"Alice jangan…. Hiks. Aku mohon…. Hiks…. Hiks…." Tak kuasa menahan rasa takutnya air mata Chloe pun mengalir dengan deras. Apalagi saat Alice hendak menuangkan kecoa-kecoa itu di atas kepala Chloe. Gadis rambut pirang yang selalu dikepang dua itu hanya bisa menunduk pasrah. Sambil menutup matanya rapat-rapat.
"Apa kalian sudah tidak punya hati nurani?" ucap seorang laki-laki dengan suara yang menggelegar. Mendengar suara itu pelan-pelan Chloe pun membuka kedua matanya.
"Damian," gumam semua cewek itu, termasuk juga Chloe. Tangan Damian yang kekar pun menahan plastik itu terbuka. Lalu dengan sekali tarikan plastik bening itu sudah berpindah ke tangan Damian.
"Kalian pengen mendapat hukuman lagi di sekolah ini. Mau aku laporkan ke Kepala Sekolah," ujar Damian mengancam. Alice pun memutar bola matanya. Kemudian ia pun pergi dari tempat itu dengan segera. Meninggalkan Chloe dan Damian berdua. Chloe pun menundukkan kepalanya. Selalu saja begitu. Damian datang untuk membantunya lepas dari kejahatan Alice dan teman-temannya.
"Terima kasih," kata Chloe sambil berjalan melewati Damian begitu saja. Belum sempat menjauh Damian pun segera menahan lengan kanan Chloe.
"Tunggu. Kenapa kamu tidak melawan mereka, Chloe? Kalau kamu diam saja seperti itu. Mereka akan semakin sering membully kamu," ujar Damian. Chloe pun semakin menundukkan kepalanya. Dia memang merasa begitu lemah untuk melawan Alice dan teman-temannya.
"Biarlah. Mereka tidak salah. Aku yang salah karena sekolah di tempat mewah seperti ini. Aku baru sadar. Jika tempat ini tidak pantas untukku," balas Chloe terdengar pesimis.
Dulu Chloe masuk sekolah ini memang karena dia mengejar lelaki yang dicintainya. Bukan karena dia benar-benar ingin menimba ilmu di tempat ini. Makanya, saat ia mengetahui orang yang dicintainya itu sudah berpacaran dengan cewek lain yang lebih cantik. Hati Chloe terasa hancur dan seakan tak ada semangat untuk melanjutkan sekolahnya lagi.
Chloe pun menepis genggaman tangan Damian di lengannya sebelum pergi.
"Dia kenapa? Dulu dia tidak seperti itu?" gumam sahabat sejak kecil Chloe itu sambil memandang punggung Chloe menjauh.
******************
Krek. Krek. Krek. Chloe memutar kunci yang sudah berada di dalam lubangnya beberapa kali. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi. Chloe pun segera mendorong pintu kayu itu dengan cukup bertenaga. Baru saja melewati pintu bercat putih, tiba-tiba seekor anjing pun melompat ke arah Chloe.
"Sharon! Kamu pasti sudah menungguku sejak lama ya," ujar Chloe sambil memeluk erat tubuh anjing berjenis Malamut Alaska itu. Seakan mengerti ucapan Chloe, Sharon pun menjilati rahang Chloe sebagai tanda rasa bahagianya sudah bertemu dengan Chloe lagi.
Chloe pun meletakkan Sharon di lantai lalu ia segera berlari ke dalam kamar.
"Come on, Sharon. Kejar aku!" teriak Chloe dengan riang gembira. Sharon pun segera berlari mengikuti arah Chloe berlari. Lalu saat berada di dalam kamar ia pun kembali melompat ke arah Chloe. Dengan sigap Chloe pun berlari keluar kamarnya. "Come on, Sharon. Come on. Hahaha." Chloe pun tertawa riang sambil menghindari Sharon yang terus mengejarnya. Sungguh, semua rasa kesal dan marahnya menghilang begitu saja setiap ia bermain dengan anjing kesayangannya itu.
Chloe berlari ke arah dapur. Lalu ia segera duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan. Sedangkan Sharon duduk anteng di samping kaki Chloe dengan tenang. Chloe meraih apel yang tersaji di atas meja depannya. Di saat yang sama kedua matanya menangkap sepucuk kertas di antara buah-buahan itu. Tangan Chloe pun mengembalikan apel itu lalu mengambil sepucuk surat tadi. Walau belum membacanya, tapi Chloe sudah dapat menebak siapa pengirim surat ini.
"Chloe sayang, hari ini Daddy tidak pulang. Daddy harus pergi keluar kota untuk urusan kerja. Kamu jangan lupa makan ya. Semua bahan sudah tersaji di dalam kulkas. See you tomorrow. Love you, Daddy," gumam Chloe membaca isi surat itu. "Yah, kita ditinggal berdua lagi," ujar Chloe sambil memandang ke arah Sharon. Chloe pun berpikir sejenak. "Mau lanjutkan permainan kita?" tanya Chloe yang langsung disambut dengan gugukan Sharon.
Chloe dan Sharon memang begitu dekat. Bahkan, saking dekatnya. Mereka bisa saling mengerti ucapan satu sama lain. Tak jarang Chloe pun curhat tentang berbagai hal berat yang terjadi dalam kehidupannya. Dan bak seorang sahabat sejati, Sharon pun menjadi selalu menjadi pendengar yang setia.
Bagi Chloe, Sharon tak hanya seekor peliharaan, tapi juga keluarga terdekatnya. Sebab, Sharon adalah hadiah terindah dan terakhir dari Jennifer di ulang tahun Cloe yang kelima. Tahun yang sama dengan kecelakaan yang merenggut nyawa Jennifer. Oleh sebab itu, Sharon sangat penting bagi Chloe. Tiap kali menatap Sharon, Chloe selalu teringat Jennifer yang sangat hangat dan begitu menyayanginya. Sejak kecil Sharon pula yang selalu menjaga Chloe tiap kali Daddynya keluar kota. Lebih lagi, saat Chloe tengah digoda oleh anak-anak tetangga.
Kembali pada Chloe yang berlari ke halaman belakang. Di sana mereka terus berlari kesana-kemari sesuka hati. Lalu Chloe mengambil ranting yang terjatuh dari pohon yang berdiri di pekarangan. Dengan segera Chloe melempar ranting itu jauh-jauh. Tanpa menunggu perintah Sharon berlari untuk mengambil ranting itu. Setelah mendapatkan benda yang dicarinya Sharon segera berlari kembali pada Chloe.
"Good job, Chloe!" teriak Chloe sambil meraih ranting itu dan melemparnya kembali. Dengan sigap Sharon pun berlari ke arah lemparan ranting itu. Lalu membawanya ke arah sang majikan. Chloe meraih ranting itu kemudian mengulangi lagi, lagi dan lagi.
"Hahaha. Come on, Sharon. Bawa rantingnya!" teriak Chloe dengan riang gembira. Mereka berdua pun terus menikmati saat-saat kebersamaan mereka dengan riang gembira.
Tanpa mereka sadari. Amat sangat jauh di seberang sana. Di luar bumi, melewati Bimasakti dan gugusan bintang yang ada di jagat raya dengan jarak jutaan tahun cahaya. Sekumpulan makhluk asing sedang mengamati kebahagiaan Sharon dan Chloe dari sebuah teropong waktu yang sangat canggih.
"Bagaimana, Tuan. Apa perlu kita lancarkan rencana kita sekarang?" tanya makhluk berpakaian zirah atau baju terbuat dari logam yang biasanya dipakai oleh panglima perang kerajaan, pada makhluk berjubah emas dengan mahkota berbentuk tatanan tulang yang melingkar.
"Tunggu sampai waktunya tepat," jawab mahluk yang dianggap sebagai pemimpin koloni mereka itu.
**********************
Keesokan paginya Chloe sibuk menata barang-barang yang akan dibawa ke kemah sekolah. Seperti yang dikatakan guru Mr. Reymond kemarin. Dia tidak boleh ketinggalan satu benda pun dari daftar benda yang harus dibawa dalam perkemahan.
Di lantai samping meja belajar Chloe, Sharon duduk termenung sambil terus memperhatikan sikap pemiliknya yang terlihat sibuk kesana-kemari.
"Nah, sudah. Ini sudah. Itu sudah. Kurang apa lagi ya." Chloe pun hanya mampu bergumam sambil memperhatikan daftar yang ada di catatan kecilnya. Lalu mencocokkan dengan benda-benda yang sudah masuk ke dalam tas ranselnya. "Oh, iya. Kartu pengenal aku masih ada di dalam tas sekolah," lanjut Chloe. Lalu ia segera beranjak dari duduknya dan melangkah ke sudut ruangan yang lain. Segera Chloe pun meraih tas sekolahnya. Lalu mengorek isi tasnya.
Sedangkan Sharon langsung mengikuti langkah kakinya. Anjing kesayangan Chloe itu kan duduk di samping kaki pemiliknya. Seakan tak mau berpisah. Tak lama kemudian Chloe pun menemukan benda pipih bersampul plastik yang dicarinya sejak tadi. "Ketemu," sorak Chloe. Lalu menunjukkannya pada Sharon dengan wajah yang terlihat riang gembira. "Kalau gitu. Aku mandi dulu ya. Setelah itu kita sarapan," ujar Chloe sebelum meninggalkan Sharon sendirian di dalam kamarnya.
Lima belas menit kemudian Chloe pun sudah selesai mandi. Ia pun segera memakai baju yang sudah disiapkan sejak kemarin. Chloe menatap pantulan tubuhnya yang terbentuk di cermin depannya. Dengan memakai kaos pendek berwarna hijau tosca dan ditutupi jaket hitam, dipadukan dengan celana panjang berwarna krem yang berujung ketat. Sedangkan rambutnya hanya dikepang dua seperti biasa. Tak lupa kacamata tebal bertengger di atas hidungnya yang sedikit mancung.
"Perfect," gumam Chloe sambil tersenyum manis. "Sekarang saatnya kita sarapan, yuk!" ajak Chloe pada Sharon sambil meraih tas ransel, topi goni dan juga kartu tanda pengenalnya. Chloe pun segera berjalan keluar kamar, begitu pula dengan Sharon yang terus mengikuti langkahnya.
Kemudian mereka pun segera menuju ruang makan. Chloe pun menyambar makanan anjing yang tersimpan di salah satu laci lemari. Lalu ia segera menuangkannya di tempat makan Sharon. Tak lupa Chloe pun menuangkan s**u khusus anjing ke tempat minum Sharon.
"Selamat makan, Sharon," ujar Chloe sambil mengacak bulu kepala anjing kesayangannya itu. Sharon pun segera melahapnya dengan lahapnya. Sedangkan Chloe segera mengunyah roti di mulutnya dengan sedikit terburu-buru. Sambil terus mengunyah, mata Chloe pun melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Aduh. Aku telat," pekiknya kaget. Chloe pun mengambil gelas yang berisi s**u hangatnya lalu meneguknya beberapa kali. "Aku berangkat, ya," pamit Chloe pada Sharon. Lalu ia pun mengecup ujung kepala Sharon sebagai tanda perpisahan. Walaupun berat meninggalkan Sharon sendirian di rumahnya, tapi Chloe yakin jika sebentar lagi Daddynya akan pulang. Jadi, Sharon tidak akan kesepian. Chloe pun menyambar tas ranselnya, menggunakan sepatunya lalu berlari keluar rumah. Saking terburunya Chloe pun tak sadar jika tanda pengenalnya terjatuh tepat di depan Sharon.
Tin. Tin. Tin. Benar saja mobil bus sekolahannya sudah menunggu di depan g**g rumahnya. Chloe pun berlari ke arah mobil itu.
"Ayo, cepat Chloe! Kita dikejar waktu," ujar Mr. Alfred, seorang Dewan Kepanduan yang akan mengarahkan acara kemping tadi pagi. Chloe pun semakin mempercepat lariannya.
"Guk. Guk. Guk." Di belakang Sharon pun berlari ke arah yang sama dengan Chloe. Namun, saat Sharon sampai di ujung jalan rumahnya. Bus yang ditumpangi Chloe sudah tidak ada lagi. Sharon menatap ke sisi kanan dan pandangannya pun menangkap bus sekolah Chloe berada puluhan meter di depan sana. Tanpa membuang waktu lagi Sharon menggerakkan kakinya secepat kilat mengejar bus yang dinaiki Chloe pergi.
Sharon terus menggerakkan keempat kakinya secepat yang ia bisa. Ia semakin mempercepat langkahnya agar tidak kehilangan jejak bus sekolah itu. Dengan mulut yang menggigit tanda pengenal Chloe. Ia terus mengonggong sekuat yang ia bisa.
"Guk. Guk. Guk. Guk. Guk."
Sementara di dalam mobil bus. Semua anak-anak satu kelas Chloe tengah bernyanyi sambil menikmati pemandangan alam di sekitarnya. Sebab, kini bus yang mereka tumpangi di kelilingi oleh pohon-pohon tinggi yang berjajar di sepanjang jalan. Tak ada lagi bangunan dari batu granit yang berwarna abu-abu. Semua tampak hijau dan segar. Sehingga membuat semua anak-anak di dalam kendaraan bermuatan puluhan orang itu bersenang-senang. Tak terkecuali dengan Chloe. Ia yang duduk di deretan bangku paling belakang. Ikutan nyanyi-nyanyi bersama beberapa Dewan Kepanduan yang mengawal kegiatan diluar sekolah itu. Chloe sungguh tak menyadari jika jauh di belakang bus itu anjing kesayangannya berlari mengejar bus sekolah itu.
Di depan sana sang sopir bus ikutan bernyanyi dengan riang gembira sambil terus mengemudikan mobilnya. Tak sengaja pun membuang pandangannya ke arah luar. Tak sengaja matanya menangkap seekor anjing yang sedang mengejar busnya lewat spion yang ada di samping kaca jendela bus itu.
"Ada anjing yang mengejar mobil kita," ujar si sopir sambil memperlambat laju mobilnya.
"Mana?" tanya Mr. Alfred yang duduk di samping jok sopir. Ia pun memperhatikan kaca spion di sampingnya sebentar. Sekilas ia pun melihat apa yang dikatakan Pak Sopir tadi. "Oh, iya. Benar. Tolong tenang semuanya. Tenang!" perintah Mr. Alfred dengan nada yang cukup kencang. Semua anak-anak pun serentak terdiam. "Di belakang sana ada anjing yang mengejar kita. Apa mungkin salah satu diantara kalian ada yang mengenali anjing itu. Karena tidak mungkin itu anjing liar," kata Mr. Alfred yang langsung membuat semua anak-anak berdiri lalu menengok ke belakang.
"Oh, iya. Itu anjing siapa ya? Milik siapa ya? Aneh ya? Ngejar kita terus," kata para siswa saling sahut-sahutan. Chloe yang duduk di bangku paling belakang pun akhirnya menoleh. Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat Sharon tengah berlari mengejar mobil itu.
"Sharon," gumam Chloe. "Mister. Tunggu, Mister. Itu anjing saya!" teriak Chloe pada Mr. Alfred.
"Oh, jadi itu anjing kamu. Ingat ya suruh dia pulang! Kita mau berkemah jadi tidak mungkin kamu akan membawa anjing di acara kita ini," pesan Mr. Alfred.
"Baik, Mister," sahut Chloe lalu ia pun berjalan ke depan sambil melewati teman-temannya yang mulai mengejeknya.
"Pantas saja anjingnya aneh. Pemiliknya saja aneh. Huh. Malu-maluin saja deh," kata Alice dengan nada menghina. Chloe pun tak membalas. Ia langsung turun setelah bus berhenti.
"Sharon!!!" teriak Chloe penuh amarah. Sharon pun langsung menghentikan lariannya. "Kenapa kamu mengikuti mobil ini. Cepat pulang!!! Jangan mempermalukan aku di depan teman-temanku!!!" lanjut Chloe masih dengan nada yang berteriak cukup kencang. Sharon pun berjalan pelan ke arah Chloe lagi dengan sedikit ketakutan. "Sharon!!! Pergi!!!" Chloe pun melempar sebuah batu ke arah Sharon. Sampai anjing itu terlonjak kaget. Tak pernah ia melihat Chloe semarah itu sebelumnya. Lalu Sharon pun meletakkan kartu tanda pengenal Chloe yang ada di mulutnya. Kemudian, Sharon pun segera pergi dari tempat itu.
Sharon berlari sekencang yang ia bisa. Namun, setelah melewati tikungan kedua. Ia merasa asing. Rasanya itu bukan jalan yang dilaluinya tadi. Semakin berjalan, Sharon pun semakin tersesat.
Sharon menghentikan langkah kakinya sejenak. Matanya yang cukup jeli terus memperhatikan sebuah kabut asap tebal yang seolah-olah bergerak ke arahnya. Hingga Sharon pun sadar jika asap tebal itu benar-benar berjalan ke arahnya. Maka segera ia berlari untuk menyelamatkan diri. Namun sayang, ia tak cukup cepat untuk menghindari kabut yang langsung menghisap tubuhnya itu. Setelah Sharon tersedot kabut itu pun menghilang. Dan suasana kembali normal seakan tidak pernah terjadi apa-apa disana.