Sharon mengerjapkan matanya beberapa kali saat kesadarannya mulai kembali. Mendadak ia terkejut saat melihat wajah anjing lain yang belum tersadar di depannya. Reflek Sharon ingin mengangkat badannya. Sayang seribu sayang, keempat kaki anjing dikunci di keempat sisi tubuhnya. Awalnya ia ingin mengangkat kepalanya untuk memastikan keadaan yang sedang terjadi. Namun, pendengarannya yang tajam menangkap sebuah suara langkah kaki mendekat. Sharon pun segera memejamkan matanya kembali. Agar tidak ada yang curiga.
"Semuanya masih dalam masa pemulihan, Tuan. Mungkin sekitar tiga sampai lima menit lagi. Mereka akan sadar," ujar makhluk aneh itu yang membuat Sharon hampir terkejut saat membuka matanya sedikit. Grek! Tempat tidur Sharon pun sedikit bergoyang akibat gerakan tubuhnya. Hal itu disadari oleh kedua makhluk berbadan separuh manusia, separuh lagi anjing.
Makhluk yang dipanggil Tuan, berbadan dan berkepala anjing tapi kedua tangan dan kakinya persis seperti manusia. Bahkan ekornya yang berbulu lebat terlihat sedikit mengintip dari balik jubah emas di punggungnya. Di tangannya yang berbulu membawa tongkat setinggi badannya dengan bentuk kepala anjing tepat berada di ujung tongkat yang juga berwarna emas itu. Sedangkan di badannya melekat sebuah baju dari bahan tembaga yang terlihat kokoh. Makhluk itu memutar badannya, lalu berjalan mendekati tempat tidur Sharon.
"Ada suara dari tempat tidur ini?" ujarnya dengan telinga yang bergerak beberapa kali. Makhluk berbadan full anjing yang bisa berdiri dengan jas putih ala para dokter yang melekat di badannya pun berjalan mendekat.
"Biar saya periksa," ujarnya sambil merogoh saku jasnya untuk mengambil senter medis. Namun, belum sempat mengeluarkan benda itu. Seekor makhluk lain datang dengan tergopoh-gopoh.
"Tuan Pho," panggil makhluk yang berbadan anjing itu tapi memakai baju zirah khas perang.
"Ada apa Panglima?"
"Semua tugas yang Tuan Pho berikan pada saya sudah selesai dilaksanakan."
"Bagus!" ujar Pho dengan senyum penuh kemenangan. "Professor! Setelah mereka sadar. Langsung masukkan mereka ke dalam kapsul magnetik yang sudah kita persiapkan. Dan pastikan jangan sampai mereka melewatkan satu protokol yang sudah kita susun matang-matang," titah Pho dengan pandangan yang terus menerawang jauh entah kemana.
"Baik, Tuan. Saya pastikan semua akan berjalan lancar," timpal Professor mantap.
"Bagus. Panglima!"
"Siap, Tuan!"
"Ikut aku sekarang!" ajak Pho kemudian berjalan mendahului.
Sharon mendengar percakapan yang berlangsung tepat di depannya itu. Namun, ia berusaha untuk tidak membuka matanya saat ini. 'Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?' batin Sharon dalam hati. Lagi-lagi ia terkejut. 'Ak… aku. Bisa berpikir seperti manusia,' batin Sharon heran.
**********************
Di kehidupan yang lain, Chloe sedang menangisi anjing kesayangannya yang sudah tiga bulan ini tidak kunjung pulang. Ia benar-benar merasa sangat menyesal sudah membentaknya dan mengusir Sharon saat itu. Dengan air mata yang terus menetes ia menyusuri hutan yang berada di sepanjang jalan menuju perkemahan Chloe saat itu. Chloe tak lagi memperdulikan wajahnya yang terlihat sembab dengan mata bengkak yang nyaris tak bisa dibuka akibat terus menangis sejak kepergian Sharon.
"Hiks. Sharon!!! Hiks. Hiks. Hiks. Sharon!!! Kamu dimana?!!! Ayo, pulang!!!! Hiks. Hiks. Hiks." Chloe terus berteriak di sela-sela tangisannya. Tiba-tiba ia pun terjatuh. Karena badannya Nyang sudah sangat lelah.
"Chloe!!!" teriak Adam dan Damian bersamaan. Dengan cemas mereka pun segera berlari mendekati tubuh Chloe yang terkulai lemas di tanah yang kotor.
"Chloe. Bangun! Bangun Chloe!" Keduanya bersahutan untuk menyadarkan gadis itu. Sayangnya, Chloe tidak bergerak sama sekali. Maklum, sudah tiga bulan ia terus menangis sambil mencari keberadaan anjing kesayangannya itu. Bahkan, mereka sudah menyewa tim khusus untuk mencari Sharon. Namun, tetap saja mereka tidak bisa menemukan jejak Sharon sama sekali. Chloe yang merasa sangat terpukul dengan kejadian ini. Kekeh tak mau menghentikan pencarian. Dibantu Adam dan Damian ia sudah menyusuri hutan ini lebih dari tiga kali. Dan tetap saja mereka tak menemukan apa-apa.
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang!" usul Damian sambil berjongkok untuk mengangkat badan Chloe ke dalam pelukannya.
"Kamu benar. Mari cepat! Biar saya bukakan pintu mobilnya," balas Adam. Kemudian ia berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat itu. Hanya saja tempatnya lebih tinggi. Sehingga, Damian sedikit kesusahan membopong tubuh ramping teman sejak kecilnya itu sampai ke jalan raya. 'Bangun Chloe! Bangun! Jangan sampai kamu kenapa-napa. Karena aku sangat khawatir,' batin Damian sesekali ia melirik wajah Chloe yang terlihat memprihatinkan. Sambil terus berjalan cepat mengikuti gerakan kaki Adam.
Lelaki empat puluh tahun itu segera membuka pintu mobilnya. Damian yang berdiri tak jauh segera memasukkan badan Chloe ke dalam mobil itu. Damian pun ikut masuk ke dalam mobil dan menidurkan kepala Chloe di pangkuannya. Dengan panik Adam segera menghidupkan mesin mobilnya. Sambil sesekali melirik kondisi putri semata wayangnya yang tidak berdaya tertidur di jok belakang.
"Bangun, Chloe. Bangun. Daddy hanya punya kamu. Tolong jangan tinggalkan, Daddy," gumam Adam cemas, sambil terus mengemudikan mobilnya. Dengan kecepatan tinggi Adam terus memacu mobilnya menuju Aberdeen Hospital. Senyum Adam pun merekah saat menatap gedung menjulang yang tampak di pelupuk matanya. Ia semakin memacu mobilnya agar segera sampai tujuan. Baru saja memasuki area parkiran tiba-tiba ponsel Damian berdering cukup kencang.
Kring…. Kring…. Kring…. Bunyi benda pipih di kantong celana Damian sambil terus bergetar-getar. Damian pun mengeluarkan benda itu dari dalam sakunya saat Adam meraih tubuh sang anak untuk dibawa masuk ke dalam rumah sakit itu.
"Sorry. Aku harus mengangkat telepon dulu," pamit Damian pada Adam. Lelaki berbadan kekar itu pun menoleh sekilas lalu menganggukkan kepalanya beberapa kali. Sedetik kemudian Adam melanjutkan langkah memasuki gedung di depannya. Meninggalkan Damian yang lebih memilih memepetkan badannya ke samping tembok. Damian segera menerima panggilan dari kekasih hatinya itu.
"Hallo," ujar Damian.
"Damian! Kamu kemana saja akhir-akhir ini. Kenapa sekarang kamu tidak pernah menemuiku lagi," omel seorang wanita dari seberang sana. Damian pun sampai menutup telinga kanannya. Agar suara cempreng wanita itu tidak masuk ke dalam rongga telinganya.
"Sarah. Aku sedang membantu temanku. Kamu tau itu kan?" balas Damian berusaha sabar.
"Membantu? Kenapa harus setiap hari? Memang teman kamu pikir. Kamu tidak punya kesibukan lain."
"Sarah. Temanku sangat membutuhkan bantuan ku sekarang. Jadi, kamu harap mengerti," bujuk Damian.
"Siapa sih teman kamu itu? Apa si cewek culun di sekolah itu ya?" tanya Sarah mulai merasa curiga.
"Sarah! Apa-apaan kamu ini! Bukannya sudah aku bilang jangan meremehkan penampilan orang lain?"
"Berarti benar kan kabar yang sedang beredar di sekolahan. Kalau kamu sebenarnya teman dekat sama cewek culun itu. Dan ternyata sepertinya lebih dari hubungan teman?"
"Maksud kamu apa?"
"Maksudku. Aku ingin kita putus!!"
"Apa?!"
…………………………
Hai, kak. Jumpa lagi di cerita Riezka Karisha. Sebagai seorang penulis, saya kembali mengingatkan kepada kalian semua untuk saling menghargai setiap karya kita ya, kak. Tentunya, kakak-kakak semua punya sebuah karya yang mungkin berbeda bentuknya. Entah itu dalam bentuk lukisan, jahitan, makanan atau apapun itu. Yang pasti, kita tidak mau dong karya kita diatasnamakan orang lain, dijiplak orang lain, apalagi sampai diperjualbelikan orang lain. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Saya memohon kepada semua pembaca sekalian untuk bisa melindungi dan menghargai semua cerita yang pernah kalian baca. Entah cerita saya ataupun cerita penulis lain agar terbebas dari plagiat dan penjual Pdf tak bertanggung jawab.
Memang benar kalian kadang harus membeli koin untuk membuka bab yang ingin dibaca. Namun, saya tekankan disini. Uang yang kalian bayar untuk membeli koin. Hanya mendapat hak membaca bukan membeli cerita. Karena sesungguhnya, cerita di Innovel maupun Dreame sudah dikontrak dengan Stary dan sepenuhnya milik Stary. Jadi, jika kalian melanggar hak cipta kami. Tentunya akan berurusan dengan pihak Stary yang lebih paham hukum.
Selain itu, apakah kalian tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya si penulis yang menjadi sasaran plagiat. Ibaratnya nih, kita punya anak berprestasi. Tapi, diakui orang lain itu anak dia. Kan sakitnya tuh disini? Hehe.
Aku yakin sih kalian semua pembaca bijak dan amanah. Tapi, saling mengingatkan itu penting, kan? Siapa tau kalian pernah baca cerita A disini lalu Nemu lagi disana. Kan nggak afdol tuh.
Ya, sudah sekian pengumuman saya kali ini. Mungkin, kalian akan menemukan hal yang sama di bab-bab selanjutnya. Jadi, kalian bisa abaikan saja ya kak. Karena saya akan selalu mengingatkan hal yang sama. Agar kita bisa selalu sejalan dan sepaham. Terima kasih atas perhatiannya. Jika ada kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebanyak-banyaknya.