Bab 65

1744 Words

“Aaa … Sabila, akhirnya kamu hamil juga.” Suara teriakan dari Bunda Tanti menggema ke seluruh penjuru rumah. Tak hanya itu, Ummi Hanifah juga heboh sendiri, sementara Papa hanya diam tapi sorotan matanya itu loh yang menusuk ke mata seraya mengusap kumisnya. “Bun, gak usah norak,” sahutku seraya membalas pelukannya, lalu pelukan Ummi Hanifah juga, sedangkan Papa langsung memilih duduk. “Papa kira kamu gak bisa bikin anak,” ujar Papa. Sekali bersuara memang maknyus. “Jangan didengerin ucapan Papa! Sesat,” sahut Bunda Tanti duduk di sisiku. Aku menatap Papa yang membuang napas. Kalau sudah sama Bunda Tanti, Papa hanya diam manis, takut disuruh tidur di ruang tamu kalau suka nyela omongannya, apalagi kalau lagi marahan, bisa beku—mode puasa ngomong. “Gimana masih lemas?” tanya Ummi Hanif

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD