini benar-benar menakjubkan," puji Chloe dengan mata yang berbinar-binar. "Hahaha. Kau berlebihan, Chloe. Mari ikut aku!" ajak Reino seraya berjalan mendahului Chloe dan Sharon ke sisi ruangan itu yang lain. Chloe dan Sharon yang tidak pun tak bisa mengelak. Karena rasa penasaran mereka pun sudah menguasai pikiran mereka. "Pertama-tama kita akan memeriksa tubuh bagian dalam Sharon. Mari Sharon!" Albern mengangkat badan Sharon. Lalu ia letakkan di atas sebuah tempat tidur yang hanya seukuran satu orang dewasa. Albern pun mengatur posisi Sharon agar seluruh bagian tubuh Sharon bisa tertangkap sinar-X dari alat medis yang biasa digunakan untuk melakukan CT-SCAN. "Maaf. Aku harus mengikat badamu, Sharon." Albern meminta izin pada anjing itu sebelum menarik sabuk khusus yang bisa mengikat tubuh Sharon dengan cukup erat dan nyaris tidak bisa bergerak sama sekali. "Lakukan saja apa yang perlu dilakukan!" balas Sharon pasrah. "Iya. Ini tidak akan lama. Jadi, bertahanlah," ujar Albern. Kemudian ia memencet sebuah tombol pada alat yang berbentuk melingkar di ujung tempat tidur itu. Mendadak tempat tidur Sharon bergeser memasuki alat lingkaran yang lebih mirip seperti terowongan itu. Ketika badan Sharon melewati terowongan itu, tubuhnya akan dipindai secara memutar guna mendapatkan serangkaian citra sinar-X dari berbagai sudut. Hasil pencitraan itu langsung dikirim ke dalam komputer canggih yang menempel dengan alat tadi. Dan seketika gambar penampang tubuh Sharon secara melintang pun muncul di layar komputer itu. "Melihat dari anatomi tubuh Sharon. Seperti tidak terjadi perubahan yang cukup berarti. Masih sama seperti anjing-anjing pada umumnya," kata Albern menyimpulkan. "Dari pembuluh darah, massa otot, organ dalam. Masih tak menunjukkan kejanggalan sedikit pun. Semua obyek masih sama," tambahnya. "Apa benar begitu Mister? Coba perhatikan dengan lebih cermat. Kenapa Sharon bisa berbicara layaknya seorang manusia," desak Chloe yang rasa penasarannya sudah sampai puncak. "Baiklah. Kita akan pertajam pemindaian." Albern memfokuskan sinar-X dari ke otak sampai ke leher. "Tunggu-tunggu. Disini otak Sharon terlihat berubah menjadi lebih gelap. Meskipun tak terlalu signifikan. Ya, hanya sekitar nol koma satu persen." "Kenapa bisa seperti itu, Mister?" "Entahlah. Aku pun belum terlalu mengerti apa yang sebenarnya sudah terjadi," balas Albern tanpa memindahkan pandangannya dari layar komputer itu. "Apa karena saya sedang berpikir, Mister," ucap Sharon tiba-tiba. Chloe dan Albern pun tersentak. "Bisa jadi. Coba, kamu berpikir lebih keras lagi. Apa saja yang bisa kamu pikirkan. Misalnya, tentang balas dendam Pho yang bisa membahayakan nyawa Chloe dan keluarganya," pinta Albern. "Baiklah. Akan kucoba." Sharon memusatkan pikirannya. Membayangkan satu per satu kejadian di Kerajaan Fabelion. Termasuk kata-kata Pho yang tidak sengaja ia dengar. Jika ia ingin membalas dendam dengan manusia dengan menyerang mereka. Pikiran Sharon pun langsung berpindah pada hari-hari bersama Chloe dan Adam sejak ia masih kecil. Sungguh, merekalah keluarga Sharon yang sebenarnya. Mereka sering bermain bersama, makan bersama dan tidur di dalam selimut yang sama saat salju turun menutupi seluruh kota. Sungguh, betapa indahnya saat-saat itu. Namun, tiba-tiba benak Sharon membayangkan dirinya dikendalikan oleh Pho untuk menyakiti Chloe dan Adam. Keduanya terluka parah. Bahkan sampai tergeletak tak bernyawa. Bluk. Bluk. Bluk. Sebuah kejadian besar terjadi. Mata Chloe dan Albern melotot dengan mulut yang menganga lebar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD