BAB 12

1673 Words

“Alhamdulillah, sudah.” Sandaran dan kaki bed dental perlahan kembali ke posisi berdiri, membuat perempuan tua di depanku duduk sempurna. Tubuhnya kecil, ringan, dan rapuh. Kerudung putih yang dikenakannya miring sedikit ke kiri. “Masih sakit nggak giginya, Bu?” tanyaku lagi, memastikan untuk terakhir kali. Nenek itu tak langsung menjawab. Tatapannya justru melekat di wajahku, seolah tengah berusaha mengenali seseorang yang sangat akrab baginya. Sejenak berlalu begitu saja. Lalu, sudut bibirnya naik perlahan, senyum itu terbit tanpa kuminta. “Ibnu,” ujarnya sambil menepuk bahuku. Aku terdiam, lalu menoleh ke wali pasien yang duduk di depan meja kerjaku—menantu perempuan si Nenek. “Maaf ya, Dok,” ujarnya. “Ibu memang kadang begitu. Beliau sudah sering lupa. Kalau lagi kambuh, suka ng

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD