Bab. 28 Serangan Pertama Pho

2274 Words
Setelah apa yang dilakukan Damian untuk Chloe di sekolah. Akhirnya Chloe mau menceritakan semua rahasia yang tengah ia sembunyikan bersama Albern. Bahkan, sekarang Damian ikut Chloe datang ke laboratorium pribadi lelaki itu. "Wow. Kenapa aku tidak pernah tau kalau kau bisa bicara, Sharon?" kata Damian dengan wajah takjub. Sharon yang sedang duduk di atas meja. Membuat wajah Damian dan Sharon tampak sejajar. Chloe yang duduk di sebelahnya pun hanya diam sambil menatap kedua sahabatnya itu dengan senyum manisnya. "Yah. Dan kuingatkan. Harusnya, kau banyak berterima kasih padaku. Sebab, tanpa aku. Kau akan menjadi orang bodoh yang bengong di depan rumah Chloe setiap pagi," sindir Sharon. "Tunggu-tunggu. Jadi, kau yang selalu memberitahuku kalau Chloe udah berangkat ke sekolah?" "Iyap," balas Sharon mantap. "Andai aku tau dari dulu. Aku akan minta kamu menelponku tiap Chloe bangun pagi," ujar Damian yang langsung mendapat jitakan dari Chloe. "Ish. Sakit tau," protes Chloe sambil mengelus ujung kepala yang terasa nyut-nyutan. "Rasakan itu. Siapa suruh mau jadiin Sharon mata-mata kamu," balas Chloe kesal. Brukkk!!! Albern memberikan setumpuk buku-buku ke hadapan mereka bertiga. "Ini referensi yang mengacu pada rekayasa anatomi tubuh makhluk hidup," ujar Albern. "Wow. Sebanyak ini?" tanya Damian sambil menatap buku-buku itu dan menggelengkan kepalanya. "Kalau kamu tidak mau bantu. Kamu bisa pulang," sahut Chloe sambil meraih salah satu buku teratas. "Ish. Enak saja. Ini yang aku tunggu dari tadi. Mari, semua! Kita menjadi detektif," kata Damian sambil menggunakan kacamata milik Albern. Di kerajaan Fabelion….. Pho memundurkan kepalanya dari teropong bintang yang ia gunakan untuk mengintai kehidupan para anjing di bumi. Tak lama berselang si panglima pun datang. "Tuan," sapa si Panglima. Sambil bersimpuh di hadapan Pho. "Bagaimana?" tanya Pho cepat. Namun, tak mengalihkan pandangannya sedikit pun. "Semuanya sudah siap, Tuan. Tinggal menunggu perintah Tuan," balas Panglima sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Penuh kepatuhan. Pho pun tersenyum kecil. "Tapi, Tuan. Anjing di klan silver itu–" "Abaikan dulu dia. Kita mainkan permainannya sekarang. Nanti juga dia akan keluar," timpal Pho. "Baik, Tuan. Laksanakan!" Setelah mengucapkan hal itu, perlahan si Panglima meninggalkan Pho sendirian lagi di singgasananya itu. Mata Pho yang menerawang jauh entah kemana. Semakin melebarkan senyum penuh kemenangan. "Inilah saatnya aku bermain-main," ujarnya Kemudian tertawa jahat. Di sebuah tempat yang ada di Bumi…. "Ayo!!! Gigit dia Jokey!!! Gigit dia sampai mati!!!" teriak para penonton pertarungan anjing ilegal dengan riuh. Mereka terus menyoraki anjing taruhan mereka yang sedang bertarung dengan anjing buas dari kubu lawan. Tanpa rasa iba mereka tega mempertaruhkan nyawa anjing-anjing malang itu demi kesenangan dan kekayaan mereka sendiri. Sungguh, sangat tidak manusiawi. Si Jokey, anjing yang sudah beberapa kali menang pertandingan dan menjadi bintang bagi orang-orang tak punya moral ini terus menyerang lawannya yang sudah tidak berdaya. Matanya yang memerah akibat suntikan obat perangsang dari si pemilik membuatnya tidak bisa mengendalikan diri. "Ghrrrr!!! Ghrrrrr!!! Ghrrrr!!" Jokey menatap lawannya yang sudah tidak berdaya. Setetes air bening pun berkumpul di pelupuk mata anjing yang sudah terkapar itu. Ia tengah menahan sakit. Obat perangsangnya juga sudah habis sehingga tenaga anjing malang itu sudah terkuras habis. 'Ada apa ini?' pikir Jockey seakan ia tersadar sesuatu. Kemudian ia pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu yang berisi dengan teriakan orang-orang yang memintanya untuk menghabisi anjing tak berdosa itu. 'Bunuh mereka semua!' perintah sebuah suara yang seperti terbawa angin lalu. Namun, tampaknya suara itu sangat berpengaruh besar terhadap kepribadian Jockey. Terbukti dengan emosinya yang langsung meninggi dan meningkatkan adrenalin di tubuhnya hingga puluhan kali lipat. "Guk!!! Guk!!! Gu!!! Guk!!!" Jockey menggonggong ke hadapan para manusia tak beradab itu. Semua orang pun langsung terdiam. Heran dengan apa yang dilakukan Jockey. "Hei Bill. Ada apa dengan anjingmu?!!" teriak salah satu penonton yang merasa sangat kecewa. "Tunggu!! Biar aku beri dia sedikit pengertian, agar kembali melanjutkan pertandingan," balas Bill. Kemudian bergegas masuk ke dalam area pertandingan yang berada di dalam sebuah kurungan cukup besar. Di tangannya membawa sebuah cambuk yang biasa ia gunakan untuk menyakiti tubuh Jockey. Cetar! Cetar! Cetar! Bill mengayunkan cambuk itu ke sembarang arah. Untuk memberikan rasa takut pada Jockey. "Hei, Jockey. Apa ada yang membuat hatimu bersedih?" tanya Bill dengan nada penuh ancaman. Namun, bukannya membuat nyali Jockey menciut ia malah terlihat hendak menyerang sang Tuan. "Ghrrrrr!!! Ghrrrr!!! Ghrrrrr!!!" Jockey mengerang dengan lebih keras. "Hahaha. Aku tau obat itu masih membuat tubuhmu bersemangat ya? Jadi, cepat!!! Serang dia sampai mati. Atau benda ini yang akan menghukummu!" Cetar!!!! Cetar!!! Cetar!!! Bill mengayunkan cambuk itu dengan lebih keras. "Apa kau tidak takut hah?! Berhenti menatapku seperti itu?!" Saat ujung cambuk itu mengarah pada tubuhnya. Jockey langsung meraihnya dengan cukup kuat. Sehingga membuat semua orang yang ada di tempat itu kaget. Tak terkecuali Bill yang berhadapan langsung dengan Jockey. Perlahan Jockey menegakkan badannya hingga setinggi Bill yang bertubuh bulat dengan perut buncit. "Sudah cukup Bill," ujar Jockey dengan tatapan penuh amarah. Bill pun semakin ketakutan. "Hah?! Aku pasti sedang mabuk berat. Sejak kapan aku berpikir Jockey bisa bicara," gumam Bill sambil menampar kedua pipi berkali-kali. "Haha? Kenapa? Apa kau takut aku akan melaporkanmu ke polisi karena sudah menculikku saat bayi dan membunuh kedua orang tuaku." "Hahaha. Aku pasti sudah gila. Karena berpikir akan dipenjarakan oleh seekor anjing petarung yang bodoh." Bill terus menyangkal kenyataan yang terjadi. "Heh." Jockey tersenyum sinis. "Baiklah. Biar aku tunjukkan seberapa gilanya dirimu." Setelah mengucapkan hal itu Jockey langsung menyerang Bill tanpa ampun. Ia menggigit badan Bill, mencabik-cabik tubuhnya, bahkan menyeretnya mengitari arena itu. "Hah?! Apa yg sebenarnya sudah terjadi?" "Apa yang sudah terjadi?!" "Kita harus cepat pergi dari sini. Cepat!!" ujar para penonton itu saling bersahutan. Kemudian ketika mereka hendak berbalik badan untuk meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba anjing-anjing yang berada di kandang sudah mengepung mereka. "Mau kemana kalian? Bukannya pertandingan ini belum selesai," ujar anjing lawan Jockey yang sudah terkapar di lantai tadi. Semua orang-orang itu pun langsung melangkah mundur dengan ketakutan. Namun, belum sempat orang-orang itu menyelamatkan diri. Para anjing yang sudah menyimpan ribuan dendam pada mereka segera menyerang mereka tanpa ampun. Di belahan bumi yang lain…. "Milo, ayo sini! Tangkap mainanmu," teriak seorang lelaki jangkung yang hanya memakai celana renang di pinggir kolam renangnya. Kemudian ia melempar mainan kesukaan anjingnya yang bernama Milo ke dalam kolam renang itu. "Guk! Guk! Guk!" Seketika anjing yang sedang duduk di bangku pantai tak jauh darinya itu berlari mengejar mainannya. Tak butuh waktu lama mainan itu pun dapat ditangkap oleh Millo. Hanya saja, saat ia hendak berenang ketepian tenaganya terasa semakin berkurang. Maklum, kaki belakang sebelah kanannya pernah cidera yang membuatnya harus kehilangan sebagian telapak kakinya. Alhasil, belum sampai di tepi kolam renang. Tenaganya sudah semakin terkuras. Bahkan, tak sekali dua kali ia nyaris tenggelam. Karena kehabisan tenaga. Julio si lelaki tadi pun hanya menonton di pinggir kolam renang. Sejak awal bertemu dengan Millo ia memang berniat untuk mengajari anjing itu berenang. Namun, sampai saat ini. Anjing itu tak mahir-mahir juga. Padahal, ribuan kali ia sudah mengajarinya. Setelah apa yang dilakukan Damian untuk Chloe di sekolah. Akhirnya Chloe mau menceritakan semua rahasia yang tengah ia sembunyikan bersama Albern. Bahkan, sekarang Damian ikut Chloe datang ke laboratorium pribadi lelaki itu. "Wow. Kenapa aku tidak pernah tau kalau kau bisa bicara, Sharon?" kata Damian dengan wajah takjub. Sharon yang sedang duduk di atas meja. Membuat wajah Damian dan Sharon tampak sejajar. Chloe yang duduk di sebelahnya pun hanya diam sambil menatap kedua sahabatnya itu dengan senyum manisnya. "Yah. Dan kuingatkan. Harusnya, kau banyak berterima kasih padaku. Sebab, tanpa aku. Kau akan menjadi orang bodoh yang bengong di depan rumah Chloe setiap pagi," sindir Sharon. "Tunggu-tunggu. Jadi, kau yang selalu memberitahuku kalau Chloe udah berangkat ke sekolah?" "Iyap," balas Sharon mantap. "Andai aku tau dari dulu. Aku akan minta kamu menelponku tiap Chloe bangun pagi," ujar Damian yang langsung mendapat jitakan dari Chloe. "Ish. Sakit tau," protes Chloe sambil mengelus ujung kepala yang terasa nyut-nyutan. "Rasakan itu. Siapa suruh mau jadiin Sharon mata-mata kamu," balas Chloe kesal. Brukkk!!! Albern memberikan setumpuk buku-buku ke hadapan mereka bertiga. "Ini referensi yang mengacu pada rekayasa anatomi tubuh makhluk hidup," ujar Albern. "Wow. Sebanyak ini?" tanya Damian sambil menatap buku-buku itu dan menggelengkan kepalanya. "Kalau kamu tidak mau bantu. Kamu bisa pulang," sahut Chloe sambil meraih salah satu buku teratas. "Ish. Enak saja. Ini yang aku tunggu dari tadi. Mari, semua! Kita menjadi detektif," kata Damian sambil menggunakan kacamata milik Albern. Di kerajaan Fabelion….. Pho memundurkan kepalanya dari teropong bintang yang ia gunakan untuk mengintai kehidupan para anjing di bumi. Tak lama berselang si panglima pun datang. "Tuan," sapa si Panglima. Sambil bersimpuh di hadapan Pho. "Bagaimana?" tanya Pho cepat. Namun, tak mengalihkan pandangannya sedikit pun. "Semuanya sudah siap, Tuan. Tinggal menunggu perintah Tuan," balas Panglima sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam. Penuh kepatuhan. Pho pun tersenyum kecil. "Tapi, Tuan. Anjing di klan silver itu–" "Abaikan dulu dia. Kita mainkan permainannya sekarang. Nanti juga dia akan keluar," timpal Pho. "Baik, Tuan. Laksanakan!" Setelah mengucapkan hal itu, perlahan si Panglima meninggalkan Pho sendirian lagi di singgasananya itu. Mata Pho yang menerawang jauh entah kemana. Semakin melebarkan senyum penuh kemenangan. "Inilah saatnya aku bermain-main," ujarnya Kemudian tertawa jahat. Di sebuah tempat yang ada di Bumi…. "Ayo!!! Gigit dia Jokey!!! Gigit dia sampai mati!!!" teriak para penonton pertarungan anjing ilegal dengan riuh. Mereka terus menyoraki anjing taruhan mereka yang sedang bertarung dengan anjing buas dari kubu lawan. Tanpa rasa iba mereka tega mempertaruhkan nyawa anjing-anjing malang itu demi kesenangan dan kekayaan mereka sendiri. Sungguh, sangat tidak manusiawi. Si Jokey, anjing yang sudah beberapa kali menang pertandingan dan menjadi bintang bagi orang-orang tak punya moral ini terus menyerang lawannya yang sudah tidak berdaya. Matanya yang memerah akibat suntikan obat perangsang dari si pemilik membuatnya tidak bisa mengendalikan diri. "Ghrrrr!!! Ghrrrrr!!! Ghrrrr!!" Jokey menatap lawannya yang sudah tidak berdaya. Setetes air bening pun berkumpul di pelupuk mata anjing yang sudah terkapar itu. Ia tengah menahan sakit. Obat perangsangnya juga sudah habis sehingga tenaga anjing malang itu sudah terkuras habis. 'Ada apa ini?' pikir Jockey seakan ia tersadar sesuatu. Kemudian ia pun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan itu yang berisi dengan teriakan orang-orang yang memintanya untuk menghabisi anjing tak berdosa itu. 'Bunuh mereka semua!' perintah sebuah suara yang seperti terbawa angin lalu. Namun, tampaknya suara itu sangat berpengaruh besar terhadap kepribadian Jockey. Terbukti dengan emosinya yang langsung meninggi dan meningkatkan adrenalin di tubuhnya hingga puluhan kali lipat. "Guk!!! Guk!!! Gu!!! Guk!!!" Jockey menggonggong ke hadapan para manusia tak beradab itu. Semua orang pun langsung terdiam. Heran dengan apa yang dilakukan Jockey. "Hei Bill. Ada apa dengan anjingmu?!!" teriak salah satu penonton yang merasa sangat kecewa. "Tunggu!! Biar aku beri dia sedikit pengertian, agar kembali melanjutkan pertandingan," balas Bill. Kemudian bergegas masuk ke dalam area pertandingan yang berada di dalam sebuah kurungan cukup besar. Di tangannya membawa sebuah cambuk yang biasa ia gunakan untuk menyakiti tubuh Jockey. Cetar! Cetar! Cetar! Bill mengayunkan cambuk itu ke sembarang arah. Untuk memberikan rasa takut pada Jockey. "Hei, Jockey. Apa ada yang membuat hatimu bersedih?" tanya Bill dengan nada penuh ancaman. Namun, bukannya membuat nyali Jockey menciut ia malah terlihat hendak menyerang sang Tuan. "Ghrrrrr!!! Ghrrrr!!! Ghrrrrr!!!" Jockey mengerang dengan lebih keras. "Hahaha. Aku tau obat itu masih membuat tubuhmu bersemangat ya? Jadi, cepat!!! Serang dia sampai mati. Atau benda ini yang akan menghukummu!" Cetar!!!! Cetar!!! Cetar!!! Bill mengayunkan cambuk itu dengan lebih keras. "Apa kau tidak takut hah?! Berhenti menatapku seperti itu?!" Saat ujung cambuk itu mengarah pada tubuhnya. Jockey langsung meraihnya dengan cukup kuat. Sehingga membuat semua orang yang ada di tempat itu kaget. Tak terkecuali Bill yang berhadapan langsung dengan Jockey. Perlahan Jockey menegakkan badannya hingga setinggi Bill yang bertubuh bulat dengan perut buncit. "Sudah cukup Bill," ujar Jockey dengan tatapan penuh amarah. Bill pun semakin ketakutan. "Hah?! Aku pasti sedang mabuk berat. Sejak kapan aku berpikir Jockey bisa bicara," gumam Bill sambil menampar kedua pipi berkali-kali. "Haha? Kenapa? Apa kau takut aku akan melaporkanmu ke polisi karena sudah menculikku saat bayi dan membunuh kedua orang tuaku." "Hahaha. Aku pasti sudah gila. Karena berpikir akan dipenjarakan oleh seekor anjing petarung yang bodoh." Bill terus menyangkal kenyataan yang terjadi. "Heh." Jockey tersenyum sinis. "Baiklah. Biar aku tunjukkan seberapa gilanya dirimu." Setelah mengucapkan hal itu Jockey langsung menyerang Bill tanpa ampun. Ia menggigit badan Bill, mencabik-cabik tubuhnya, bahkan menyeretnya mengitari arena itu. "Hah?! Apa yg sebenarnya sudah terjadi?" "Apa yang sudah terjadi?!" "Kita harus cepat pergi dari sini. Cepat!!" ujar para penonton itu saling bersahutan. Kemudian ketika mereka hendak berbalik badan untuk meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba anjing-anjing yang berada di kandang sudah mengepung mereka. "Mau kemana kalian? Bukannya pertandingan ini belum selesai," ujar anjing lawan Jockey yang sudah terkapar di lantai tadi. Semua orang-orang itu pun langsung melangkah mundur dengan ketakutan. Namun, belum sempat orang-orang itu menyelamatkan diri. Para anjing yang sudah menyimpan ribuan dendam pada mereka segera menyerang mereka tanpa ampun. Di belahan bumi yang lain…. "Milo, ayo sini! Tangkap mainanmu," teriak seorang lelaki jangkung yang hanya memakai celana renang di pinggir kolam renangnya. Kemudian ia melempar mainan kesukaan anjingnya yang bernama Milo ke dalam kolam renang itu. "Guk! Guk! Guk!" Seketika anjing yang sedang duduk di bangku pantai tak jauh darinya itu berlari mengejar mainannya. Tak butuh waktu lama mainan itu pun dapat ditangkap oleh Millo. Hanya saja, saat ia hendak berenang ketepian tenaganya terasa semakin berkurang. Maklum, kaki belakang sebelah kanannya pernah cidera yang membuatnya harus kehilangan sebagian telapak kakinya. Alhasil, belum sampai di tepi kolam renang. Tenaganya sudah semakin terkuras. Bahkan, tak sekali dua kali ia nyaris tenggelam. Karena kehabisan tenaga. Julio si lelaki tadi pun hanya menonton di pinggir kolam renang. Sejak awal bertemu dengan Millo ia memang berniat untuk mengajari anjing itu berenang. Namun, sampai saat ini. Anjing itu tak mahir-mahir juga. Padahal, ribuan kali ia sudah mengajarinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD