Terasa jauh berbeda dengan hari biasanya. Tubuhnya lemah tak bertenaga. Untuk berbicara panjang kali lebar saja tak mampu. Hanya bisa melaksanakan shalat subuh sendirian di rumah karena Zayyan pergi ke masjid, aku kembali terkapar di atas ranjang usai sesuatu dalam lambungku terus mendesak untuk segera di keluarkan dari mulut. Sudah tak terhitung berapa kali aku bolak-balik ke kamar mandi. Mataku juga berkunang-kunang, rasanya dunia ini sudah terombang-ambing. “Ya Allah, apa aku mau mati?” gumamku resah. Satu hal terlintas dalam benak pikiranku, yaitu kata mati. Aku yang tak pernah sakit sebelumnya pasti sekali sakit langsung berkalang tanah. Astaga, apa yang aku pikirkan saat ini. “Iyan,” lirihku memanggil namanya. Entah kenapa pagi ini dia terlambat pulang. Apa karena hari libur jadi

