Di Kerajaan Fabelion
"Aaaauuuu!!!" Mereka semua mengerang kesakitan. Tak sedikit anjing yang berusaha membuka kuncian tangan dan kakinya. Meskipun hal itu tidak membuahkan hasil sama sekali. Mereka terus merasa kesakitan sampai beberapa saat kemudian satu per satu diantara mereka mulai pingsan. Hanya Sharon yang masih tersadar. Meskipun tenaganya terasa sangat lemah. Bahkan, untuk membuka matanya dengan lebar pun tak bisa. Entah bagaimana bisa menjelaskannya, tapi Sharon merasa badannya kembali normal saat dirinya lebih tenang dan tidak banyak bergerak.
Kreekkk! Bunyi tutup kaca kapsul itu sesudah proses di dalamnya selesai. Secara perlahan semua kapsul itu terbuka dan menampakkan kondisi setiap anjing yang ada di dalam. Mereka semua tepar. Tak berdaya. Melihat hal itu Pho beranjak dari duduknya.
"Sekarang! Kalian semua pindahkan badan-badan mereka di ruang selanjutnya!" titah sang pemimpi.
"Siap! Laksanakan!" jawab para anjing penjaga itu kompak. Lalu tanpa basa-basi mereka Segera melakukan apa yang diinginkan oleh sang penguasa tempat ini. Mereka yang mendekati badan para anjing itu dengan menarik sebuah kursi roda. Kemudian segera memindahkan badan-badan tak punya energi itu ke atas kursi roda. Tak sampai disitu mereka pun langsung mendorong tubuh mereka memasuki ruangan lain di samping kiri.
Ruangan selanjutnya adalah inti dari keberadaan mereka disini. Setelah mereka disekap lalu diproses menjadi generasi baru kelompok mereka. Kini mereka akan dicek isi otak dan besarnya massa otot yang ada di dalam tubuh mereka masing-masing. Satu per satu dari mereka dihadapkan dengan sebuah alat dengan layar berukuran sepuluh inci menempel tepat berhadapan dengan mereka. Kepala anjing-anjing itu juga dipakaikan sebuah helm yang unik. Sebab, diatas helm itu sudah terpasang puluhan kabel yang berhubungan dengan alat di depan mereka.
Di tempat yang lebih tinggi. Pho datang sambil menatap mereka lekat-lekat. Mata Pho yang sangat tajam dapat melihat ekspresi wajah tersiksa mereka satu per satu. Usai sang pemimpi bangsa Fabelion itu duduk di kursi khusus. Kedua tangannya terangkat kemudian bertepuk tangan beberapa kali. Seakan memberi instruksi.
Semua anjing penjaga itu mengangguk. Lalu segera memencet beberapa tombol yang ada di alat itu. Ddrrrrttt!!! Mendadak seluruh tubuh, bahkan dari permukaan kulit terluar sampai di sumsum tulang anjing-anjing itu terasa kesetrum. Seakan ada aliran listrik yang menyengat-nyengat. Sedangkan layar di depan mereka mulai berkedip-kedip. Kemudian memberikan informasi mengenai keadaan seluruh tubuh anjing-anjing itu. Melihat usahanya selama ini telah membuahkan hasil. Pho sontak mengangkat badannya hingga berdiri.
"Hahaha. Akhirnya usahaku tidak sia-sia! Dan dendamku akan segera terbalaskan. Hahahaha," gumam Pho di sela-sela tawanya yang sangat lepas. Ia pun mengepalkan tangannya di udara. 'Dendam apa yang dimaksud Pho?' tanya Sharon dalam hati. Tanpa diketahui Pho, Sharon mendengar ucapannya tadi. "Bawa mereka semua ke portal yang akan membawa mereka kembali ke dunia manusia. Namun, sebelum membiarkan mereka pergi jangan lupa beri makan mereka dengan makanan pengendali pikiran itu. Mengerti?!" tambah Pho dengan nada memerintah.
"Mengerti, Tuan," balas para anjing itu serentak. Pho tak lagi membalasnya, tapi senyum licik sudah mengukir di bibirnya. Di saat yang sama para anjing penjaga tengah melepaskan helm yang terpasang di kepala para anjing malang itu sebelum membawa mereka keluar dari ruangan itu. Sharon membuka matanya sedikit sekali untuk mengintip keadaan yang sedang terjadi. Ternyata mereka kembali dibawa keluar gedung itu. Di lahan gersang yang pernah mereka datangi tempo hari.
Bruk! Bruk! Bruk! Para anjing penjaga melempar tubuh anjing-anjing itu ke atas tanah yang terasa panas. Berjajar sesuai dengan kelompok masing-masing. Sayangnya, anjing-anjing malang itu tidak peduli. Mereka yang masih berada di bawah sadar tidak memprotes sama sekali. Hanya Sharon yang sedikit merintih saat tubuhnya menyentuh tanah yang keras dan panas itu. Sehingga membuat anjing penjaga di sebelahnya sedikit curiga. Namun, saat ia memeriksa Sharon lagi. Dengan pintar Sharon pura-pura mati.
"Ada apa?" tanya anjing penjaga lain.
"Tidak apa-apa. Sepertinya aku salah mendengar sesuatu," balas anjing penjaga yang memeriksa Sharon kemudian berjalan menjauh bersama teman-teman yang lain.
Tak berlangsung lama terdengar suara anjing panglima yang berdiri di atas gunung batu sambil meniup sebuah terompet dengan sangat kencang.
Preeeettt!!!! Preeeettt!!!! Preeeettt!!!!
"Bangun!!!! Semuanya bangun sekarang!!!" perintahnya perlahan anjing-anjing itu terbangun dari tidurnya. Mata mereka mulai membukanya lebar dan badan mereka mulai berdiri tegak. Namun, seperti mereka tidak sadar dengan apa yang sedang mereka lakukan. 'Pandangan mereka kosong? Ada apa dengan mereka semua?' batin Sharon setelah ia melirik ke kanan dan kirinya.
Kreeekkk! Mendadak di depan mereka muncul makanan dan minuman seperti apa yang mereka dapatkan tempo hari. 'Jadi, ini makanan pengendali pikiran yang tadi disebutkan Pho. Sejak awal aku sudah curiga dengan benda ini,' tambah Sharon masih dalam hati. Di saat Sharon sedang memperhatikan sekeliling. Mendadak sebuah portal menuju dunia lain terbuka tepat di dinding batu depan Sharon. Perhatian Sharon pun langsung tertuju ke arah tempat itu. 'Ini pasti portal menuju ke dunia manusia. Aku harus bisa melewatinya diam-diam.'
Sharon memutar otaknya untuk mencari akal. Cling! Sebuah ide brilian muncul di benak Sharon. Pelan-pelan ia mendekati anjing yang terlihat sedang fokus melahap makanan di depannya. Kemudian dengan sengaja Sharon menyenggol badan anjing itu dengan cukup keras. Sehingga, badannya terjerembab dan jatuh di mangkuk anjing lain. Anjing lain itu merasa terganggu. Lalu mereka saling bertengkar. Seperti yang terjadi pada kejadian saat itu. Para anjing saling menyerang satu sama lain. Sehingga, kekacauan itu semakin besar. Para anjing penjaga bergegas menenangkan suasana. Pusat perhatian pun kini pada mereka semua.
'Ini saatnya aku pergi,' ujar Sharon dalam hati. Ia berjalan mengendap-endap mendekati portal. Lalu saat badannya semakin dekat Sharon segera masuk ke dalam portal yang menghubungkan Kerajaan Fabelion dengan dunia manusia.
.
"Seperti itulah ceritanya Chloe," kata Sharon setelah menceritakan kisah yang sudah sudah terjadi sejak awal ia menghilang sampai saat ia kembali menapakkan kakinya di muka bumi.
"Lalu, dimana tempat pertama kali kamu sampai di bumi?" tanya Chloe sambil duduk di samping tempat tidurnya. Berhadapan dengan Sharon yang sedang menceritakan pengalaman anehnya.
"Di tempat aku menghilang saat itu."
"Lalu. Kenapa kau sampai di tempat aku digantung. Padahal, aku aja nggak ingat betul itu dimana."
"Karena kamu yang memanggilku, Chloe."
"Memanggil kamu?" ulang Chloe mengeja. Ia pun berpikir sejenak mengingat-ingat apa yang diucapkannya tadi.
'Sharon! Sharon kamu dimana? Hiks. Hiks. Hiks. Aku takut. Hiks. Hiks. Hiks.'
Chloe teringat pada saat ia merasa sangat ketakutan lalu memanggil Sharon di dalam hatinya.
"Oh, iya aku ingat. Aku memanggil nama kamu saata aku merasa sangat ketakutan. Tapi, aku memanggilmu dari dalam hati. Kenapa kamu bisa mendengarnya?" Chloe yang heran mengerutkan keningnya seketika.
"Mungkin karena ikatan batin kita kuat."
"Hahahaha. Sejak kapan kamu tau ikatan batin."
"Sejak aku tau rasanya jadi manusia. Hahaha."
"Memang bagaimana rasanya jadi manusia? Hahaha."
Canda tawa Chloe dan Sharon pun menggema di dalam kamar Chloe. Hingga membuat Adam yang kebetulan lewat seketika menghentikan langkahnya.
"Chloe sedang bercanda dengan siapa?" tanya Adam penasaran. Kemudian ia pun mendekatkan badannya di pintu Chloe. Tok. Tok. Tok. "Chloe. Daddy boleh masuk?"
"Boleh, Dad."
Cekrek. Adam membuka pintu kamar Chloe dan tidak menemukan siapa-siapa kecuali Sharon dan Chloe yang sedang memegangi ponselnya.
"Ada apa, Dad?"
"Oh, tidak. Tidak apa-apa. Daddy hanya kebetulan lewat dan mendengar kamu belum tidur. Jadi, Daddy hanya ingin mengecek keadaan kamu."
"Chloe juga mau tidur kok Dad."
"Oh, ya sudah. Good night, baby." Cup! Ada mengecup kening Chloe sebelum pergi.
"Good night, Dad," balas Chloe.