Enam.
Aku kembali mendengar ketukan pintu kamarku. Kali ini disertai ungkapan panik dari yang mengetuk pintu. Lalu pintu yang terbuka. Dengan wajah panik Akyo.
“Apa?” tanyaku bingung.
“Ya Allah, La. Kirain kamu kenapa? Lama banget deh di dalam kamar.”
“Maaf, aku tadi kan shalat. Terus pas mau ganti baju, malah aku lupa belum ambil baju di londri.” Aku menjelaskan. “Buru-buru banget emang ke hotelnya? Udah ngantuk banget?”
“Ya gak gitu.” Kiyo mengedar pandang. Aku lihat, pandangannya terhenti pada dress midi peachku di gantungan. “pakai itu aja sih.” Dia menunjuk dress itu.
“pakai itu?” yang bener aja.
“Iya, pakai itu aja. Jangan lama-lama deh, keburu khilaf aku.”
“Apasih? Khilaf mulu deh.” Aku mengomel. “Serius aku pakai ini? Ntar aku dikira nganter kamu check in hotel lagi.”
“Kan memang kamu mau anter aku check in.”
“Dalam konotasi negatif, Kiyo.”
“Enggak, La. Udah, apa gitu aja, gak usah ganti lagi.” Aku semakin membulatkan mata. Yakali pakai training olahraga sama kaos oblong.
Kalau Kiyo gak berpenampilan ganteng bak artis yang mau pemotretan, aku juga gak akan bingung kalik.
*
*
*
“Aku duduk di mana?”tanyaku, disertai bibirku yang mengerucut.
“Ya duduk sini,” jawab Kiyo santai. Menepuk bagian depan sepeda gunungku. “Ayok, keburu hujan.” Kiyo memerintah.
“Kiyo, mending kita jalan aja deh, gak jauh kok.”
“Ih naik sepeda aja, biar cepet, ntar kamu pulangnya juga gak jalan sendiri.”
“Kamu aja ya, yang naik sepeda, aku jalan kaki aja. Deket kok.” Aku menolak.
“Yah, La, naik sepeda aja napasih, aku juga yang ngayuh.” Kiyo masih kekeuh. “Ayok.”
“Tapi aku pakai rok Kiyo.”
“Lah yang bilang kamu pakai sarung siapa? Udah deh naik. Aku bonceng depan makanya.”
Aku mencebik. Menatap sepedaku dan Kiyo bergantian.
“Biasa aja deh tuh, mulutnya. Ntar aku khilaf beneran, bahaya loh.” Dan sungguh dengan terpaksa, aku beringsut mendekat pada Kiyo. Kiyo melepas satu pegangan tangannya pada stang sepedaku. Memberiku jalan agar bisa duduk miring di depan. Itu namanya apa sih? Pokoknya tau kan sepeda gunung? Yang ada bagian depan lurus itu.
Aku sungguh merasakan jantungku yang berdetak cepat. Terlebih saat Kiyo membungkuk, memegangi kedua sisi stang. Dan secara tidak langsung kayak meluk aku gitu loh.
Kami sungguh dekat, manakala Kiyo mulai mengayuh sepedaku. Aku dapat mencium aroma parfum Kiyo yang menyegarkan. Juga hembusan hangat di ubun-ubunku yang berasal dari napas Kiyo.
“Rambut kamu beneran wangi stroberi ya, La?” seru Kiyo membuat kesadaranku kembali. Plis, tadi akutuh sempet lo ngelamun, ngebayangin dan berdoa sama Allah, semoga ban sepedaku bocor aja. Supaya kami jalan kaki ke hotelnya.
“Hmm..” Aku hanya berdehem.
“Sekali keramas habis berapa botol sampo, La?” katanya lagi.
Aku mendongak, menatap Kiyo yang pandangannya masih fokus ke jalan raya. “Maksud kamu?” Kini kepala Kiyo tertunduk, dan buru-buru aku mengalihkan pandang ke jalan. Wah, bisa kembali tabrakan nanti keningku sama dagu Kiyo.
“Rambut kamu panjang banget, La.”
Iya. Rambutku memang panjang banget, nyaris sepinggang, dan selalu aku urai, karena suka aja. Gak pegel kepala. Palingan kalau gerah, aku kepang, sampir ke bahu, udah. Ini tadi gak sempet ngepang karena tanganku udah pegel ngetik.
“Sampo bayi sih murah, Kiyo. Jadi habis sebotol setiap kramas juga gak bikin Ayahku bangkrut.” Aku menjawab asal. Meski tidak melihat, aku dapat merasakan kalau Kiyo tersenyum.
*
*
*
Saat ulang tahunku ke 18, empat bulan yang lalu, aku mendapat kejutan yang gak akan pernah aku lupakan. Bertetapan dengan pengumuman kelulusan. Teman-teman sekelasku mengerjaiku habis-habisan.
Kalau biasanya, setiap ada teman sekelas yang ulang tahun, pada disiram air, dilempar telur dan tepung. Tapi pas ulang tahunku ke 18, Najwa dan Nadin, malah menyiramku dengan air kolam ikan, beserta ikan-ikan koi yang berenang-renang di dalam kolam. Membuat ikan itu pindah habitat, masuk di seragamku. Nyangkut di saku kemeja baju pramuka. Belum lagi teman sekelasku yang lain, melempariku dengan telur busuk, dan juga tepun. gila ini bukan tepung terigu yang putih-putih melati ali baba itu, tapi tepung panir. Gila kan mereka? Ngepein? Mau bikin aku jadi adonan misua?
Ya Allah, dan sumpah itu tuh bau banget, makanya gak akan pernah aku lupain. Karena aku harus ngerendem badan setengah jam lebih demi menghilangkan bau amisnya.
Lalu hari ini.
Akan bertambah satu lagi, hari yang tidak akan pernah aku lupakan.
Jadi, coba tebak kenapa?
Kiyo memindahkan satu tangannya dari stang sepedaku, memberiku jalan agar aku bisa turun dari sepeda. Aku pun turun. Meski aku sungguh tidak bisa merasakan kakiku, karena sungguh selama perjalanan dari kostku menuju hotel, getaran asing ini seakan melumpuhkan semua-muanya. Ya organ tubuh, akal sehat, serta otot-otot yang seharusnya bekerja lembur bagai pepsoden.
Kami hanya diam setelah pembicaraan sampo. Kiyo fokus mengayuh sepeda, mengikuti arahanku menuju hotel. Tapi.. saat telinga nakalku menangkap detak jantung Kiyo yang seirama dengan detak jantungku yang liar. Getaran ini langsung membuatku lemas.
“Udah, itu biasa aja deh wajahnya.” Suara Kiyo membuatku menoleh. Dia sudah memarkirkan sepedaku. Kini berdiri di depanku. “Yuk masuk.”
“Kamu gak sendiri aja?” Karena Kiyo diam. Aku melanjutkan, “Sumpah aku tuh kayak salah kostum loh.”
Dan itu membuat Kiyo kembali menilik penampilanku. “Gak kok. Pas banget malah.”
Apanya yang pas?
Aku menghentakkan kakiku pelan, berjalan mendahului Kiyo memasuki hotel.
And guess what happen next?