Tak berselang lama mobil Damian sampai di depan rumah Chloe. Adam pun turun dari mobil itu dengan tidak bersemangat.
"Damian terima kasih sudah membantu mencari Chloe hari ini," ujar Adam.
"Tidak masalah. Aku pun sangat khawatir dengan hal itu. Semoga saja Chloe segera ketemu."
"Daddy!!" teriak Chloe yang langsung membuat Adam dan Damian menoleh.
"Chloe," ucap Adam dan Damian bersamaan. Matanya menatap lurus ke arah Chloe yang sedang berlari ke arah mereka bersama Sharon.
"Sharon?!" ujar kedua orang itu dengan kompak lagi.
"Guk! Guk! Guk!" Sharon menggonggong sambil berlari ke arah Adam. Saat langkah mereka semakin dekat Sharon pun meloncat ke dalam pelukan Adam.
"Sharon!! Syukurlah kamu masih hidup," ujar Adam sambil mengacak bulu kepala Sharon dengan gemas. Sharon hanya membalas dengan menjulurkan lidah sambil berkedip beberapa kali. "Aku minta maaf padamu, Sharon. Kemarin aku sudah menganggapmu tiada. Maafkan aku yang lebih mendengarkan kata orang lain daripada putriku sendiri," ujar Adam penuh penekanan. Melihat Chloe dan Sharon sudah berada di rumah, Damian pun ikut keluar dari dalam mobilnya.
"Chloe. Kemana saja kau? Asal kau tau ya. Aku dan Daddy-mu sangat mengkhawatirkanmu," kata Damian setelah ia mendekati teman masa kecilnya itu. Chloe hanya tersenyum sekilas. Sungguh, ia tidak ingin menceritakan hal yang sudah terjadi padanya tadi. 'Tidak. Aku tidak akan menceritakan apa yang sudah terjadi hari ini. Kecuali jika aku ingin Damian tau rahasia yang kusimpan sendiri,' ujar Chloe dalam hati. "Chloe. Kau tidak apa-apa, kan? Atau ada yang menjahatimu. Iya? Katakan, Chloe. Biar aku yang memberinya pelajaran," tambah Damian. Seakan ia sudah bisa menebak dari raut wajah Chloe yang seketika berubah murung.
"Hentikan, Damian!" balas Chloe dengan nada tinggi. Hingga membuat Damian dan Adam sedikit terlonjak kaget. "Kenapa kau tidak pernah bilang. Jika kalian sudah putus?!" tanya Chloe dengan nada penuh penekanan, kemudian berlalu.
"Guk!" Sharon yang sedang digendong Adam pun mendadak melompat turun lalu mengejar kepergian Chloe. Sementara, Damian langsung mengerutkan keningnya seketika. Tak mengerti dengan apa yang barusan dikatakan Chloe. Setau Damian, Sarah tidak pernah berbuat jahat pada Chloe sekali ia tidak dekat dengan sahabat karibnya itu.
"Namun, kenapa tiba-tiba Chloe membicarakan hubunganku dengan Sarah? Apa Sarah juga terlibat dengan kejadian menghilangnya Chloe hari ini?" gumam Damian bingung. Tiba-tiba tangan Adam memegang pundak Damian. Sehingga cowok itu membuyarkan lamunannya.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Mungkin sekarang Chloe butuh istirahat. Begitu pula dengan tubuhmu. Jadi, sekarang pulanglah. Istirahat yang cukup. Baru besok kalian bisa berbincang lagi," saran Adam yang segera disambut dengan anggukan oleh Damian.
"Baik. Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat malam," pamit Damian seraya meninggalkan Adam seorang diri di tempatnya berdiri.
"Selamat malam," balas Adam. Ia terus berdiri sambil menatap mobil Damian berlalu. Tak lupa ia mengangkat tangannya sekilas untuk mengantar kepulangan Damian. Setelah mobil itu menghilang dari pandangan. Adam balik badan lalu menyusul Chloe dan Sharon.
Sampai di dalam rumahnya Adam melihat Chloe dan Sharon sedang di dapur. Membuat makanan untuk Sharon yang sudah sangat kelaparan. Sebab, sejak menginjakkan kakinya di Kerajaan Fabelion ia belum menikmati asupan makanan sama sekali. Sharon tau betul ada yang tidak beres dengan makanan yang ada di tempat itu. Meskipun ia tidak tau pasti efek apa yang akan ditimbulkan oleh makanan itu, tapi Sharon yakin semua itu pasti dirancang untuk kepentingan Pho dan merugikan para anjing yang memakannya.
"Sharon. Kau pasti sangat lapar ya. Kalau begitu, makanlah yang banyak. Aku juga akan membuat s**u kesukaanmu," ujar Chloe yang tengah berjongkok di hadapan Sharon yang asyik makan. Sedangkan, anjing baru Chloe hanya memperhatikan mereka berdua dari tempat tidurnya. Adam yang berdiri di ambang pintu menatap kedua makhluk yang saling menyayangi itu dengan senyum yang terus mengembang. Dengan kedua tangan yang terlipat di depan d**a ia menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Chloe," panggil Adam seraya berjalan mendekat. Anak gadis Adam itu pun menoleh. "Apa yang sebenarnya sudah terjadi hari ini? Apa kau mau menceritakannya pada Daddy?" tanya Chloe pelan.
"Apakah Daddy pulang lebih awal untuk mencariku?" balas Chloe balik bertanya. Adam tidak langsung menjawab. Ia malah mengalihkan pandangannya lagi ke arah Sharon yang sedang asyik menikmati makanannya. Shelly, si anjing pudel kini ikutan makan di satu mangkuk yang sama.
"Ya. Tadi siang Damian menghubungi Daddy dengan suara panik. Ia berkata jika kau tidak datang ke sekolah dan tidak di rumah saat dicarinya. Dia sudah berusaha menghubungi ponselmu, tapi tidak ada sahutan. Makanya, Daddy langsung meminta izin untuk pulang lebih awal. Agar bisa mencarimu bersama Damian. Kami sudah mencari dimana-mana. Di semua orang yang pernah kau datangi akhir-akhir ini. Sayangnya, kami tidak menemukanmu sana sekali. Kami sangat bingung. Bahkan, Daddy mulai putus asa. Namun, ternyata Damian belum menyerah. Dia mengajak Daddy untuk datang ke tempat-tempat yang kau datangi saat mencari Sharon. Sayangnya, kami tetap tak menemukanmu. Mungkin juga kamu sudah pergi saat kita sampai di salah satu tempat itu? Karena kamu sudah bertemu Sharon dan memilih untuk pulang," jelas Adam.
"Tidak, Dad. Aku tidak berada di salah satu tempat yang sudah kalian datangi. Aku berada di tempat lain," balas Chloe dengan lirih. Nyaris tak terdengar.
"Apa? Jadi, kemana kamu sebenarnya? Dan bagaimana kamu bisa bertemu Sharon lagi? Apakah kamu menemukan informasi yang tidak diketahui oleh Damian?"
"Daddy stop! Berhenti menyimpulkan semuanya sendiri. Aku mengalami hal yang sangat berat sejak pagi. Lalu saat malam tiba, Sharon datang untuk membantuku," kata Chloe dengan tidak bersemangat. Matanya terus menatap Sharon, sedang bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman khas. Kedua alis Adam saling bertautan.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Chloe? Ceritakanlah padaku!" Adam kembali mendekati anaknya dengan wajah yang sangat khawatir. Lagi-lagi Chloe tidak menjawab. Pikirannya malah kembali mengingat ucapan Sarah dan Alice tadi pagi. Mendadak air matanya berkumpul lalu menetes. Chloe segera menyeka kedua pipinya yang berair. Sebelum sang Daddy melihat kesedihannya. 'Sungguh, rasa cinta ini tidak boleh menggangguku setiap waktu,' batin Chloe. Sambil menggelengkan kepalanya sesekali.
"Akan ku ceritakan lain kali, Dad. Hari ini aku sangat capek," ujar Chloe sambil beranjak dari jongkoknya. Kemudian berjalan melewati Adam begitu saja.
"Chloe," ujar Adam sambil menahan tangan Chloe agar anak itu tidak berlalu begitu saja. "Aku lihat Damian sangat peduli denganmu. Jadi, Daddy harap kalian bisa berteman dengan akrab," tambah Adam berpesan. Chloe menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak tau harus berkata apalagi. Karena, di dalam hatinya sudah merencanakan alasan untuk menjauhi lelaki itu.
"Akan kuusahakan, Dad," timpal Chloe lalu melanjutkan langkah.
…………………………
Hai, kak. Jumpa lagi di cerita Riezka Karisha. Sebagai seorang penulis, saya kembali mengingatkan kepada kalian semua untuk saling menghargai setiap karya kita ya, kak. Tentunya, kakak-kakak semua punya sebuah karya yang mungkin berbeda bentuknya. Entah itu dalam bentuk lukisan, jahitan, makanan atau apapun itu. Yang pasti, kita tidak mau dong karya kita diatasnamakan orang lain, dijiplak orang lain, apalagi sampai diperjualbelikan orang lain. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Saya memohon kepada semua pembaca sekalian untuk bisa melindungi dan menghargai semua cerita yang pernah kalian baca. Entah cerita saya ataupun cerita penulis lain agar terbebas dari plagiat dan penjual Pdf tak bertanggung jawab.
Memang benar kalian kadang harus membeli koin untuk membuka bab yang ingin dibaca. Namun, saya tekankan disini. Uang yang kalian bayar untuk membeli koin. Hanya mendapat hak membaca bukan membeli cerita. Karena sesungguhnya, cerita di Innovel maupun Dreame sudah dikontrak dengan Stary dan sepenuhnya milik Stary. Jadi, jika kalian melanggar hak cipta kami. Tentunya akan berurusan dengan pihak Stary yang lebih paham hukum.
Selain itu, apakah kalian tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya si penulis yang menjadi sasaran plagiat. Ibaratnya nih, kita punya anak berprestasi. Tapi, diakui orang lain itu anak dia. Kan sakitnya tuh disini? Hehe.
Aku yakin sih kalian semua pembaca bijak dan amanah. Tapi, saling mengingatkan itu penting, kan? Siapa tau kalian pernah baca cerita A disini lalu Nemu lagi disana. Kan nggak afdol tuh.
Ya, sudah sekian pengumuman saya kali ini. Mungkin, kalian akan menemukan hal yang sama di bab-bab selanjutnya. Jadi, kalian bisa abaikan saja ya kak. Karena saya akan selalu mengingatkan hal yang sama. Agar kita bisa selalu sejalan dan sepaham. Terima kasih atas perhatiannya. Jika ada kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebanyak-banyaknya.