"Aku sekarang sadar. Jika aku sangat mencintaimu, Chloe. Sangat mencintaimu," ungkap Damian yang membuat Chloe semakin tersipu. "Kau milikku sekarang dan selamanya," tambah Damian. Kemudian saat ia hendak memeluk Chloe tiba-tiba datang seorang laki-laki yang menahan gerakannya.
"Tidak semudah itu, Damian," ujar Albern. "Kau ingin bersenang-senang sendiri. Sementara, orang-orang di sekitarmu merasa tegang dan penuh kecemasan?" tambah Albern yang langsung membuat Damian menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, saat ditatap oleh ratusan pasang mata di sekitarnya.
"Hehe." Damian hanya nyengir kuda. "Baiklah. Kalau apa yang bisa kita lakukan sekarang?"
"Kamu ikut aku menyiapkan tempat makan dan tidur. Sedangkan, Chloe bantu ibu-ibu yang lain menyiapkan makanan untuk semuanya. Gimana?"
"Oke. Baik, Mister. Aku ke belakang dulu," pamit Chloe sambil melepas genggaman tangan Damian. "Ish." Chloe pun menepis tangan Damian saat lelaki itu justru menahan genggamannya. Chloe pun tersenyum malu-malu sambil melirik ke arah Damian yang menatapnya penuh cinta.
"Udah. Ayo, ikut aku!" ajak Albern sambil menepuk pundak Damian agar segera mengikutinya. Mau tidak mau Damian pun membalikkan badan dan mengikuti arah Albern pergi.
Sementara di luar markas Sharon tengah berhadapan dengan anjing-anjing yang berniat menyerang tempat persembunyian orang-orang. Ia berusaha menghalau mereka masuk tanpa menggunakan kekuatannya. Sungguh, latihan pengendalian kekuatan dan emosi kemarin sangat berguna untuknya.
"Dengarkan aku! Kalian sudah dipengaruhi oleh Pho. Kalian sudah dimanfaatkan oleh Pho. Sadarlah. Orang-orang yang kalian serang tidak bersalah," ujar Sharon berusaha mengingat mereka. Namun, mereka benar-benar tidak mau mengindahkan ucapan Sharon. Meskipun mereka tidak berniat menyerang Sharon duluan, tapi tetap saja mereka terus melakukan perlawanan. Apalagi sosok anjing yang berada paling depan. Dia yang memakai bandul kalung berwarna sama dengan Sharon merasa ia berada di klan yang sama. Sehingga tingkat kekuatan mereka pun seimbang.
Ghrrrr.... Ghrrr… Ghrrrr....
"Kau tak perlu banyak bicara. Tuan Pho sudah memberi perintah dan kita harus melaksanakannya," timpal anjing itu. Entah sadar atau tidak. Hanya saja, mata mereka tampak kosong dengan bola mata yang berwarna merah.
"Apa kalian tidak sadar? Jika salah satu korban kalian adalah pemilik yang sangat kalian sayangi sejak dulu. Manusia yang sudah membesarkan kalian. Memberi kalian makan, tempat tinggal yang nyaman, bahkan merekalah yang kebingungan di saat kalian kesakitan," ujar Sharon lagi. Anjing yang berhadapan dengan Pho sedikit terperangah. Seakan ia tersadar sesuatu. Begitu pula dengan anjing-anjing di belakangnya. "Bagaimana perasaan kalian setelah melihat pemilik kalian terbujur tak bernyawa dengan darah yang berceceran dimana-mana? Senang? Bangga? Ini cara kalian berterima kasih pada manusia?" tambah Sharon yang membuat mereka terdiam. Sharon terus mengedarkan pandangannya. Keningnya berkerut melihat mata anjing-anjing itu yang mulai tampak memutih. Kemudian perlahan anjing yang berhadapan dengan Sharon berjalan meninggalkan tempat itu terlebih dahulu. Kemudian disusul dengan para anjing yang lain.
Sebenarnya, anjing yang berhadapan dengan Sharon tadi adalah Miss You. Anjing yang sangat disayanginya oleh pasangan Grace dan Steve. Namun, dengan tega ia membunuh Grace dan membuat Steve berurusan dengan polisi.
"Lalu bagaimana dengan pemilik yang selalu menyakiti kita? Apa kita harus merasa iba juga?" kata anjing lain sambil berjalan melewati anjing-anjing lain yang tingkatannya lebih rendah. Dia adalah Jockey si anjing petarung yang sering dianiaya oleh majikannya, apalagi kalau sampai dia kalah bertarung. Dia akan dihajar sampai pingsan. Lalu dia akan disuntik perangsang dan dipaksa bertarung hingga menang. Seperti itu terus kehidupannya.
"Apa maksudmu? Mana mungkin ada pemilik Anjing yang setega itu? Manusia memelihara anjing untuk dijadikan teman. Bukan pelampiasan," elak Sharon.
"Kau salah. Hati nurani manusia kadang lebih rendah, meskipun mereka berakal lebih sempurna dibanding kita," tambah Mollie. Dia juga korban k*******n manusia meskipun tidak separah Jockey.
"Tidak. Aku yakin mereka akan melindungi kita. Sekalipun kita hanya terserang kutu." Sharon terus mengelak. Karena selama ini ia memang selalu diperlakukan dengan baik oleh Chloe dan Adam.
"Hahaha. Kau masih harus banyak belajar sobat. Apa yang kita lakukan. Setimpal dengan apa yang biasa mereka lakukan dalam hidupku," sahut Jockey lagi.
"Tapi kalian hanya dimanfaatkan oleh Pho untuk melancarkan balas dendamnya dengan manusia. Apa kalian mau diperalat seperti itu?" Sharon terus menyerang argumen mereka tak mau kalah.
"Hahaha. Memangnya kenapa? Aku sangat bersyukur bisa bertemu Pho. Karena dia aku bisa membalaskan dendamku juga dengan orang-orang yang selalu bahagia melihat penderitaanku," kata Jockey. Sharon pun terdiam. Ia belum bisa mengerti kenapa anjing-anjing ini sangat membenci Tuan mereka.
Kembali pada Chloe yang tengah membantu menyiapkan makanan bersama para pengungsi wanita lainnya. Saat ia sedang membersihkan tempat makan untuk semua, Alice dan teman-temannya yang lewat tak sengaja menatap sosok Chloe di tempat itu. Alice pun langsung menghentikan langkahnya. Kemudian ia layangkan tatapan tidak suka pada Chloe di seberang sana.
"Lihat wajahnya yang sok polos," cibir Alice sambil menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Begitu memuakkan," tambah Alice. Kedua temannya pun hanya terdiam. Meskipun kepala mereka mengangguk mantap. Membenarkan.
"Lalu apa rencana kau sekarang?" tanya salah satu teman Alice.
"Heh." Alice tersenyum licik. "Lihat saja nanti," balas Alice kemudian melenggang dari tempat itu.
Waktu pun terus berlalu. Jam makan siang pun akhirnya datang. Semua orang bersiap menunggu makan siang di tempat yang sudah disediakan. Sedangkan Chloe tengah membantu menyiapkan makanan yang akan dibagikan di dapur markas. Ketika orang-orang tengah membagikan makanan yang sudah siap. Chloe pun hanya ditinggal bertiga di dalam sana. Dari arah lain datang kedua teman Alice yang berjalan tergopoh-gopoh ke arah Chloe.
"Chloe, tolong! Chloe tolong!" ucap keduanya dengan panik. Mendengar namanya diundang, Chloe pun langsung menoleh.
"Ada apa? Kenapa kalian terlihat sangat panik?" tanya Chloe heran.
"Damian dan Sarah, Chloe. Tolong mereka," ujar keduanya bersahutan.
"Damian dan Sarah. Memangnya apa yang sedang mereka lakukan?"
"Mereka sedang bertengkar di luar. Tolong! Tolong pisahkan mereka! Biar kami memanggil Mister Albern."
"Baiklah. Kalau begitu cepat kalian panggil Mister Albern. Biar aku kesana duluan," kata Chloe sambil bergegas keluar. Dalam benaknya sudah terbayang apa yang sedang terjadi antara Damian dan Sarah. Sebab, mau bagaimana pun ia sadar betul Sarah masih memendam perasaan pada Damian. Sementara tadi, Damian dan dia sudah berpelukan di hadapan banyak orang. Damian pun sudah menyatakan perasaannya pada Chloe. Hal itu yang membuat Chloe takut mereka sedang bertengkar berat. Karena Sarah belum ingin berpisah dengan Damian.
"Damian! Sarah! Hentikan!" teriak Chloe setelah ia berlari keluar pintu markas yang terbuka tak begitu lebar. Namun, saat ia sadar tidak ada siapa-siapa di sana. "Kemana Sarah dan Damian?" gumam Chloe bingung.
Plok. Plok. Plok. Mendadak ada suara tepuk tangan belakang Chloe. Chloe pun menoleh ke belakang. Menatap Alice yang tengah menatapnya dengan senyum licik.
"Selamat siang, Chloe."
"Alice. Alice apa ini semua hanya–"
"Iya. Ini semua hanya jebakan untuk kamu. Agar kamu keluar dan jadi makanan para anjing-anjing gila itu. Hahaha," jelas Alice kemudian tertawa jahat.
"Kenapa, Alice? Kenapa kamu sangat membenciku? Sebenarnya, apa salah aku?"
"Karena…. Karena kau hanya gadis miskin yang merebut apapun yang aku mau. Mulai dari Ratu dansa di Pesta Penerimaan Murid Baru sampai mendapat sahabat sekeren Damian. Kenapa harus kau yang miskin? Kenapa bukan aku yang kaya dan cantik jelita ini?!" ujar Alice penuh amarah.
"Apa? Tapi, kau lebih memiliki banyak kelebihan daripada aku. Kau patutnya bersyukur. Kau punya segalanya, Alice. Kau cantik, kau pintar, kau kaya, keluargamu sempurna dan orang terpandang. Semua orang memujamu. Kenapa kau iri dengan aku yang hanya memiliki segelintir kelebihan?"
"Heh!" Alice tersenyum licik. "Aku tidak peduli. Aku tidak peduli, Chloe. Aku sudah terlanjur membencimu. Aku sangat membencimu. Dan sekarang rasa benciku akan segera berakhir," kata Alice sambil melirik ke belakang Chloe. Chloe pun menoleh ke belakang. Matanya langsung membulat saat seekor anjing melompat ke arahnya.
"Aaargh!!!" Chloe menjerit ketakutan. Sedangkan, Alice malah tersenyum penuh kemenangan. Ia pun segera balik badan dan hendak masuk ke dalam markas. Sayangnya, belum sempat ia membuka pintu gerbang markas itu. Tanpa ia sadari seekor anjing dari samping langsung menerkam tubuh Alice. Kemudian mencabik-cabik tubuhnya tanpa ampun.
Chloe sendiri hanya bisa memepetkan badannya di dinding markas. Sebab, Sharon yang tiba-tiba datang kini sedang bertarung dengan anjing yang hendak menyerang Chloe tadi. Di belakang pertarungan sengit Sharon dan Jockey. Berdiri puluhan anjing lain yang terlihat memandangi perkelahian mereka berdua. Entah hanya ingin menonton atau menunggu saat yang tepat untuk menyerang.
"Hust! Hust! Hust!" desis Damian agar Chloe menoleh ke arahnya. Setelah Chloe melakukan hal itu, ia segera memberi isyarat pada Chloe. Agar dia mau berjalan dengan pelan-pelan ke arah pintu gerbang markas itu.
Chloe pun mengangguk. Gluk! Chloe menelan ludahnya dengan susah payah. Saat ia memandangi anjing-anjing itu yang terlihat begitu menakutkan. Kemudian perlahan-lahan ia menggeser badannya mendekati pintu gerbang. Sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya setelah jarak kurang dari sepuluh langkah. Chloe berlari ke arah pintu gerbang. Tentu saja, gerakannya yang tiba-tiba membuat para anjing itu melihatnya. Beberapa di antaranya pun langsung berlari ke arah Chloe.
"Chloe awas!!!" teriak Damian. Orang-orang yang menyaksikan di belakang Damian langsung berteriak histeris. Ketakutan.
Brukkk!!! Sharon terjungkal saat menghalangi anjing-anjing itu mendekati tubuh Chloe. Damian pun segera menarik tangan gadis itu hingga masuk ke dalam markas lagi. Sampai di dalam Damian langsung memeluk tubuh Chloe dengan erat.
"Syukurlah kamu selamat, Chloe. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Jika terjadi sesuatu yang buruk padamu," ujar Damian sambil terus memeluknya dengan erat.
"Chloe!!!" panggil Adam sambil berlari ke arah sang putri semata wayangnya.
"Daddy," balas Chloe sambil melonggarkan pelukannya di badan Damian. Kemudian pelukannya pun berpindah ke badan Adam.
"Syukurlah, Chloe. Kau tidak apa-apa. Daddy, benar-benar sangat mencemaskanmu," ujar Adam sambil mengelus rambut Chloe dengan lembut.
"Tapi, Sharon masih di luar. Aku takut dia akan kenapa-napa, Dad?"
Duarrr!!!! Duarrrr!!!! Duarrrrr!!! Duarrr!!! Belum sempat Adam menjawab, terdengar suara tembakan yang bertubi-tubi secara tiba-tiba.
"Sharon! Sharon!!!" teriak Chloe histeris. Ia pun segera balik badan dan membuka pintu gerbang markas dengan sekali gerakan.
"Chloe!!!!" teriak yang lain.
"Sharon!!!" teriak Chloe saat menatap tubuh Sharon yang sudah tergeletak lemas di atas tanah. Sedangkan anjing-anjing lain sudah lari ketakutan mendengar suara tembakan tadi. "Sharon!!" Chloe memeluk tubuh Sharon yang sudah terkulai lemah tidak berdaya. Melihat keadaan di luar sudah aman. Orang-orang berhamburan keluar untuk melihat keadaan Sharon. "Sharon!! Hiks…. Bangun!! Bangun Sharon!!! Aku mohon!!! Hiks. Hiks. Hiks."
"Chloe," panggil seorang wanita setengah baya yang tadi sempat membuang Sharon keluar dari markas. Dengan wajah sembab dan bercucuran air mata. Chloe menengadahkan kepalanya. "Ehms…. Sebelumnya saya ingin mengucapkan permintaan maaf saya. Karena tadi sempat tidak mempercayai ucapan kamu mengenai anjing ini," ujar wanita itu terlihat gugup. "Tapi, jika kamu mau. Sebagai tanda permintaan maaf dari saya. Saya akan mengobati luka Sharon sampai sembuh. Kebetulan. Saya seorang Dokter Hewan," imbuhnya. Chloe pun langsung memutar otot lehernya hingga berhadapan dengan si ibu.
"Beneran, Madam mau membantu menyembuhkan luka Sharon?" tanya Chloe dengan mata berbinar-binar.
"Iya. Ayo, kita masuk ke dalam. Jangan sampai anjing-anjing itu sampai datang lagi untuk menyerang kita." Si Ibu pun segera mengusulkan ide yang cukup cemerlang. Chloe segera mengangguk. Lalu Damian pun langsung mengangkat badan Sharon dan membawanya masuk ke dalam.