22. Datang Kesempatan Muncul Kecurigaan

2002 Words

“Ternyata kamu sangat mudah emosi, Adam. Seharusnya tadi kamu tidak meninjunya,” protes Vena, ketika dia sudah berada di dalam mobil bersama Adam. “Kenapa? Sepertinya kamu masih mencemaskan dia?” sahut Adam dengan cepat, namun tanpa menoleh sedikit pun pada Vena. Wajahnya terlihat menegang, dengan rahang terlihat menonjol tapi tetap fokus dengan kemudinya. “Apa? Aku mencemaskan Raka? Kamu jangan ngaco. Sebaliknya aku mencemaskanmu,” tegas Vena dengan suara tertahan namun agak meninggi. “Aku hanya tidak ingin, kamu yang tidak tahu apa-apa, terseret dalam masalah rumah tanggaku,” lanjutnya. “Tadi itu spontan. Mendengar dia balik menuduhmu, tiba-tiba aku jadi emosi. Pria itu harus diberi pelajaran. Bagaimana bisa, dia yang pengkhianat tapi malah menuduhmu pengkhianat? Kamu jangan cemas.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD