Part 5
“Dia capek habis nyariin aku gitu?”
jiwa memilih pergi, hatinya sedikit senang melihat Lucas menemuinya dan berbicara padanya, walaupun dia tidak paham maksud dari Lucas.
Ditempat lain Lucas sedikit menyesal mengatakan itu melihat respon Jiwa dari jauh yang sepertinya tidak paham dengan apa yang Lucas katakan.
“Dia manusia jenis apa sih”
Lucas memilih pulang kerumahnya. Tidak terlalu jauh memang tapi Lucas biasanya masih mengelilingi kota dengan motor kesayangannya.
“Udah pulang Dio?”
“Iya pah”
Lucas Antinoxadio, teman temannya biasa memanggil Lucas namun di keluarganya Lucas biasa dipanggil Dio.
“Udah makan?”
Lucas melihat jam di dinding menunjukkan pukul empat sore. Dia ingat baru makan tadi pagi saja. Lucas tersenyum kecil mengingat yang dia makan adalah nasi kuning pemberian Jiwa.
“Kamu ditanya malah senyum senyum, pacar baru ya”
“Sembarangan aja papah, dah aku mandi dulu trus makan deh”
Lucas beranjak. Papanya melihat anak laki lakinya menaiki tangga dan masuk kamarnya, dia ingat terakhir kali anaknya membawa wanita kerumah sudah lama sekali. Dia paham sekali jika mantan kekasihnya itu sudah member luka baru pada anaknya itu.
Lucas masih duduk di kasur, kemejanya sudah dia lepas dan hanya meninggalkan kaos polos putih. Memikirkan apa yang akan dilakukan Jiwa besok, atau mungkin Jiwa benar benar menyerah pada masa percobaan keempat, mengingat banyak mahasiswa baru yang dulu naksir dengannya perlahan menjauh karena sikap dingin Lucas.
“Iya mah baru juga awal”
Jiwa sedang menelpon dengan mamanya, tidak bukan Jiwa yang menelpon tapi mamanya, dia terlalu kepo dengan usaha anaknya apakah berhasil menaklukkan hati senior di kampusnya.
“Oh yaudah, ntar juga kamu capek, tapi nih ya…”
“Mah, Jiwa mau nuga dulu ya, bye”
“Eh Jiwa, mama belom kel…”
Jiwa menutup telepon. Menghentikan kekepoan mamanya dan ceramah yang begitu panjang tanpa akhir.
“Saya tunggu deh sampe kamu capek”
Kata kata mamanya persis seperti apa yang didengarnya tadi sore. Laki laki itu mengucapkannya dengan penuh percaya diri dan angkuh.
Tidak, Jiwa bukan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Lucas, bahkan dia sangat mengerti maksud dari perkataan itu. Jiwa hanya berusaha menahan untuk tidak menyerah.
“Nggak, aku ga akan nyerah bahkan ini belom mulai”
Jiwa tidak menyangkal jika dia sedikit sakit mendengar kata kata Lucas yang begitu angkuh dan meremehkan usahanya. Hanya saja Jiwa berusaha membuang rasa itu jauh jauh agar usahanya tidak berkurang sedikitpun.
***
Hari ini kampus terlihat sedikit ramai. Hari rabu memang hari yang sedikit sibuk dimana mata kuliah full dari pagi hinggal sore menjelang malam. Entahlah padahal seharusnya hari senin menjadi pilihan hari paling sibuk.
“Eh si ibu pagi pagi udang senyum senyum aja”
Yang diajak bicara tetap berjalan dengan senyum penuh bahagia.
“Eh jawab dong”
“Jiwa, aku tuh lagi seneng”
Jiwa memutar bola matanya kesal.
“Iya, manusia paling ujung sana juga tau kamu lagi seneng An, senyumnya udah berasa kek mau ngerobek seluruh wajah kamu”
“Ngawur”
“Ada apaan?”
“Kak Dodi semalem chat aku dong”
Kak Dodi, salah satu senior yang disukai Ana. Sejak masa ospek Ana sudah mengatakan jika dia menyukai kakak senior jurusan teknik mesin itu. Salah satu teman dekat Lucas juga. Jangan lupa jika Ana menyukai semua teman Lucas yang bisa dibilang tampan, atau memang Lucas mencari teman dengan membuka lowongan disertai CV untuk melamar haha Jiwa ngaco.
“Ngimpi”
“Serius Jiwa, nih liat”
Dilihatnya pesan di w******p milik Ana, tertera nama kak Dodi disana. Dilihanya isinya hanya sebatas menanyakan kelas kami siang nanti.
“Astaga ibu ibu rempong, rasa percaya dirinya udah melebihi rotasi bumi ya. Dia nanyain kelas aja Anabele”
“Tapi kan tetep aja dia chat aku, lagian kalo cuman sebatas nanyain kelas kenapa ga caht yang lain atau chat kamu deh”
Jiwa memilih melangkah kekelasnya, meninggalkan Ana dengan tingkat kepercayaan diri maksimal.
“Jiwa kan bener”
“Kamu ga inget yang dulu pas ospek chat dia sok nanyain inilah itulah ke kak Dodi padahal ga penting, itulah kenapa dia chatnya ke kamu karna cuman kamu aja yang rempong dulu chat dia”
“Emang yang chat dia aku aja mabanya, ka nada maba yang lain”
“Serah An”
Jiwa malas, tidak bukan malas hanya saja Jiwa iri dengan Ana yang sedikit memberinya harapan mengenai seniornya yang dia sukai. Bahkan Jiwa belum mendapatkan sedikitpun lampu hijau mengani Lucas, yang ada malah kata kata yang membuat Jiwa ingin menyerah rasanya.
Sebelum masuk kelasnya, seperti biasa Jiwa ke kelas Lucas dulu memberinya sarapan. Jangan lupakan kekuatan nasi kuning dan es kelapa.
“Cari Lucas Ji?”
“Eh iya kak”
“Tadi sih disini, ke kamar mandi kali”
Jam kelasnya sudah hampir dimulai, Jiwa tidak mau terlambat. Diletakkannya bungkusan itu di meja Lucas dan pergi untuk mengikuti jam kuliah.
Sebelum masuk kelas, Lucas sudah melihat Jiwa yang membawa bungkusan dan Lucas sudah tau itu berisi apa. Segera dia meninggalkan kelasnya.
“Kemana lu?”
“Toilet bentar”
Lucas berdiri tidak jauh dari kelasnya, melihat Jiwa yang memasuki kelasnya dan berbicara singkat dengan temannya. Memberikan senyuman tulus, meletakkan bungkusan di meja Lucas dan segera pergi. Lucas melihat jam dipergelangan tangannya, tepat pukul 7.30 pagi, benar saja Jiwa ada kelas. Tidak, Lucas bukan mencari jadwal gadis itu dia hanya tidak sengaja mengetahuinya.
“Dah ah”
“Eh Luc, maba yang biasanya bawain lu jajan tuh”
Lucas membukanya, benar saja nasi kuning dan es kelapa dan Jiwa menambahkan kerupuk ternyata.
Dimakan ya kak, aku tambahin kerupuk. Karna nasi kuning+kerupuk adalah pasangan yang cocok.
Catatan yang simple, dan terlihat tulisan Jiwa yang lumayan rapi ternyata.
“Cieee babang tamvan dapet kado lagi, bukannya tuh cewe yang kemarin bawain ini juga ya?”
“Berisik”
Luvas menyimpan bungkusannya. Dosennya sudah siap untuk menjelaskan mengenai mata kuliah hari ini.
Jiwa masuk kekelasnya. Mengikuti mata kuliah dengan fokus karena hari ini adalah hari yang lumayan sibuk.
“Kamu mau aku temenin?”
“Ga usah deh An, bentaran doang ini, kamu pulang aja”
“Okedeh hati hati ya, moga ketemu kak Lucas di perpus hehe”
“Semoga”
Jiwa memilih mampir ke perpustakaan sejenak, mencari buku untuk tugas perdananya.
Jiwa berhenti tepat di depan kelas Lucas. Kelasnya sudah sepi dan mungkin Lucas sudah dirumahnya saat ini. Beberapa mahasiswa masih ada dilingkungan kampus entah untuk nongkrong atau mengerjakan tugas.
“Eh…”
Dilihatnya tong sampah yang ada didekatnya. Wajahnya sedikit murung dan kecewa, disana ada bungkusan nasi kuning dan kerupuk.
“Ga dimakan lagi ya? Kan sayang buang makanan jadinya”
Bungkusan nasi kuning yang belum terbuka dan masih terbungkus karet gelang dan kerupuk yang sedikit hancur karena terbentur dengan sampah yang lain.
Jiwa kecewa
Tentu saja. Dia kemarin melihat Lucas memberikan bungkusannya pada temannya dan hari ini malah Lucas buang. Minatnya untuk ke perpustakaan hilang, semangatnya untuk mengerjakan tugas lebih awal sudah hilang entah kemana, yang dia inginkan hanya kembali kekeostnya dan menceritakan ini pada sahabatnya, yah walaupun aka nada sedikit omelan dari Ana.