Chloe keluar dari kamar mandinya dengan menggunakan celana ketat atas lutut dan kaos lengan pendek yang membentuk tubuh rampingnya. Kemudian ia berjalan tegap menuju lemari pakaian dan mengambil setelan seragam sekolahnya yang sudah rapi di gantungan. Semenjak Mommy-nya meninggal dan Bianca harus berhenti bekerja di rumah ini. Bahkan, ia juga yang mencuci dan menyetrika baju-bajunya sendiri. Chloe memang berlatih untuk menjadi anak mandiri. Ia belajar bagaimana mencuci pakaiannya sendiri, mengurus keperluannya sendiri dan juga menyiapkan makanannya sendiri.
Dulu saat ia masih kecil dan sering dititipkan di keluarga Damian. Mommy Damian, Angelina sering sekali mengajarinya banyak hal. Mulai dari beberes rumah, memasak, mencuci sampai menyetrika dengan rapi. Awalnya Chloe sering teledor saat menyetrika. Kadang pakaiannya sampai bolong, bukannya menjadi rapi malah semakin tak karuan, kadang juga gambar sablonnya sampai meleleh karena terlalu panas. Maklumlah dia masih terlalu kecil untuk melakukan itu semua. Namun, Angelina selalu memberikan pesan dan nasehat agar Chloe bisa mandiri sedari dini. Supaya bisa meringankan beban Daddy-nya yang seorang single parent itu. Dengan penuh kesabaran dan kelembutan Angelina juga mengajari hal-hal itu kepada Chloe. Sehingga sekarang Chloe pun sudah terbiasa dengan itu semua.
Chloe meraih seragamnya itu lalu menggantungnya di depan cermin besar yang berhadapan dengannya. Ia meraih kemeja putih dengan lengan panjang, kemudian segera memakainya. Setelah kemeja itu rapi membungkus tubuhnya yang ramping. Selanjutnya, Chloe meraih rok warna merah tua dengan motif kotak-kotak hitam yang memenuhi bawahan model payung dengan panjang hanya sampai menutupi atas lututnya. Pakaian berikutnya, ia memakai rompi berwarna sama dengan bawahan tadi. Tak lupa, Chloe juga memakai dasi warna merah dengan corak kotak-kotak yang sama. Kemudian untuk melengkapi seragam yang sudah dirancang dengan sungguh-sungguh oleh pihak sekolah. Chloe pun mengenakan jas almamater yang berwarna merah yang sama. Hanya saja jas ini tidak bercorak sama sekali.
Chloe menatap pantulan badannya di cermin besar yang menempel di dinding kamarnya. Ia menghembuskan nafas beratnya setelah merapikan kerahnya yang jauh dari kata kusut. Wajah Chloe mendadak murung membayangkan apa yang akan dilakukan Alice dan kawan-kawannya jika melihat Chloe berada di sekolah hari ini. Belum lagi kalau sampai bertemu Damian. Chloe yakin, Sarah pasti sudah mengatakan banyak hal pada cowok itu sampai-sampai Damian tidak menghubunginya selama dua hari ini. Kemarin ia memang meminta libur dua hari pada Gurunya dengan alasan pemulihan kesehatan setelah tersesat di hutan. Namun, kali ini ia benar-benar harus berangkat ke sekolah. Sebab, ia pun tak punya alasan yang cukup kuat untuk mengambil cuti lagi, apalagi meminta Daddy-nya untuk pindah sekolah. Rasanya amat sangat tidak mungkin dilakukan saat keuangan keluarga Chloe sedang sulit seperti ini.
"Chloe," panggil Sharon yang tiba-tiba muncul di samping Chloe. Chloe pun tersentak. Seketika ia tersadar dari lamunannya.
"Eh, Sharon. Ngagetin saja deh. Ada apa?" tanya Chloe sambil berjongkok di depan Sharon. Senyumannya berusaha ia tampilkan agar Sharon tidak curiga dengan sikapnya hari ini.
"Harusnya aku yang tanya padamu. Ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat tidak bersemangat sejak tadi?" balas Sharon balik bertanya. Chloe yang tau Sharon pasti tidak bisa dibohongi pun segera melunturkan senyum manisnya yang dibuat-buat. Wajahnya kembali murung dengan tatapan mata yang menerawang jauh, entah kemana.
"Aku hanya merasa tidak nyaman sekolah disana, Sharon. Rasanya tempat itu tidak cocok denganku," jawab Chloe jujur.
"Chloe. Bukankah dulu kau sangat ingin masuk ke sekolah itu. Sampai-sampai Adam harus berhutang pada bosnya untuk membayar biaya masuk," timpal Sharon yang membuat Chloe seakan tertampar.
"Benar. Benar juga. Daddy sudah berjuang sangat banyak agar aku bisa masuk ke dalam sekolah elit itu. Tapi, kenapa sekarang aku begitu bodoh untuk menjauhinya. Harusnya aku belajar dengan sungguh-sungguh dan membuat Daddy bangga."
"Benar. Tentu saja hal itu yang harus kau lakukan. Hanya saja, aku jadi penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Apa ada orang yang mengganggumu? Mau aku kasih dia sedikit pelajaran? Iya? Jangan salah, Chloe. Sekarang aku pandai bela diri. Lihat! Kya! Kya! Kya!" Sharon menunjukkan gaya berkelahi ala manusia dengan gerakan meninju dan menendang beberapa kali.
"Hahaha." Melihat hal itu Chloe merasa terhibur sehingga ia pun tertawa lepas. Tak disangka di luar kamar Adam lewat di kamar Chloe setelah ia membuat sarapan. Mendengar suara tawa Chloe yang begitu kencang pun membuat Adam penasaran. Lalu ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar. Tok. Tok. Tok. Adam mengetuk pelan kamar Chloe agar menjaga privasi Chloe. Meskipun mereka tinggal hanya berdua. Tetap saja Chloe dan Adam memiliki privasi masing-masing. Jadi, sejak dulu Adam selalu membiasakan mengetuk pintu kamar Chloe sebelum membukanya. Begitu pula sebaliknya.
"Hahaha." Tawa Chloe semakin keras. Sampai ia tidak mendengar panggilan dari Daddy-nya.
"Chloe," panggil Adam sambil membuka pintu kamar itu. Tiba-tiba Adam pun tersenyum melihat Chloe dan Sharon yang sedang main kejar-kejaran di dalam kamar. Dari wajah Chloe yang terlihat berseri-seri. Adam sangat yakin jika anak gadisnya itu sedang merasa sangat bahagia. Adam pun ikutan tersenyum. Sejak menghilangnya Sharon, itu adalah senyuman pertama yang dilihat Adam lagi. 'Begitu besarnya arti kehadiran Sharon dalam hidup kamu, Chloe. Daddy sangat bersyukur kalian bisa bersama kembali,' kata Adam dalam hati. 'Catherine. Andai kau melihat kebahagiaan mereka saat ini. Kau juga pasti ikut bahagia,' lanjut Adam masih dalam hati. Sesaat ia pun teringat sang istri yang sudah lama tiada. Dulu Catherine pun sangat menyayangi Chloe dengan sepenuh jiwa dan raga. Hal itu pula yang membuat kedua mata Adam mendadak berkaca-kaca. Ketika Adam tenggelam dalam lamunannya, Chloe yang mengetahui Daddy-nya ada di ambang pintu kamarnya pun memanggil.
"Daddy," panggil Chloe yang seketika menyadarkan Adam dari lamunannya. "Daddy sedang apa berdiri di sana?"
"Tadinya Daddy ingin memanggil kamu untuk makan bersama. Tapi, melihat kau sedang bermain dengan Sharon. Daddy jadi lupa. Daddy merasa sangat bahagia melihat kau bisa tertawa lepas seperti itu lagi, Chloe," kata Adam sambil berjalan ke arah putri semata wayangnya itu. Adam pun duduk di samping Chloe yang sedang duduk di pinggiran tempat tidurnya. Ia mengelus rambut Chloe dengan lembut. "Daddy juga sangat bersyukur kamu bisa menemukan Sharon kemarin. Karena dia adalah kebahagiaanmu. Sedangkan kau adalah kebahagiaan Daddy. Jadi, kalian berdua adalah kebahagiaan Daddy," lanjut Adam sambil menoleh ke arah Sharon yang duduk di depan kaki Chloe.
"Daddy juga kebahagiaan Chloe. Juga semangat untuk menjalani hidup Chloe," kata gadis cantik itu lalu memeluk badan sang Daddy. Adam membalas pelukan anaknya dengan segenap perasaannya.
"Jadi, ayo kita makan sekarang! Nanti kau bisa terlambat sampai di sekolah," ucap Adam mengingatkan. Chloe pun melepas pelukannya sambil tersenyum manis. Kemudian ia pun mengangguk mantap sambil menatap mata Daddy-nya. "Oke. Daddy tunggu di bawah ya." Chup! Adam mengecup kening Chloe sebelum ia pergi.
"Oke, Dad. Chloe pasti segera menyusul ke bawah."
Adam tersenyum lalu meninggalkan Chloe sendiri di dalam kamarnya. Tak berselang lama kemudian, Chloe pun melangkahkan kakinya memasuki ruang makan rumahnya.
"Guk! Guk! Guk!" Sharon yang mengikuti langkah Chloe berlari mendahului Chloe.
"Hai, Sharon. Aku tau kau sudah lapar juga kan? Ini dia makanan kesukaanmu. Sudah kusiapkan sejak tadi." Adam meletakkan mangkuk makanan anjing di hadapan Sharon. Tanpa membuang waktu Sharon pun segera melahap isinya dengan lahap. Di saat yang sama Chloe malah celingukan seakan sedang mencari sesuatu.
"Anjing pudel pemberian Daddy mana?" tanya Chloe.
"Ternyata dia terlalu banyak perawatan agar badannya tetap bagus. Jadi, Daddy berikan pada orang yang lebih pandai merawatnya. Sebab, Daddy pun tau kesibukan kamu," jawab Adam sambil menoel ujung hidung Chloe. Adam juga meletakkan piring berisi sandwich kesukaan Chloe di hadapan sang putri tercinta.
"Thank you, Dad."
"Your welcome, dear," timpal Adam dengan senyum manisnya.
Tiiin! Tiiin! Tiiin! Di saat Chloe dan Adam tengah menikmati sarapan mereka. Terdengar suara klakson mobil tepat di hadapan rumah mereka.
"Seperti suara mobil Damian," gumam Chloe sambil mengunyah sandwich di dalam mulutnya. Benar saja tak lama kemudian sosok yang tadi bayangkan Chloe datang.
"Morning everybody!" teriaknya sambil berjalan masuk.
"Damian? Kenapa kau ada disini pagi-pagi begini?" tanya Chloe heran.
"Hehe. Aku udah minta izin pada Daddy agar mengantar dan menjemputmu tiap hari. Mulai hari ini," balasnya sambil nyengir kuda.
"Apa? Tapi, kenapa kau harus repot-repot melakukan itu? Aku masih punya Daddy yang akan mengantarku ke sekolah."
"Ehms…. Chloe. Ada yang perlu Daddy sampaikan kepadamu." Adam menyela dengan nada ragu.
"Apa Daddy? Apa yang mau Daddy katakan padaku?"
"Mulai besok Daddy akan dipindahkan ke cabang restoran yang lebih jauh. Jadi, Daddy harus berangkat lebih pagi dari biasanya. Maka dari itu, Daddy meminta Damian untuk menjagamu selama Daddy tidak bisa melakukannya," jelas Adam yang langsung membuat mata Choe membulat.
"Apa?! Tapi, kenapa Daddy tidak meminta pihak sekolah untuk menjemput dan mengantarku pulang? Itukan lebih simpel daripada harus merepotkan Damian." Chloe berusaha beralasan agar Damian tidak melancarkan ide gilanya. 'Jika Sarah tau aku berangkat dan pulang bersama Damian. Aku yakin dia pasti akan lebih marah padaku,' batin Chloe takut.
"Tidak. Tidak. Tidak. Daddy tidak akan mempercayakan kamu pada orang yang memiliki banyak tugas seperti dia. Jika kamu melakukan hal konyol seperti kemarin. Apa dia akan mencarimu sampai ketemu?" ujar Adam yang membuat Chloe tidak punya pilihan lain selain menggelengkan kepalanya.
"Tidak," jawab Chloe lirih.
"Nah. Untuk itu Damian adalah orang yang paling pas untuk menjagamu."
"Tapi, itu sama saja Daddy merepotkan Damian."
"Siapa bilang? Aku enjoy kok melakukan itu," timpal Damian cepat. "Sudahlah. Jangan sungkan begitu. Kamu pikir aku ini siapa?" kata Damian sambil merangkul pundak Chloe dengan erat. Bahkan, ia juga menggigit sandwich di tangan Chloe. Deg! Sepersekian detik berikutnya jantung Chloe terasa berhenti berdetak. Pipinya seketika bersemu merah merona. Menatap wajah Damian yang kini sangat dekat dengannya. "Kenapa kau memperhatikan wajahku seperti itu? Baru sadar kalau aku tampan." Damian menghadapkan wajahnya tepat di depan wajah Chloe. Sehingga membuat Chloe jadi salah tingkah.
"Apaan sih? Jauhkan wajah jelekmu dari wajahku. Nanti wajahku terkontaminasi," ujar Chloe sambil mendorong wajah Damian menjauh. Ia pun segera meraih tasnya lalu berjalan mendahului Damian. Huft. Damian menghembuskan nafas beratnya sambil mengelus dadanya yang terasa berdebar kencang.
Sementara itu, dari tempat duduknya Damian hanya mampu menatap Chloe dari kejauhan. 'Kenapa sangat sulit meluluhkan hati kamu yang sangat keras itu, Chloe,' batin Damian. Untuk beberapa menit kemudian mereka berdua terdiam di tempat masing-masing. Sehingga membuat Adam mengerutkan keningnya. Bingung.
"Kalian masih belum ingin berangkat ke sekolah?" tanya Adam dengan mulut penuh. Damian dan Chloe pun langsung tersadar.
"Oh, iya. Kita berangkat sekarang. Ayo, Chloe!" ajak Damian sambil berjalan mendahului gadis itu.