Part 4
“Jiwa?”
“Kak Danial?”
Jiwa masih ingat laki laki dengan rambut panjang yang juga salah satu teman Lucas. Laki laki dengan sikap yang berbanding terbalik dengan Lucas tapi juga memiliki wajah yang sama tampannya dengan Lucas.
“Lagi cari jadwal?”
“Eh iya kak” sela Ana.
Tidak, Jiwa tidak menyukai Danial dan bahkan laki laki itu sudah memiliki kekasih yang menjadi wajah cantik di jurusan kedokteran. Diapa yang tidak kenal Lena. Mahasisiwa kedokteran dengan wajah super cantik dan otak yang cerdas pantas memiliki kekasih seperti kak Danial.
“Kirain kamu mau bawain Lucas es kelapa lagi”
Jiwa cemberut, Danial mengejeknya sebenernya.
“Maunya sih kak tapi dari tadi ga keliatan kak Lucas”
“Ada tuh di lab teknik, tadi sih…”
Belum selesai Danial berbicara, Jiwa sudah ambil langkah seribu untuk pergi membeli es kelapa dan menuju laboratorium. Ana langsung melongo melihat Jiwa langsung menghilang dari hadapannya.
“Aduh kak Danial maaf ya, Jiwa emang rada kurang waras hehe”
Dengan malu Ana pergi menyusul Jiwa yang entah sudah sampai mana, Danial hanya tersenyum melihat kelakuan mahasiswa baru yang sedikit langka itu.
“Semangat Jiwa, Lucas bisa ditaklukin kok kalo kamu semangat”
Denial sedikit berharap Jiwa bisa meluluhkan hati Lucas walaupun ada rasa takut yang dia rasakan juga.
“Jiwa ih kebiasaan, malu tau keliatan kak Danial main kabur gitu aja”
“An, keburu kak Lucas pergi atau di seruduk cewek lain”
“Kamu tu ya, bilang makasih atau pamit kek dulu, ga bakal keduluan cewek lain”
“Hehe, semangat nih dari tadi cari kak Lucas ga ketemu ketemu eh Tuhan baik kan ngasih kak Danial buat infoin dimana ayang bebeb”
Ana benar benar kehabisan kata kata. Sedangkan jiwa sedang menunggu es kelapanya selesai dibuat.
“Ini neng, sepuluh ribu aja”
“Nih pak” Jiwa menyodorkan uang nominal sepuluh ribu rupiah.
“Ayuk An buruang”
Yang diajak masih mengatur nafas akibat lari mengejar Jiwa, kini Jiwa sudah hilang lagi dengan langkah seribunya.
Menuju lab dan melihat ke dalam ruangan dari jendela. Jiwa cemberut, tidak dilihatnya Lucas disana.
“Kak Danial tipu ya”batinnya.
Matanya masih menyisisri ruangan laboratorium dengan teliti, takut Lucas bersembunyi.
“Cari Lucas?”
“Iya nih kak tadi…eh kak Lucas!”
Jiwa terkejut melihat orang yang dia cari berdiri tepat beberapa senti meter di hadapannya. Tidak sadar jika yang bertanya adalah Lucas sendiri.
“Pasti Danial”
“Ada apa?”
“Eh ini kak Lucas, kali aja haus”
Jiwa menyodorkan es kelapa yang mulai mencair batu esnya.
“Saya ga haus, saya lapar”
“Eh, nasi kuning bu Suci”
Jiwa teringat nasi kuning kesukaannya. Memaksa Lucas memegang es kelapanya dan langsung berlari lagi menuju kantin. Sedangkan Ana baru saja sampai di lab dan langsung melihat Lucas.
“Kak Lucas” Ana yakin Jiwa sudah sampai dilihat dari Lucas yang kini memegang es kelapa yang dibeli Jiwa.
“Kalo kamu cari temen kamu, baru aja dia pergi dan titip ini, nih”
Lucas menyodorkan es kelapanya pada Ana, lalu pergi tanpa sepatah kata lagi.
“Kak Lucas ga nunggu Jiwa?”
Lucas terhenti, sedikit berfikir kemudian melanjutkan langkahnya lagi.
“Eh kak Lucas mana An?”
Kini Jiwa membawa dua bungkus nasi kuning yang niatnya dia berikan pada Lucas.
“Nih”
Ana mengembalikan es kelapa yang benar benar sudah mencair.
“Kamu ditolak Ji”
“Yahh okedeh, eh nih aku beli dua bungkus, makan yuk”
Bagaimana mungkin Jiwa tidak sedih sedikitpun setelah penolakan Lucas. Ana memilih mengambil nasi kuning yang dibeli Jiwa, memakannya berdua didepan lab. Tidak. Lucas tidak sejahat itu. Sekarang saja dia sedang berdiri melihat dua orang yang baru saja dia temui, melihat Jiwa tanpa kecewa sedikitpun diwajahnya dan kini mereka berdua sedang lahap makan.
Lucas terlalu takut, terlalu takut memulia disaat rasa yang kini terlintas tidak seperti biasa. Lucas terlalu pecundang untuk mengakui seseorang yang baru dia temui kini membuka gembok hatinya satu persatu yang tinggal menunggu waktu untuk membukanya dan masuk tanpa izin.
Jiwa ingat bagaimana Lucas terlalu dingin padanya. Dia sedikit kecewa memang tapi perjuangannya seakan tidak ada habisnya.
“Ma emang ada orang sedingin itu ya?”
Malam ini begitu dingin ditambah jendela kamar yang terbuka lebar, angin seakan tanpa permisi untuk masuk.
“Kamu tau Jiwa, batu yang keraspun bisa terkikis air perlahan lahan hanya dengan tetesan air, mama udah bilang ga ngelarang kamu suka sama siapapun, tapi kalo emang kamu mau nyerah mama juga ngerti, kamu tau papamu dulu malah benci sama mama”
Jiwa terdiam. Ponselnya masih menempel ditelinganya dan bahkan mamanya mengoceh banyak hal yang tidak Jiwa dengarkan.
“Sulit ya suka sama orang yang bahkan dia aja ga ngebuka hatinya sedikitpun”
Tidak, Jiwa tidak mungkin menyerah begitu saja. Sepertinya lebih baik dia mempersiapkan diri untuk kuliah perdananya besok.
***
“Pagi Jiwa”
Jiwa berhenti, tidak seperti biasanya temannya itu menyapa dengan sapaan yang bagus dan lebut.
“Mau apa An”
“Dih pagi pagi udah nethink aja, enak tuh”
Ana melirik barang yang dibawa Jiwa. Kantung keresek yang tidak tau apa isi didalamnya.
“Maaf ya Anabele ini buat kak Lucas, kamu ga dapet”
“Ih Jiwa, kenapa sih aku ga sekalian”
Jiwa memilih untuk meninggalkan Ana dengan omelannya. Menuju kelas arsiterktur untuk bertemu Lucas.
“Kak Lucas, nih”
Tokoh yang diajak berbicara masih asik dengan penggarisnya. Fokus pada kertas dan pensil.
“Kak”
Lucas menghentikan aktivitasnya, melihat Jiwa dengan kantung keresek berisikan sesuatu di dalamnya.
“Sarapan”
Setelah mengatakan itu dan meletakkan bungkusan berisi nasi kuning dan es kelapa di meja Lucas, Jiwa langsung pergi. Ana yang melihat dari luar hanya berdiam menunggu Jiwa menyelesaikan kewajibannya.
“Bau bau sogokan nih”
“Mama bilang batu yang keras bisa terkikis air walau hanya setetes. Apa salahnya berusaha An”
“Iyadeh nyonya”
Perkulihannya selesai tepat di jam tiga sore. Tidak terlalu sulit ditambah ini memang jurusan yang diinginkan Jiwa atau memang belum saja Jiwa merasa kesulitan karena masih awal.
“Ji aku duluan ya mau cari buku”
“Oke An hati hati”
Dilihatnya Ana menjauh dan menaiki motor metiknya, tersenyum kemudian melambai dan pergi.
Baru Jiwa berbalik sudah ada Lucas dihadapannya.
“Kak Lucas?”
Jiwa terkejut, bagaimana tidak posisi mereka yang berhadapan dan begitu dekat, kaki seakan membeku dan Lucas tidak ada niatan sedikitpun untuk mundur satu langkah.
“Saya tunggu deh sampe kamu capek”
Setelah mengatakan itu Lucas langsung pergi. Tanpa menjelaskan lagi apa maksud dari kata katanya itu. Sedangkan Jiwa melongo tak berkedip, otaknya masih mencerna apa yang dikatakan Lucas.
“Capek?apanya…eh kak Lucas”
Yang ditanya sudah menjauh dan sudah pasti tidak mendengar.
“Dia capek habis nyariin aku gitu?”