Aku berdehem. Jariku melepas dagunya. “Sakit banget ya, Nda?” tanyaku kemudian, padahal aku bahkan belum melakukan apa pun. Amanda mengangguk, lalu tiba-tiba menggeleng. Sekejap kemudian ia mendengus, ekspresinya tampak begitu bingung. “Ada nyerinya, tapi nggak nusuk lagi, jadi sebenernya nggak begitu sakit, cuma kan nggak nyaman, Kang,” gumamnya panjang. Aku mendengarkannya sembari menahan napas. Jarak kami sedekat ini, dan ia dalam posisi bersandar pasrah. Dan dari sini, manis parasnya terlihat kian jelas. ‘Bukan urang! Mata urang yang nggak mau berpaling!’ Kini Amanda yang berdehem, mungkin sadar jika aku keterlaluan memandanginya. Gugup. Ia jelas gugup. Dan menyadari itu justru membuat jantungku ikut-ikutan rusuh. “Relax aja ya, Nda,” ujarku kemudian, seolah-olah aku bisa melak

