BMF - 7

1624 Words
Tujuh Saat langkahku memasuki lobi hotel, sungguh demi Allah, aku langsung mengucap Alhamdulillah, sungguh bersyukur, semua pakaian rumahanku ada di londri. Lalu menuruti saran Kiyo untuk mengenakan dress peach midiku. Karena yang aku lihat di depanku, membuatku tidak percaya. Terus bertanya pada diriku, apa ini mimpi? No, Nala. That’s not a dream. That’s real. Ada Ayahku, Bundaku, dan adik nakalku, Ace, dalam gendongan Ayahku. Lalu di samping keluargaku, aku menemukan senyum hangat Tante Vira, Om Bayu, dan si cantik Aiko, yang kini dadah-dadah padaku. Aku hanya bisa tersenyum tipis. Tipiiiiissss banget kayak iklan-iklan pembalut jaman now. Lalu aku menoleh pada Kiyo. Dan tau apa yang terjadi? Lelaki yang baru saja menginjak usia delapan belas tahun--tiga bulan yang lalu ini-- melamarku. Dia berlutut di sampingku, dengan cincin di tangannya yang terulur padaku. “Aku tau, kita masih belasan tahun, tapi aku sungguh ingin menghabiskan belasan tahun, bahkan puluhan tahun sisa hidupku sama kamu, La. Bukan berarti aku ngajak kamu nikah sekarang juga, tapi ini sebagai penanda, bahwa kamu, Anggisya Nala Andriana Pamungkas, adalah milikku, Adhelard Akyo Ramadhan,” kata Kiyo sembari berlutut. Menatapku dengan teduh. Sejuk ini hati rasanya, sumpah! Aku berusaha meneguk salivaku. Karena tenggorokanku yang mendadak kering. Tandus. Gersang. Kayak ladang sawah yang diterpa kemarau panjaaaangg. Aku benar-benar mati gaya. Gak tau harus bergerak seperti apa. Lalu aku menoleh pada Ayahku, yang sudah mengulas senyum hangat padaku. Kepala Ayahku terangguk, lalu tangannya merengkuh Bundaku, yang tersenyum menye-menye padaku. Kemudian aku menatap Tante Vira, yang wajahnya bersinar banget, menyiratkan harapan agar anak gantengnya lekas diberi jawaban. Lalu pandanganku kembali pada Kiyo, yang masih berlutut. Dengan sorot teduhnya yang menyejukkanku. “Meski kalian masih belum cukup umur, tapi membahas sesuatu yang serius itu tetap perlu, Nala. Ayah serahin semua keputusan sama, Nala,” kata Ayahku bijak. Lalu dengan begitu saja, kepalaku terangguk. Tangan kiriku terulur dan disambut dengan tangan Kiyo, juga dengan cincin bermata biru yang dia sematkan di jari manisku. Ya, inget La, You’ve already taken by Akyo. Setelah cincin itu tersemat begitu apik di jari manisku, Kiyo beranjak dari berlututnya. Tersenyum luar biasa ganteng. Menatapku dengan binar bahagia di matanya...yang sipit. Lalu dia berucap lirih, “Lama banget deh, ngangguknya, dikata lututku ga pegel?” Aku membulatkan mata menatap Kiyo. Namun dia malah berlalu begitu saja, membimbing aku dan yang lain ke restoran di hotel. Kami makan malam. Aku melihat Kiyo yang tanpa ragu-ragu menyantap hidangan di meja dengan rakus. Aku gak jijik atau feeling ieeewhh gitu. Tapi aku merasa b**o, karena sejak siang, sejak Kiyo sampai di kostku, aku gak kasih dia apapun. APAPUN. Termasuk air putih. Ya Allah, La. Ngebiarin anak orang kelaparan dosa, loh. Setelah makan malam berakhir, atau lebih tepatnya, setelah makanan yang dihidangkan habis, kami memilih duduk di taman hotel. Aku duduk bersama Bunda dan Tante Vira yang membahas bisnis online shop. Lalu si Ace sama Aiko yang main hp, lirik-lirikan, yaeah bayi. Aku menatap Kiyo yang terlihat seksama mendengarkan Ayahku. Entah apa yang dikatakan Ayah, tapi aku lihat, Kiyo sama sekali tidak canggung. Bahkan bisa aku bilang, keduanya akrab. Terlebih saat cowok bermata sipit itu terkekeh bersama Ayahku. Dan pertanyaan ini mengusikku, Kiyo ngelamar aku, dan udah akrab sama Ayah? Lalu kapan Kiyo mempersiapkan ini semua? Dan.. kenapa Ayah dengan mudah ngasih restu? Nikah loh ini, bukan minta ijin ngajak bareng sekolah. * * * “Besok pagi, biar aku anter sepeda kamu ke kost, ya?” kata Kiyo setelah mematikan mesin mobil yang disewa Om Bayu. Berhenti di depan pekarangan kostku. Aku mengangguk, melepas seatbelt, lalu menatapnya. Di mana dia sudah lebih dahulu menatapku. Lalu getaran asing ini kembali menguasaiku. Degupan liar jantung ini, kembali melumpuhkanku. “Kamu..” Aku menghela napas. Aku bener-bener bingung mau ngomong apa, atau bertanya apa? Atau memulai menanyakan apa yang menggangguku. “Apa ini gak terlalu cepet?” Keluar sudah pertanyaan yang sama sekali gak aku siapkan. “Enggak, La. Emang jarak dari hotel ke kost kamu kan deket, jadi cepet.” Iya juga sih. LAH? “Bukan itu Kiyo!” sentakku, sembari memukul pelan lengan Kiyo. “Tau kok aku.” Kiyo terkekeh. “Lima bulan, La. Dan itu lama.” Aku menyilangkan tanganku, masih menatap Kiyo. Dengan tidak mengerti. Kiyo menghela napas. Pandangannya beralih ke depan. “Sebenernya, pas aku tanya kamu, pas di Sanur dulu, kamu masih lama apa enggak, inget?” Kiyo menatapku. Kepalaku terangguk. “Pas itu, aku mau langsung ngelamar kamu, biar romantis gitu. Kan di pantai, anginnya sejuk. Tapi kan gak sopan, La, aku main ngelamar kamu, tapi gak ijin sama kedua orang tua kamu.” “Kan bisa pacaran aja,” sahutku. Kiyo mengulas senyum hangat. “Aku gak mau pacaran. Aku gak pacaran,” kata Kiyo mantap. Aku diam. Menunggu kembali penjelasan dari Kiyo. “You know, I don’t believe in angel. Until I met you. That night, I know I met an angel in person. In the shape of 17 years old girl,” ucap Kiyo. Aku benar-benar menangkap nada sungguh-sungguh dalam ucapan Kiyo. Aku meneguk salivaku lagi. Dengan tangan gemetaran, yang kukepalkan. “Terlihat begitu cantik, meski gak punya sayap di punggungnya, namun malam itu, kamu, Nala, mampu membuatku terbang. Meski tidak begitu tinggi, namun mampu membuatku percaya, bahwa duniaku semakin indah, sejak tangan kamu menyambut uluran tanganku.” Dan getaran asing di dalam hatiku ini, malam ini, kuberi nama, Cinta. Cintaku pada Kiyo. * * * Aku langsung membuka pintu rumah kostku,segera setelah memutuskan panggilan telepon dari Kiyo. Meski dengan mata yang masih mengantuk, dan mengabaikan penampakanku yang baru bangun tidur, aku menyambut Kiyo. Yang rupanya juga baru bangun tidur deh, kayaknya. “Pagi-pagi banget deh, namu rumah orang,” keluhku. Namun aku tetap memberi jalan Kiyo untuk masuk. Ini masih jam lima pagi, kalau kalian penasaran. Meski udah terang benderang, tapi matahari belum nampak bersinar terang. “Pesawatku maju jam lapan, La.” “Bisa gitu, pesawat dimajuin?” Kiyo mengangguk. “Minta air putih, La.” Aku pun bergegas mengambil minum untuk Kiyo di dapur. Kiyo langsung menghabiskan segelas air itu dengan rakus. “Mami sama papi, lupa kalau ada janji, jadi re-schedule jadwal penerbangan.” “Oh.. bisa?” “Bisa, La.” “Aku sih gak pernah naik pesawat, jadi gak tau.” Aku menjawab jujur. Kiyo menatapku. Cukup lama. Tangannya terulur, membenarkan rambutku yang berantakan, menyelipkan anak rambutku di balik telinga. “Kok baru bangun, kamu udah cantik banget sih, La?” ucapnya. Kan, k*****t udah ni anak. Baru juga melek, udah dibikin baper-sebapernya. Tanpa perlu kaca, aku udah bisa melihat penampakan pipiku yang merona karena kebaperan ini. Kiyo masih menatapku. “Jadi gak tega mau ngajakin LDR,” lanjut Kiyo. “Ck.. pagi-pagi, abis gombalin anak orang, malah bikin sedih.” Aku mengomel. “Maaf, La. Tapi aku jujur.” “Tentang?” “Tentang kamu cantik, dan aku gak tega ngajak kamu LDR.” Aku mencebik. Membuang muka. “Udah sih, dibilang, itu bibir biasa aja. Nanti aku khilaf beneran loh.” Aku melotot menatap Kiyo. Mengangkat tanganku lalu meraupkan ke muka Kiyo pelan. “Tuh makan, tuh khilaf.” Lalu aku beranjak dari sofa. “Mau ke mana, La?” “Cari makan, aku laper,” jawabku, meraih jaket di gantungan. * * * “Semalem Ayah kamu nyampe rumah jam berapa, La?” tanya Kiyo setelah soto-nya habis. “Jam setengah satu kalau gak salah. Aku ngantuk banget, cuma bales iya doang.” Kiyo mengangguk. Lalu menyeruput teh manisnya. “Aku suka sama Ayah kamu, La.” Aku menoleh. Meletakkan sendokku, “Kalau suka sama Ayahku, kenapa ngelamarnya aku?” “Yakali, La, aku ngelamar Ayah kamu. Pelakor dong aku,” sahut Kiyo, dan kami berdua terkekeh. “Maksudnya tuh, Ayah kamu orangnya sederhana, ramah, tegas tapi tetap hangat gitu. Aku suka sifatnya.” Aku menyetujui penilaian Kiyo tentang Ayahku. Dan aku juga penasaran, kapan cowok di sampingku ini, ‘memintaku’ pada Ayahku. Kan gak mungkin-kan kalau semalem itu? “Aku, pertama ketemu Ayahmu, awal Juni lalu, La. Sama papiku.” Kepalaku langsung menoleh Kiyo lagi. Di mana Kiyo sudah menatapku. Seolah antisipasi. “Iya, Juni lalu, aku ke Jawa, ke kantor tempat Ayah kamu kerja. Bareng papiku, yang kebetulan ada urusan sama kantor tempat Ayah kamu kerja. Aku bahkan nitip kado buat ulang tahun kamu. Ya, meski telat sih.” Kiyo kembali mengangkat gelas teh manisnya. Sejenak aku teringat pada awal Juni lalu, saat Ayah pulang kerja. “La, ada titipan kado nih. Tadi ada temen kamu ke sini, tapi Ayah lupa nanya siapa?” kata Ayah saat kami baru sampai rumah, aku pulang sekolah. Aku hanya menerima kotak itu, lalu membukanya saat itu juga. Dress midi warna peach. Dengan potongan sederhana, tapi aku suka. “Jadi..jangan bilang kalau dress yang semalem aku pakai itu ternyata kado dari kamu?” “Emang dari aku.” Kiyo tersenyum tipis. “Dan aku seneng banget, pas kemaren, dress itu ada di kamar kamu, berarti kan kamu pakai.” “Tapi pas itu kan, kamu udah kasih aku kado.” “Apa? Voucher internet segiga, kamu kira itu kado?” Kiyo kembali terkekeh. “Ck, Kiyo!” Aku memekik, saat kaki Kiyo menendang kakiku. Meski pelan, tapi lumayan sakit. Sakitnya itu karena kakiku jadi lemes. “Kamu ada kuliah?” “Iya, jam 9.” “Gak usah nganter aku ke bandara, ya? Ntar kamu pulangnya sendirian.” Aku hanya mengangguk. Lagian ini anak pede banget, dikira aku mau anter dia? Setelah selesai sarapan, aku dan Kiyo pulang. Ya pulanglah. Mandi. Kepet udah makan di warung soto, ya cuma aku sama Kiyo kali ya. Kiyo kembali memboncengku naik sepeda. Lalu aku mengantarnya ke hotel, sekalian pamitan sama Om dan Tante. Lah kan yang mau cuss naik pesawat, mereka ya? * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD