Bug!!! Sharon terlempar keluar dari dalam markas Tentara Keamanan Inggris yang menjadi tempat evakuasi para warga sipil. Ia pun melompat menjauh saat tiba-tiba sebuah mobil datang dan hampir menabrak tubuhnya. Dorr!!! Salah satu polisi menembakkan peluru ke arah Sharon. Untung saja ia dapat mengelak dengan tepat. Namun, Sharon sadar jika ia tidak bisa berada di tempat itu lebih lama. 'Aku harus cari tempat yang pas untuk melindungi Chloe dari luar sini. Kalau tetap di tempat ini justru aku yang akan celaka. Karena tembakan mereka,' batin Sharon. Kemudian ia pun berjalan menjauhi tempat itu. Kebetulan tak jauh dari markas itu terdapat sebuah pohon yang cukup rindang. Sharon pun memanjat tempat itu untuk mengawasi daerah itu dari atas. Sembari ia beristirahat sejenak.
Tak sampai lima belas menit Sharon menutup matanya rapat-rapat, telinganya menangkap sebuah kegaduhan yang mulai mendekati tempat itu. Maka segera ia membuka mata. Lalu menajamkan indera penglihatannya untuk mencari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi. Ternyata puluhan anjing sedang mengarah ke tempat itu. Mereka terlihat sangat marah. Bahkan, otot-otot mereka pun terlihat semakin kekar membentuk badan mereka masing-masing.
"Ini tidak bisa dibiarkan," gumam Sharon. Ia pun segera melompat ke dari atas pohon. Kemudian ia berlari ke arah gerombolan anjing-anjing itu.
Sedangkan di dalam markas Tentara Keamanan Inggris Chloe terus meronta-ronta ingin bertemu dengan Sharon. Orang-orang yang sejak tadi memegang tangannya pun sampai terlihat sedikit kewalahan.
"Lepaskan!!! Lepaskan aku!!! Sharon!!! Sharon jangan pergi!!!!" teriak Chloe dengan badan yang terus berontak.
Di salah satu ujung ruangan Damian baru saja diturunkan dari dalam mobil polisi. Baru saja menginjakkan kakinya ke dalam ruangan itu, mendadak ia mendengar suara teriakan Chloe yang begitu histeris.
"Chloe," gumam Damian kemudian ia segera berlari ke sumber suara.
"Sharon!!! Jangan tinggalkan aku!!! Lepaskan!!! Lepaskan!!!" teriak Chloe histeris.
"Chloe!!" panggil Damian sambil berlari ke arah wanita itu. Gerakan tubuh Chloe pun langsung berhenti.
"Damian," gumamnya saat menatap sosok sahabatnya tengah berlari ke arahnya.
"Chloe!!" ulang Damian. Melihat ada orang yang mengenal sosok Chloe. Orang-orang yang tadi memegangi tangan cewek itu pun melepaskan genggamannya. Damian sendiri langsung memeluk tubuh Chloe setelah berada di dekat wanita itu. Ia melekapnya dengan segenap perasaan yang sudah lama ia pendam sendiri. Rasa sayangnya sebagai laki-laki pada Chloe seorang gadis manis. Chloe juga membalas pelukan Damian. Dengan cukup erat. Seakan ia pun tak mau berpisah lagi dengan lelaki itu.
"Tenang, Chloe! Tenang! Aku ada disini untukmu," ujar Damian lirih sambil mengelus punggung Chloe dengan pelan.
"Hiks. Hiks. Aku takut, Damian. Hiks. Aku takut. Hiks. Aku takut terjadi sesuatu pada Sharon. Hiks. Hiks. Hiks." Chloe berucap dalam sela-sela tangisannya. "Mereka… hiks … mereka membuang Sharon keluar… hiks. Hiks."
"Jangan khawatir, Chloe. Kau lupa siapa Sharon. Dia adalah seekor anjing yang sangat cerdas dan kuat. Percayalah dia pasti bisa bertahan hidup di luar sana." Damian terus mengelus rambut Chloe dengan penuh perhatian.
"Apa kamu yakin?" tanya Chloe sambil mengangkat kepalanya dari d**a Damian. Damian pun tersenyum sambil menangkupkan pipi mulus Chloe di dalam tangannya.
"Aku tidak pernah seyakin ini," jawab Damian mantap. Chloe pun akhirnya tersenyum. Kemudian ia kembali menenggelamkan wajahnya di d**a Damian.
Tak jauh dari tempat mereka berpelukan. Sarah, Alice dan kedua sahabatnya tengah menatap Chloe dan Damian yang sedang berpelukan dengan pandangan tidak suka.
"Lihat, Sarah! Apa yang sudah si cupu itu lakukan!" ujar Alice memanas-manasi. Senyuman liciknya pun terukir di bibirnya yang cukup tebal. Sarah tak menjawab, tapi pandangan matanya dan keruh wajahnya bisa menunjukkan kalau dia benar-benar tidak suka dengan kedekatan Chloe dan Damian sekarang. "Apa kamu mau membiarkan mereka bersenang-senang di atas penderitaanmu? Kita punya musuh yang sama Sarah. Jadi, jangan sungkan untuk meminta bantuan kepadaku," tambah Alice kemudian.
"Kenapa kau sangat membencinya?" tanya Sarah tiba-tiba. Ia pun melirik ke arah Alice sekilas. Dan ternyata wanita itu tengah tertawa garing.
"Pertanyaan yang bagus, Sarah. Kenapa aku sangat membenci gadis cupu itu? Karena dia tidak pantas untuk jadi teman satu sekolah kita. Andai dia mendengarkan ucapanku untuk segera pergi dari sekolah kita. Maka, amarah ku tidak sebesar ini," timpal Alice dengan tatapan tajam ke arah Chloe di seberang sana.
"Heh. Aku pikir. Kau membencinya karena alasan lain," ujar Sarah tanpa mengalihkan perhatiannya. Alice pun langsung menoleh.
"Apa maksudmu?" sergah Alice dengan tatapan curiga. Sarah pun memutar badannya hingga berhadapan dengan Alice.
"Jujur saja. Kau iri dengannya, kan? Karena dia menjadi ratu dansa di pesta penerimaan murid baru empat tahun yang lalu," ujar Sarah yang langsung membuat Alice merubah ekspresi wajahnya.
"Ehms…. Tid… tidak," elak Alice.
"Sudahlah, Alice. Aku sudah tau semuanya. Kamu juga iri pada Chloe karena dia selalu menjadi bintang kelas. Iya, kan?!" tanya Sarah dengan nada tinggi. Alice gelagapan. Ia tidak bisa menjawab. "Lalu untuk apa kau memprovokasi orang-orang untuk ikut membenci Chloe. Termasuk juga aku? Kau ingin menjadikanku alat. Agar kau bisa balas dendam, kan?!!'' Sarah yang meradang langsung berteriak kencang di depan wajah Alice. Sampai-sampai harus dipisahkan oleh beberapa orang yang ada di sekitarnya. Takut mereka akan berantem beneran. Sarah pun menepis tangan orang-orang itu. Lalu berjalan meninggalkannya.
Yap! Sarah memang sudah tau kebusukan Alice sebenarnya. Sebab, beberapa hari yang lalu ia sengaja menemui Damian di lapangan basket sekolah.
Flashback.
"Kita pergi dulu, Damian!" teriak teman-teman Damian sambil melambaikan tangannya ke udara. Damian yang sedang memakai sepatunya pun tak menoleh. Hanya membalas lambaian tangan mereka sambil membungkuk. Melihat Damian sudah sendiri, Sarah memberanikan diri untuk menemui Damian.
Sebenarnya ia meminta putus saat itu, atas perintah Alice. Bukan keinginannya pribadi. Alice bilang Damian pasti akan mengejarnya dan meninggalkan si cupu itu demi dirinya. Namun ternyata, sampai saat ini Sarah tak kunjung mendapatkan kabar sedikitpun dari Damian. Oleh karena itu, ia harus tau apa yang sebenarnya Damian rasakan padanya. Ia tidak ingin kisah cintanya selalu berada di bawah bayang-bayang Alice dan teman-temannya.
"Damian," panggil Sarah lirih. Damian yang sedang duduk di pinggir lapangan pun menoleh.
"Sarah. Ada apa?" tanya Damian balik.
"Bisa aku bicara serius denganmu?"
"Ya. Bicara saja! Kenapa tidak?!"
"Sebenarnya, aku ingin tau. Bagaimana perasaanmu sekarang terhadapku?" Pertanyaan Sarah pun berhasil menghentikan gerakan Damian yang hendak memakai sepatunya.
"Maksudmu apa? Bukankah kau yang ingin putus dariku?" tanya Damian balik.
"Iya. Benar. Benar sekali. Tapi, sebenarnya itu bukan keinginanku," ujar Sarah lirih. "Itu adalah keinginan Alice," tambahnya masih dengan nada yang sama.
"Alice?" ujar Damian heran. Keningnya pun berkerut sempurna dan ia segera berdiri dari duduknya. Matanya yang tajam langsung menatap Sarah dengan sengit. Seketika nyali Sarah pun menciut.
"Iy… iya. Dia bilang kalau kamu pasti akan meninggalkan Chloe demi aku. Makanya saat itu aku mau saja disuruhnya mengatakan hal itu," jawab Sarah jujur.
"Ck." Damian pun berdecak sebal. Ia sampai memutar badannya sambil menghentakkan kakinya ke lantai untuk meredam emosinya yang kian meninggi.
"Kenapa Sarah? Kenapa kau lebih percaya Alice daripada aku? Kau tau kan kalau Chloe teman sejak aku kecil? Sejak aku masih balita dan sama sekali belum bertemu kamu? Dan kamu juga sudah setuju kan kalau aku berteman dengan Chloe?" cerca Damian.
"Iy… iya, Damian. Maafkan aku. Aku terpedaya dengan omongan Alice yang mengatakan kalau Chloe ingin mencuri kamu dariku."
"Heh." Damian tertawa garing. "Alice. Alice. Alice. Kamu sendiri tau tidak dia siapa? Dan kenapa dia begitu membenci Chloe?!!" Damian bertanya dengan penuh emosi. Sarah tak menjawab, tapi kepalanya yang menunduk dalam-dalam. Langsung menggeleng dengan cepat. "Asal kamu tau ya. Alice itu punya dendam yang sangat besar pada Chloe. Kamu ingat saat pesta penerimaan murid baru?" ujar Damian dengan nada yang lebih rendah.
"Dia iri karena Chloe lah yang menjadi pemenang ratu dansa. Dan dia dansa bersamaku saat itu. Ya, cuma aku teman yang dia punya disini. Kemudian yang kedua, Alice sangat membenci Chloe karena Chloe selalu jadi bintang di kelas kita. Makanya dia terus mencari orang yang bisa ia hasut untuk ikut-ikutan membenci Chloe juga. Kau tanya saja dengan anak-anak di kelas aku. Kenapa mereka membenci Chloe. Pasti jawabannya karena Alice. Kau bisa buktikan sendiri. Silahkan!"
Sarah terdiam sejenak. Ia tengah mencerna kalimat Damian seraya menyesali perbuatannya.
"Jadi, aku sudah salah menilai orang selama ini?" gumam gadis berwajah oval itu.
"Ya. Benar sekali. Kau menilai Alice yang buruk menjadi baik. Sementara, Chloe yang kau anggap buruk ternyata dia adalah orang yang baik. Coba kau pikir. Andai Chloe ingin merebutku darimu. Kenapa dia ijinkan aku mengajakmu berkencan. Bahkan, dia tetap menerimamu dengan baik dalam persahabatan kita."
"Kamu salah, Damian?" ujar Sarah tiba-tiba.
"Hah?!" Damian pun terperangah mendengar ucapan Sarah itu.
"Sebenarnya selama ini Chloe memendam rasa sakitnya sendiri. Ketika melihat kita bersama," ujar Sarah sambil memutar badannya. Ia juga membuang pandangannya entah kemana.
"Apa maksudmu?" sergah Damian cepat.
"Iya. Dia mencintaimu Damian. Dia mengejarmu sampai di sekolah ini. Sebenarnya, dia tidak ingin berjauhan denganmu," jelas Sarah sambil memutar badannya hingga berhadapan dengan Damian.
"Apa?" gumam Damian sangat lirih. Laki-laki itu pun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Menyesali kebodohannya selama ini. "Kenapa aku tidak pernah tau hal ini?" ujar Damian dengan nada yang sama.
"Iya. Dia memang sangat pandai menutupi perasaannya di depanmu Damian. Tak hanya di depanmu, tapi di depanku juga," ujar Sarah kala itu. Saat Damian baru sadar akan cinta sejati yang selama ini ia cari. Ternyata ada di depan matanya sendiri.
Damian pun semakin mempererat pelukannya. Meskipun banyak orang yang terus menatap sepasang remaja ini.
"Damian. Lepaskan aku! Banyak orang yang memperhatikan kita sekarang!" pinta Chloe sambil mendorong tubuh Damian menjauh. Namun, bukannya melakukan apa yang diinginkan oleh Chloe. Damien justru semakin merapatkan badannya.
"Biarkan saja. Pokoknya aku tidak akan melepaskanmu. Walaupun hanya sedetik saja."
"Damian. Kau kenapa? Kamu bersikap aneh saat ini?"
"Ya, aku memang aku aneh. Aku aneh karena selama ini tidak bisa merasakan cinta yang sangat besar untukku. Makanya sekarang aku mau merasakannya dengan sangat lama. Bahkan, selama-lamanya."
"Maksud kamu apa, Damian?" tanya Chloe dengan pipi yang sudah bersemu merah. Damian pun melepas pelukannya. Kemudian ia memegang kedua pundak Chloe.
"Aku sekarang sadar. Jika aku sangat mencintaimu, Chloe. Sangat mencintaimu," ungkap Damian yang membuat Chloe semakin tersipu. "Kau milikku sekarang dan selamanya," tambah Damian. Kemudian saat ia hendak memeluk Chloe tiba-tiba datang seorang laki-laki yang menahan gerakannya.
"Tidak semudah itu, Damian," ujar Albern.