Bab. 29 Menyelidiki
"Milo. Apa kau gagal lagi?" tanya Julio saat melihat tubuh Milo tak kunjung muncul di permukaan kolam renang di belakang rumahnya. "Kenapa selalu begini?" gumam Julio kesal. Lalu ia pun menceburkan diri ke dalam kolam itu. Niatnya sih untuk membantu Milo keluar dari dalam genangan air setinggi seratus tiga puluh lima centimeter itu. Namun, siapa sangka Milo justru menggigit leher Julio hingga berdarah dan akhirnya laki-laki itu meregang nyawa di antara air kolam renang yang berubah penuh darah.
Di puluhan tempat berbeda tergeletak orang-orang tak bernyawa dengan darah yang sudah berceceran dimana-mana. Salah satunya di perkampungan nelayan yang berada di pinggir Laut Utara pantai Aberdeen. Tepatnya di rumah Steve dan Grace.
Lelaki tunanetra itu tengah berhadapan dengan seorang penyidik polisi di rumahnya. Sementara beberapa polisi lain tengah sibuk mengamankan jasad Grace yang bersimbah darah di lantai.
"Jadi, sampai kapan anda mau menyangkal. Jika anda adalah pelaku pembunuhan istri anda?" ujar si polisi dengan nada penuh selidik.
"Bukan. Bukan saya. Saya tidak tau apa-apa," balas Steve ketakutan.
"Tapi, kenapa barang bukti pisau ini ada ditangan anda?" cercany lagi.
"Saya sudah bilang, kan? Kalau Grace dan Miss You sedang menunggu saya memotong wortel di sofa ruang tamu. Mereka sangat suka makan wortel. Tapi, saat sedang memotong wortel mendadak saya dengar Grace berteriak sangat kencang. Saya langsung berjalan mendekat… dan… hiks. Hiks. Hiks…. Dan saya menemukan tubuh Grace sudah tidak bernyawa. Hiks. Hiks. Hiks," Steve berusaha menerangkan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Dan penyidik pun membenarkan kalau di pisau itu memang tidak ada noda darah sama sekali. Bahkan, luka di leher Grace lebih mirip dengan gigitan hewan buas.
"Jadi, menurut kamu? Pelakunya adalah Miss You. Anjing kalian?"
"Tidak. Itu lebih tidak mungkin lagi. Miss You sangat kami sayangi. Seperti dia menyayangi kami. Jadi, tidak mungkin dia melakukan hal itu."
"Tapi, sampai saat ini. Anjing anda tidak ditemukan sama sekali. Apa mungkin dia melarikan diri setelah menggigit leher istri anda?"
"Tidak!!!" tegas Steve. "Itu tidak mungkin…. Hiks. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain Miss You. Mungkin dia sedang bersembunyi di suatu tempat karena ada hewan buas itu. Hiks…. Hiks…. Hiks…."
Kembali ke Laboratorium Pribadi Albern….
Di saat Chloe, Damian dan Albern sedang membaca satu per satu buku-buku di depannya. Sharon sedang asyik berlatih mengendalikan emosinya di ruang khusus itu. Dia semakin mahir memainkan emosinya sendiri. Bahkan, di saat ia harus berdiri dengan dua kaki selayaknya manusia. Sharon mulai bisa menyeimbangkan diri dan berdiri tegak.
Klunting. Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel pintar Damian, Chloe dan Albern secara bersamaan. Mereka bertiga pun mengeluarkan ponsel masing-masing. Seketika mata mereka membulat membaca berita terbaru yang sedang terjadi di luar sana.
"Apa-apaan ini?" gumam Albern tanpa merubah wajah terkejutnya.
"Kenapa banyak orang yang meninggal karena serangan hewan buas?" tambah Damian ikutan bingung.
"Tunggu. Apa ini yang dimaksud Sharon? Lihat! Para korban meninggal adalah orang yang sama dengan korban yang kehilangan anjing beberapa hari yang lalu. Salah satunya adalah Grace," gumam Chloe sambil mengingat kebaikan sepasang suami istri itu.
"Benar juga. Sepertinya kita harus tanyakan ini pada Sharon," ujar Albern. Kemudian ia pun mematikan permainan Sharon lewat layar komputer di luar ruangan itu.
"Kenapa permainan ini berhenti? Padahal aku hampir menang," protes Sharon.
"Sharon. Keluarlah! Ada hal yang harus kamu lihat!" kata Albern melalui microphone yang ada di depannya.
"Baik," timpal Sharon sambil melepaskan semua perangkat yang menempel di badannya. Kemudian ia pun segera keluar dari dalam ruangan itu.
"Sharon cepat kesini!" teriak Chloe sambil melambaikan tangan. Sharon pun segera berlari ke arah Chloe. "Lihat ini Sharon!" perintah Chloe sambil menyodorkan ponsel pintarnya ke arah Sharon.
"Apa ini?"
"Ini berita terbaru, Sharon. Jadi, banyak orang yang meninggal secara tiba-tiba. Mereka kayak diserang sama binatang buas. Ada bekas gigitan di badannya yang cukup parah," jelas Chloe.
"Apa? Kenapa secepat ini?" ujar Sharon mendadak. Chloe, Damian dan Albern langsung menoleh ke arah Sharon.
"Maksud kamu apa?"
"Pho berniat ingin menguasai bumi, Chloe. Dia punya dendam dengan penguasa di jaman dulu. Dan ingin membalasnya di penguasa jaman sekarang. Dia ingin mencapai kekuasaan tertinggi di bumi. Dia ingin memperbudak semua umat manusia."
"Dendam? Dendam apa yang membuat dia semarah ini?" tanya Damian.
"Itulah yang sedang kami cari tau selama ini. Dengan kita tau apa yang sudah dilakukan oleh para penguasa jaman dulu. Mungkin kita bisa meredam kemarahannya," kata Albern.
"Emangnya Pho dan Bangsa Fabelion itu seperti apa?" tanya Damian penasaran.
"Dia kombinasi antara anjing dan manusia," jawab Albern cepat.
"Maksudnya seperti ini?" Damian menyodorkan buku yang barusan ia baca. Buku usang itu pun langsung diterima Albern.
"Ini buku peninggalan dari kakeknya kakekku. Kayak empat generasi sebelum aku," kenang Albern pada buku itu.
"Buku itu seperti tulisan tangan. Apa kakek buyut kamu adalah seorang profesor?" tanya Damian pelan tapi pasti.
"Bukan. Dia bukan Profesor, tapi hanya Asisten Profesor. Entah apa yang terjadi saat itu. Hingga akhirnya dia melarang semua keturunannya untuk menjadi seorang ilmuwan. Padahal, itu cita-cita aku dari kecil. Dan akhirnya kau hanya bisa menjadi guru Biochemistry. Sesuatu yang hampir mirip dengan pekerjaan seorang Ilmuwan." Albern tersenyum kecut mengingat apa yang membuatnya mengubur dalam-dalam cita-citanya.
"Tunggu-tunggu. Kakek kamu adalah seorang Asisten Profesor yang melarang keturunannya menjadi Profesor juga. Kenapa? Pasti ada alasannya dong, Mister?"
"Entahlah. Aku juga bingung sampai sekarang. Andai aku bisa bertemu dengan Kakek buyutku. Sudah pasti aku tanyakan semua hal itu padanya. Tapi, menurut cerita turun temurun dari keluargaku. Kakek buyut akhirnya bekerja di Industri Migas. Entah, mengapa ia memutar haluan dari profesi sebelumnya."
"Apa Mister nggak pernah merasa ada yang aneh?"
"Aneh?" beo Albern mendengar ucapan Chloe tadi.
"Begini. Logikanya, kalau misal kakek buyut Mister melarang keturunannya untuk menjadi seorang Profesor dan dia memilih untuk berganti profesi yang jauh berbeda dengan profesi sebelumnya. Berarti ada sesuatu yang terjadi saat dia menjalani profesi pertamanya itu. Padahal, untuk menjadi Asisten Profesor kan tidak gampang. Meskipun jaman dulu, pastinya dia harus belajar banyak dong. Ya, istilah jaman sekarang. Dia harus sekolah tinggi-tinggi dulu biar bisa mempelai hal-hal yang tidak banyak diketahui oleh orang lain."
"Iya, Mister. Bisa tuh seperti itu," timpal Damian sambil manggut-manggut tak jelas.
"Dan kamu mau bilang kalau sesuatu itu berkaitan dengan kemarahan Pho saat ini?" Albern berusaha mencerna kalimat Chloe sambil berusaha memahami maksudnya.
"Tepat sekali," jawab Chloe mantap.
"Masuk akal juga sih. Andai aku bisa membaca tulisan di buku ini. Mungkin kejadian ini akan cepat selesai."
"Iya. Buku ini memang menggunakan tinta jaman dulu. Yang akan memudar semakin bertambahnya usia. Tapi, kalau kamu mengijinkan. Izinkan aku bawa itu pada orang yang lebih ahli."
"Apa kamu yakin dia bisa, Damian?"
"Iya, Chloe. Dia seorang sejarawan profesional. Aku yakin dia tidak akan membocorkan rahasia ini."
"Kalau begitu. Ku izinkan kau membawanya. Tapi, aku harap temanmu bisa secepatnya bertindak. Jangan sampai, Pho datang lebih dulu."
"Baik, Mister. Siap."