Berita persalinanku menyebar begitu cepat. Senyum bahagia hadir dari sudut bibir mereka. Tapi sayangnya mereka datang bukan untukku melainkan untuk bayiku. Terbukti, begitu pintu terbuka semua berhamburan pada box bayi, di mana bayiku sedang tidur di sana. Sementara aku sendirian di brankar. “Aku loh yang melahirkan, kenapa kalian gak pada tanya kabar aku?” Aku mengerucutkan bibir menunjukkan rasa kesal dicueki. “Kamu sudah pasti baik. Buktinya masih bisa bernapas,” sahut Papa sungguh menyakitkan. Nada ketus, raut wajah datar tanpa senyum itu membuatku menyesal telah membiarkannya masuk. Harusnya tadi aku suruh suster untuk menutup pintu rapat kalau ada si kumis masuk. “Bunda, Ummi,” panggilku menatap mereka yang sibuk dengan bayiku. Aku bersiul berkali-kali barulah mereka menoleh. “I

