Bab. 30 Keadaan Semakin Gawat

1321 Words
Di Kerajaan Fabelion "Hahaha. Bagus. Serang semua manusia yang kalian temui. Serang semua orang yang sudah jahat kepada kalian semua," ujar Pho di depan sebuah alat pengeras suara yang langsung terkoneksi dengan pikiran semua anjing-anjing yang pernah mereka culik. Kecuali Sharon tentunya. Sharon yang tidak pernah makan sedikitpun makanan pengendali pikiran itu. Tak terpengaruh sedikit pun. Namun, bagi anjing-anjing lain. Mereka langsung beraksi setiap Pho memerintahkan apapun yang ia inginkan. "Hahaha. Pesta! Pesta kota sudah dimulai!" teriak Pho dengan begitu lebar. Dubrak! Tiba-tiba terdengar suara benda terjatuh dari salah satu penjuru ruangan Pho itu. Tentu saja, Pho langsung menoleh. Seringainya segera terukir saat menatap ke arah seekor anjing betina dengan perut yang sudah menggembung berusaha melepaskan diri dari ikatan yang menjerat tangan dan kakinya. "Lepaskan! Lepaskan aku!!" teriak anjing itu sekuat tenaga. Pho melangkahkan kakinya mendekat. Kemudian ia berjongkok ke depan anjing yang tangan dan kakinya itu sudah lecet karena seringnya meronta minta dilepaskan. "Hahaha. Memangnya kenapa? Bukankah di tempat ini lebih baik daripada saat kau ada di bumi hanya untuk dijadikan penarik kereta salju? Kau sering dipukul dan disiksa saat kau tidak melakukan apa yang manusia-manusia itu perintahkan, bukan? Lalu. Apa bedanya denganku? Aku juga hanya ingin kau menjadi anjing penurut. Tak perlu kau menarik kereta salju dengan beban yang berat. Tak perlu kau memburu hewan-hewan lemah yang pernah menjadi sahabatmu di hutan. Kau hanya cukup lahirkan anak-anakmu dengan sebanyak-banyaknya. Hahahaha," ujar Pho kemudian ia tertawa jahat. "Tidak. Aku tidak mau mengorbankan anak-anakku untuk anjing penuh dendam tak masuk akal sepertimu! Aku hanya ingin keluar sekarang. Lepaskan keempat kakiku dari ikatan ini!!!!" teriak anjing itu sekuat tenaga. Pho tak menjawab. Ia kembali menyeringai sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam dompet saya. "Baiklah jika emang itu yang kamu mau," ujar Pho sambil membuka salah satu ikatan di tangan anjing betina itu. Hanya saja, bukannya menjawab membuka ikatan lain. Pho justru menyuntikkan sesuatu ke tangan anjing itu. "Aaarghh!!!" teriak si anjing saat cairan dalam suntikan yang terasa sangat panas dan hendak membakar tubuhnya itu menyusup di sela-sela darahnya. Tak berlangsung lama setelah itu, si anjing tergolek lemas di atas pusara. Keadaan di Bumi…. "Breaking news. Sebuah kejadian aneh terjadi hampir di seluruh kota yang ada di Inggris Raya. Dimana anjing-anjing yang pernah menghilang kini terlihat sangat ganas dan tak segan menyerang manusia sampai tewas," ujar seorang reporter di acara live. Ia yang tengah melaporkan kejadian di luar ruangan pun terlihat sedikit ketakutan. Hingga perhatiannya terpecah dan dia sering menoleh ke kanan dan kiri berkali-kali. Takut mendadak muncul salah satu anjing buas yang bisa menerkamnya seperti seekor singa kelaparan. "Semua anggota polisi, relawan dan juga Tentara sudah bergabung untuk menghentikan tingkah mereka semua. Bahkan, semua pecinta anjing serta dokter hewan ikut membantu agar anjing-anjing kembali tenang," lanjut si reporter dengan nada sedikit tergesa-gesa. "Namun, entah mengapa anjing-anjing itu justru semakin buas dan tak terkendali setiap saat. Mereka terlihat sangat marah dan akan menyerang siapa saja yang bertemu dengannya. Pemerintah kerajaan meminta semua warga tetap tenang dan stay at home. Jangan keluar kecuali untuk kebutuhan mendesa–" Belum sempat menyudahi laporannya. Reporter itu terlihat di serang dari belakangnya. Seketika aliran darah pun menyembur dari badannya yang tengah di koyak oleh anjing itu. Sementara di reporter segera berlari dan dikejar oleh anjing lain. Brak!!! Kamera yang sudah beberapa tahun ini selalu menemaninya mengais makanan pun terjatuh begitu saja. Dalam kamera yang masih on itu, tak sengaja merekam detik-detik tubuh si kameramen di serang oleh para anjing tanpa belas kasihan. Pet!!! Adam mematikan siaran langsung yang sedang tayang di televisi dalam ruangannya. Pikirannya langsung melayang pada nasib Chloe sekarang. Adam yang kini masih berada di luar kota. Merasa sangat prihatin dengan kejadian ini. Adam melirik sekelompok orang yang masih berstatus anak buahnya tengah meringkuk di pojokan. Mereka pun sama-sama mengkhawatirkan keluarga mereka yang ada di rumah. 'Bagaimana ini? Apa yang harus kami lakukan untuk melindungi keluarga kami yang berada jauh di sana,' pikir Adam merasa iba. "Apa kalian ada yang mau ambil cuti?" tanya Adam membuka suara di ruangan yang semakin terasa penuh ketegangan itu. Bukannya menjawab mereka malah saling menatap satu sama lain. Andai kalimat Adam itu terlontar di hari-hari biasanya. Sudah dengan pasti mereka akan segera mengiyakan dengan melompat setinggi yang mereka bisa. Maklum, Adam memang sangat memperketat jadwal libur untuk mereka semua agar restoran yang ramai itu tidak keteteran saat melayani pembeli. "Bagaimana kalian tidak suka libur?" tanya Adam dengan penuh wibawa. "Seb… sebenarnya kami takut. Kami ingin pulang dan memastikan semua aman. Tapi, keamanan kita pun tak bisa dipastikan," balas salah satu diantara mereka akhirnya. "Benar juga. Aku pun mengkhawatirkan Chloe dan Sharon sejak tadi. Tapi, bagaimana cara kita pergi dari sini dengan aman," gumam Adam sambil berpikir keras. Tak lama berselang terdengar suara mobil polisi datang. Tok. Tok. Tok. Salah satu personil bersenjata lengkap itu mengetuk pintu rolling door restoran yang sudah tertutup rapat. "Apa ada orang di dalam?!!!" tanya angoya polisi itu dengan berteriak kencang. Tok. Tok. Tok. "Sepertinya itu Tim Penyelamat yang akan membantu kita. Semuanya ayo kita keluar bersama-sama!" ajak Adam memerintahkan. Mereka semua pun segera berlarian menuju pintu keluar. Krek! Krek! Adam segera membuka pintu itu lebar-lebar. "Kami memiliki enam belas anggota," ujar Adam setelah berhadapan dengan anggota polisi itu. "Baiklah, cepat masuk ke dalam mobil. Kita akan evakuasi kalian semua ke markas besar tentara," timpal orang berseragam lengkap itu. "Baik, Pak. Semuanya ayo berjalan masuk ke dalam mobil polisi itu. Kita pindah ke tempat yang lebih aman," titah Adam lagi. Semua anak buahnya pun langsung mengangguk mantap lalu segera masuk ke dalam mobil satu per satu. "Bagaimana dengan distrik Blackburn. Apa orang-orang disana juga sudah dievakuasi?" tanya Adam sebelum ia masuk ke dalam mobil. "Sepertinya sudah. Karena kita mengerahkan semua pasukan Keamanan untuk mengevakuasi semua rakyat sipil terdekat," jawab polisi itu. Adam pun tersenyum mendengar jawaban dari polisi itu. Namun, tiba-tiba terdengar suara longlongan anjing yang sangat dekat. "Cepatlah masuk kita akan segera pergi," kata si polisi sambil mendorong tubuh Adam ke dalam mobil. "Biaklah." Adam segera masuk ke dalam mobil itu. Disusul oleh polisi tadi. Setelah pintu ditutup rapat mereka pun segera meninggalkan tempat itu. Di sepanjang jalan Adam hanya bisa mengidik ngeri melihat pemandangan yang tampak di luar kaca mobil itu. Puluhan mayat tergeletak dengan kondisi mengenaskan. Bangunan yang tadi pagi masih berjajar dengan rapi kiri sudah berantakan. Seperti habis digoyang oleh gempa bumi. Sambil membuang pandangannya keluar jendela, Adam berdoa agar seseorang bisa menyelamatkan Chloe. Harta satu-satunya. Sementara itu di tempat Chloe berhasil dievakuasi orang-orang ribut melihat Sharon yang masih terus bersama Chloe. Mereka mengira Sharon sama dengan anjing-anjing di luar sana. Sehingga mereka berusaha merebut Sharon dan membuang keluar tempat itu. "Jangan!!! Jangan sentuh Sharon! Dia anjing yang baik!! Dia tidak akan menyakiti siapa saja!" bela Chloe yang mulai tersudut. Ia terus memeluk Sharon. Agar orang-orang itu tidak bisa memisahkan mereka berdua. "Kamu harus sadar! Anjingmu itu berbahaya. Otaknya sudah gila. Dia sudah terkena virus vampir sehingga menyerang manusia. Lihat di luar sana! Sudah banyak sekali korban yang berjatuhan dimana-mana? Apa kau ingin dia juga melakukan hal yang sama?!" ujar seorang wanita ngelantur yang langsung memprovokasi orang-orang yang lain. "Tapi, saya mohon. Jangan pisahkan kami. Kami sudah bersama sejak kecil. Hiks. Dia pemberian Mommy sebelum meninggal. Hiks. Hiks. Tolong jangan pisahkan kami." Tangis Chloe pun pecah saat ia harus melepaskan Sharon lagi dari sampingnya. Belum lagi kondisi di luar sedang tidak memungkinkan untuk Sharon bertahan hidup. Jadi, ia benar-benar tidak ingin berpisah dengan anjing kesayangannya itu. "Jangan pedulikan dia. Sebelum anjing itu menyerang kita. Sebaiknya kita buang di keluar!!" teriak orang lain. "Setuju! Setuju! Setuju!" sahut orang-orang lain. "Jangan! Jangan! Jangan!" Chloe berusaha mempertahankan Sharon, tapi mereka segera mengambil secara paksa. Karena sebagian dari mereka memegangi Chloe dan sebagiannya lagi menarik tubuh Sharon menjauhi Chloe. Jadi, dengan cepat mereka bisa dipisahkan. "Sharoooon!!!!" teriak Chloe dengan tangisannya yang terdengar sangat iba. Namun, berbeda dengan orang yang membawa Sharon. Tanpa memperdulikan perasaan Chloe mereka membuang Sharon begitu saja di luar sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD