BMF - 5

1490 Words
Lima “Aduh, kalau kamu ngadu sama Bunda, bisa diomelin sampai lima minggu aku, Din.”Aku berkata pelan. Menepuk-nepuk mulutku. Nadin, yang duduk di depanku malah terbahak. Jadi, aku abis misuhin si Nadin ini pakai pincuk kuda, karena bukannya dia mau minjemin laptop, dia malah bilang ntar laptopnya dipakai sama cowok gebetan barunya. Kan.. Pincuk banget. “Lagian itu mulut kamu kenapa dah, La. Filteran rusak?” Nadin masih terbahak. “Terus aku ngerjain tugas gimana, Din? DUA HARI LAGI DIN.” “Lah, kan aku udah kasih resensi yang aku kopas kemarin di WA.” “Iya, terus ngeprint-nya gimana? Aku tetep butuh microsoft word, Din.” “Pinjem Bulekmu aja, sih.” “Bulek Dinda lagi di luar kota. Ngunjungin Bulekku yang kembar.” “Ya udah ke warnet.” “Ya Allah, Nadin. Tahun berapa ini? Warnet mana yang masih eksis?” Sementara aku yang kembali misuh-misuh dalam hati, si Nadin ular keriting ini malah kembali terbahak. Ini Kiyo mana deh, katanya bantuin, tapi gak ada kabar. * * * Aku menarik kesal keyboard usb yang baru setengah menit lalu aku pasang. Lalu aku melemparnya ke atas kasur. Dan sialnya malah natap tembok. Aku buru-buru beranjak dari meja belajarku. Berhamburan memeluk keyboard yang barusan aku lempar. Aku mencebik. “Please deh, keyboard, kerjasamanya, dua jaaaaam aja. Aku butuh banget ngetik resensinya.” Aku berkata sendiri bagai orang b**o. Lalu segala sumpah serapah keluar dalam hati untuk Nadin yang sore ini katanya ngeDate sama senior kami di kampus. Nonton film The Space Between Us di laptop Nadin. Aku masih memeluk keyboard itu, saat pintu kost-anku diketuk. Aku melirik jam di dinding. Setengah empat sore. Lalu teringat chat Nadin bahwa Najwa akan datang ke Surabaya. Aku buru-buru meletakkan keyboard itu di meja belajar, berjalan cepat meraih handle pintu. Membukanya. “Hai,” sapanya dengan suara merdu. Bukan Najwa. Suara merdu itu milik dia. Adhelard Akyo Ramadhan. Jangan lupakan tangan kanannya yang bergerak di udara. Melambai. Kiyo tersenyum. Ya Allah itu beneran Kiyo? Kiyo yang calon jodohku itu? Eh, apasih, La. “Assalamualaikum, kek,” kataku asal. Tangan Kiyo yang melambai itu lantas menepuk kening Kiyo. “Astaghfirullah, lupa. Assalamualaikum, Nala.” Kiyo meralat ucapannya. Tapi tidak dengan senyumnya. Senyum yang luar biasa ganteng itu masih sama. “Waalaikumsalam,” balasku, menggeser badan, mempersilahkan Kiyo masuk. “Masyaa Allah, kost kamu abis diserang negara api?” komentar Kiyo begitu melihat wujud ruang tamu di kostku. Giliran aku yang menepuk kening. Kiyo menoleh padaku, “Diserang negara api, apa pelakor, La?” tanyanya lagi. Kini senyumnya mirip seringaian. “Diserang badmood karena laptop gak bisa. Dan orang yang ngerusak laptop aku malah kencan sama senior. Terus orang yang bilangnya mau bantuin aku, eh, tiba-tiba nongol.” Aku berjalan, berlalu dari Kiyo, memunguti buku-buku yang berserakan di ruang tamu. INI BUKAN ULAHKU SUMPAH. Ini ulah Nadin, dia bilang, dia lupa naruh flashdisknya, lalu dateng ke kostku, bongkar-bongkar kardus bukunya yang dia titipkan di kostku.dan saat dia menemukannya, jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga. Yang mana Nadin ada janji jam tiga. Jadi si ular keriting itu pergi gitu aja. “Yaudah sih, gak usah cemberut gitu, La.” Kiyo meraih buku yang aku pegang. Memindahkannya ke kardus di seberang sepedaku. “Ini tuh gara-gara ular,” gumamku kesal. “Di kost kamu kemasukan ular?” tanya Kiyo yang tiba-tiba berdiri di depanku. Membuatku sungguh, selain tidak siap, jadi jantungan karena kaget. Ya gimana enggak, kalau kepalaku gak ada remnya, udah nyosor deh ini kening ke dagunya Kiyo. “Terus ularnya di mana?” “Ularnya lagi nonton film sama senior gebetannya.” “Gebetan seniornya maksud kamu?” Aku mengangguk. “Kok kamu tiba-tiba ada di sini?” Kiyo mundur beberapa langkah, memberiku jalan untuk melangkah menuju kamar. “ke mana, La?” “Ke kamar?” “Aku males beresin kekacauannya Nadin, Kiyo.” “Oh..” Kiyo berjalan menuju pintu, membuka pintu depan kostku. “Kok dibuka?” “Biar setannya keluar, La.” Kiyo semakin membuka lebar pintu kost-ku. Membuatku mengerutkan dahi. Kiyo lantas menoleh padaku. “Biar aku gak digebukin warga sini.” “Lah emang kenapa?” tanyaku polos. Dan untuk pertama kalinya aku melihat bola mata Kiyo berputar malas. “Mana laptop kamu yang rusak?” Kiyo melangkah mendekat. Sedang aku langsung saja menunjuk laptopku di meja belajar. “Bismillahhirohmanirrohim,” gumam Kiyo yang dapat dengan jelas aku dengar saat cowok ganteng itu memasuki kamar kostku. Kiyo melepas tas ranselnya, kemudian dia mengambil laptop dari dalam tas itu. Menyodorkannya padaku. “Nih, kamu pakai laptopku buat ngerjain tugas kamu.” Aku bengong untuk lima detik. Menatap laptop hitam itu, dan Kiyo bergantian. Sebelum akhirnya tanganku menerimanya. Kemudian Kiyo mengambil laptopku di meja. Dia terduduk di atas kasurku, bersila dan mengeluarkan kembali sesuatu dari dalam ranselnya. “Apa tuh?” Aku kepo. Kiyo menolehku sekilas, kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya, mengeluarkan beberapa barang dari dalam tas. Aku hanya mengamatinya. “Jangan liatin aku terus, La. Kerjain itu tugas kamu,” suruh Kiyo. “Bilang dulu, itu kamu mau ngapain?” “Mau benerin laptop kamu. Udah sana duduk manis, aku benerin laptop kamu sambil ngasih resensi film the conjuring yang aku lihat dua hari ini.” Mataku sukses membulat sempurna. “Kamu beneran nonton?” Kiyo mengangguk sekilas, tanpa menatapku. * * * “Terus, si hantu yang anak kecil itu? Ngapain dia muncul?” tanyaku. Kiyo mengerutkan kening. Terlihat mengingat. “Dia kan muncul karena karena mainan dia dibuka sama anak terakhir keluarga Roger. Terus ternyata si Rory itu bisa dilihat sama April. Jadi ya gitu deh, La.” Kiyo menjawab sambil masih mengutak-atik laptopku. “Kok ya gitu deh, yang jelas Kiyo.” “Ya Allah, La. Aku udah jelasin gamblang segamblang-nya, tapi kamu muter-muter situ aja pertanyaannya.” Iyasih. Emang. Abis aku penasaran banget. Aku mengalihkan pandanganku dari Kiyo. Kembali mengetik tugasku di laptop Kiyo. Subhanallah ya, emang laptop mahal itu enak banget dipakainya. “La,” panggil Kiyo. “Hmm..” Aku masih mengetik tugasku. Dikit lagi, La. Aku menghela napas, menoleh lagi pada Kiyo. Dan ajaibnya, dia masih itu benerin laptop. Tangannya terampil banget pasang-pasang apa itu aku gak tau namanya. Aku diam. Menatap cowok asing yang tiba-tiba aja juga menumbuhkan perasaan asing di hatiku. Dalam diam, aku terharu. Ya Allah, ini cowok ganteng pernah bilang gak suka film horor, tapi dia nonton juga itu film demi tugasku. Terus benerin laptopku, bahkan dia beliin juga sekalian itu keyboard buat laptopku. Bunda, ini jodohannya jadi kan? Soalnya calon jodoh Nala ini so seaweed banget. Eh so sweet Bund. “La,” panggil Kiyo lagi, kali ini dia menatapku. “Eh, udah nengok,” katanya sembari tersenyum lagi. “Hotel deket sini, di mana La?” “Ada, di deket gang besar, sebelum masuk sini. Kenapa?” “Ya buat aku tidur lah, La. Ini laptop kamu udah bisa,” kata Kiyo, aku melihat dia menekan tombol power di laptopku. “Oh, gak nginep sini aja, emangnya?” Kiyo menatapku, sementara aku mengalihkan pandang pada laptopku. “Gak lah. Kalau aku khilaf bisa bahaya, La.” “Oh.. kirain kamu gak level, nginep di kost aku yang cuma ada kamar sama dapur doang.” “Ya bukan gitu, La. Apa kata tetangga kost kamu, kalau baru beberapa bulan kost di sini, kamu udah ajak nginep cowok. Mana belum muhrim.” Aku langsung terbahak mendengarnya. “Ye, malah ketawa.” Kiyo melempariku dengan selotip kecil. “Ih Kiyo, belum apa-apa udah KDRT aja.” Aku mengeluh, memungut selotip itu dan meletakkan di meja belajarku. “Lagian, kalau kamu khilaf, aku ada pompa sepedah dong, tuh.” Aku menunjuk pompa kecil yang dibelikan Ayahku bersamaan dengan sepeda. Kiyo mengernyit, menatapku dan pompa itu bergantian. “Pompa buat apa?” “Buat mukul kepala kamu, kalau kamu khilaf.” “Ya Allah, Nala jahat banget. Udah dibelain juga dari Bali ke Surabaya.” “Dih, gak ikhlas?” Aku merajuk. Akting. “Ya ikhlas, La.” Kiyo melirik jam di meja belajarku. “Yaudah, aku shalat maghrib dulu, abis itu anter aku ya, ke hotel?” Aku mengangguk. Membantu Kiyo membereskan kehebohan di kasurku. Kiyo mengambil alih perlengkapannya, obeng, dll. Sedang aku membereskan kardus dan plastik wadah keyboard. “Besok pesawatku jam 10 pagi, La,” ucap Kiyo. Dia sudah di ambang pintu kamar mandi. Entah kenapa aku merasa kehilangan. Aku menghela napas berat. “Langsung balik?” “Iya, kan aku juga harus ngampus, La.” Meski berat hati, aku mengangguk. Demi apa, ini hati mendadak berat aja gitu kalau harus ditinggal Kiyo. “Pinjam sajadah ya La,” ijin Kiyo, mengambil sajadah creamku yang tersampir di kursi samping ranjangku. Aku cuma mengangguk. Beranjak dari duduk, berniat keluar dari kamar. “La,” panggil Kiyo lagi. Ya Allah, jangan panggil-panggil napa. “Apa?” “Kiblatnya, mana ya, La?” tanyanya dengan menyengir. “Tuh, jendela.” Aku menunjuk jendela besar di belakang ranjangku. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD