bc

TemanKu KekasihKu

book_age12+
4
FOLLOW
1K
READ
friends to lovers
goodgirl
student
drama
comedy
sweet
serious
highschool
school
friends
like
intro-logo
Blurb

Kehidupan masa SMA seorang gadis cantik jelita bernama Aeby Erna Permatasari. Dimana berisikan masa-masa indah SMA dengan segala intrik yang menghiasi kehidupan remaja, hingga menghujung dengan sebuah hubungan yang berkelanjutan.

Kehadiran sosok Sean Falqib Soni, remaja tampan rupawan dan sedikit menyebalkan dalam kehidupan Erna telah berhasil membawa suasana baru, meskipun pada awalnya Erna telah berkomitmen untuk tidak menjalin hubungan dan berpacaran saat sekolah

chap-preview
Free preview
Teman Sebangku
Teman adalah orang yang kau percaya Teman adalah orang yang slalu ada untukmu Teman adalah orang yang mempercayaimu *** Hari pertama masuk SMA tapi seragam masih putih biru, maklum karena aku anak baru. Suasana sekolah masih sepi karena aku sengaja datang lebih pagi. Anak kabupaten yang masuk kesekolah di kotamadya pasti harus lebih pandai memperkirakan waktu tempuh dengan kemacetan yang mungkin terjadi. Satu persatu murid-murid sekolah berdatangan, ada yang diantar dengan mobil, ada yang naik motor tapi lebih banyak yang berjalan kaki. Sekolah kami berada dilingkungan perumahan yang cukup jauh dari jalan utama. Makanya tak heran bila setiap masuk dan pulang sekolah banyak berhamburan kendaraan. Aku masuk kelas 1.10. Kelas paling bontot. Entah mengapa alasannya aku bisa masuk kelas ujung, padahal daftar ulangku terhitung paling awal. Mungkin karena aku tidak bisa membeli semua paket sekolah, diantaranya jas laboratorium. Aku tak membelinya karena jas lab bekas kakakku masih bagus. Kelas 1.10 hanya ada 41 murid. Aku jadi murid yang tidak punya teman sebangku. Hari-hari yang kulalui terasa begitu membosankan. Aku termasuk orang yang tidak pandai bergaul, jika kalau tidak ada yang menghampiri, maka aku tak akan menghampiri mereka. Mereka begitu asyik bercengkrama, aku pun asyik dalam kesendirian. ***** Tiga bulan berlalu aku masih tetap sendiri. Teman-teman sekelas hanya sebatas teman saja tidak ada yang istimewa menjadi temanku atau sahabatku. Rupa-rupanya Tuhan mengirimkan juga seorang teman untukku. Teman yang menemani dan menghiasi lamanya kesendirianku. Hari senin, Wali kelas kami datang bersama seorang siswi. Dia cantik dan anggun, t**i lalat di pipinya menambah kesan aura kecantikannya kian terpancar. Rambut sepunggung tergerai indah. Nampak sederhana tapi begitu mempesona. "Anak-anak, ibu akan memperkenalkan teman baru pada kalian," suara Bu Yani membuyarkan keterpesonaanku pada murid baru. "Silahkan, perkenalkan namamu . . ." Perintah Bu Yani sambil menggandeng murid baru. "Baik, Bu". Murid baru menyambut perkataan Ibu Yani. "Perkenalkan nama saya Casandra Watiany. Teman-teman bisa memanggil saya ‘Wati’," kata Wati selanjutnya. "Silahkan, Wati. Kamu cari tempat duduk." Perintah Bu Yani. "Baik,Bu" Wati menjawab pendek. Kemudian Wati menghampiri tempat dudukku. "Disini masih kosong kan? Boleh saya duduk disini?" Tanya Wati beruntun. "Tentu saja boleh. Mari sini, masih kosong kok" ajakku sambil tersenyum "Baiklah anak-anak. Mari kita lanjutkan pelajaran Matematika hari ini. Kalian buka Bab III tentang Aljabar!" perintah Bu Yani. Suasana kelas yang sudah panas tambah panas dengan mata pelajaran Matematika. Ruang kelas yang sempit semakin menambah semarak suasana hati. Rasa senang karena mendapatkan teman sebangku, ditambah pelajaran Matematika juga suasana kelas yang panas karena cuaca terik dan kelas yang sempit. Komplit semuanya ada. Beruntunglah kali ini aku punya teman untuk berbagi, teman yang bisa diajak bicara kala suka maupun duka. Walau suasana kelas rasanya ’nano nano‘ asam manis asin, tapi ku menikmati nya tidak sendiri lagi, ada wati yang menemani. Dua jam pelajaran terasa lama bila mata pelajarannya kurang menyenangkan. Aku sih, bukannya tidak suka sama pelajaran Matematika, tapi bosan sama cara gurunya dalam menerangkan. Padahal waktu SMP pelajaran ini sangatlah kusuka karena gurunya enak dalam menerangkan nya. Walaupun gurunya wali kelas tetap saja kalau yang diterangkannya susah dipahami jadi terasa tidak betah. Maunya segera selesai saja. Bel tanda bergantinya jam pelajaran terasa lama berbunyi. Tidak seperti mata pelajaran yang disukai walau 3 jam lamanya itu akan terasa sebentar. *** Bel tanda berganti jam pelajaran berbunyi. Aku bersorak dalam hati ’Akhirnya, berakhir juga‘ Sambil menanti pelajaran berikutnya, Wati pindah ke tempat duduk di barisan keempat. Kami duduk di barisan kedua. Kulihat Wati menemui seseorang. Dia menghampiri Lia. Dia langsung ’cipika cipiki‘. Aku sampai terheran-heran. ‘Apa hubungannya Lia sama Wati?’ Belum juga terjawab rasa penasaranku guru Sejarah sudah berada didepan kelas. Kulihat Wati juga kembali kebangku kami. Tapi aku tak berani bertanya apapun padanya. Kami larut dalam pelajaran Sejarah yang mengasyikan. Ya, karna pengajarannya begitu asik menerangkannya. Waktu 2 jam pelajaran terasa sebentar, tidak seperti jam awal pelajaran. Bel tanda istirahat berbunyi, aku bergegas pergi ke musola untuk mendirikan shalat Asar. "Wati, ayi kita shalat dulu!" ajak ku pada Wati. "Saya sedang tidak shalat,Na." jawabnya "Ooo" hanya bunyi "o" yang keluar dari mulutku. Akupun akhirnya pergi sendiri ke musola. Dimusola antrian untuk berwudhu sudah panjang, apalagi di dalam musolanya sudah penuh sesak. Terpaksa aku harus menunggu mereka selesai dulu. Limabelas menit menunggu, akhirnya aku bisa mendirikan shalat Asar. Suasana musola sudah mulai sepi, hanya tinggal beberapa orang saja yang sedang berwudhu dan masih shalat. Kulihat jam dinding di musola sudah menunjukkan pukul 15.30, artinya sebentar lagi bel masuk berbunyi. Aku bergegas menuju ke kelas. Kulihat dari ruang guru, guru Kimia sudah keluar dan segera menuju ke kelasku. Setengah berlari aku menuju kekelas. Syukurlah aku bisa masuk lebih dulu dibandingkan guru Kimia. "Erna, kenapa kamu terengah-engah?" tanya Wati. "Tadi aku berlari, karena melihat Bu Elizabeth sudah keluar dari ruang guru. Untung saja aku bisa masuk lebih dulu, kalau tidak alamat kena tegur." jawabku menerangkan. "ah, apa Bu Elizabeth orangnya galak?" tanya Wati lagi. "galak sih enggak. Tapi ya ga enak aja gitu kalau sampai dia masuk duluan." terangku lagi. Obrolan kami terhenti karena Bu Elizabeth sudah masuk kelas. Dua jam pelajaran Kimia pun terasa sebentar karena beliau sangat lihai transfer ilmu. Kami seperti terbius oleh gayanya yang sederhana tapi berwibawa. Tak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulut siswa, semuanya terhanyut dalam menikmati sajian Kimia yang menarik. Walau pelajaran baru yang kami dapatkan, tapi kami tak merasa asing dengannya karena ternyata Kimia sudah sering kami dapati dalam kehidupan sehari-hari. Aku takjub di buatnya, walau dia seorang Nasrani tapi tak tampak membeda-bedakan dalam urusan pelajaran. Sungguh dia guru teladan. Ternyata, memang benar dia adalah guru teladan di SMA ini. 'hah pantas saja'. *** Bel berbunyi tanda ia harus segera meninggalkan kelas kami. Tinggal satu lagi, mata pelajaran Agama. Agama jadi pelajaran penutup untuk hari ini. Seorang guru berkerudung ‘ala emak-emak’ masuk ke kelas kami. Perut yang waktu istirahat belum sempat terisi ini mulai berbunyi. Untunglah sebentar lagi pelajaran nya berakhir. Memang selang nya tak terlalu lama bel tanda pulang berbunyi sangat lama dan mendayu-dayu, seperti ucapan selamat tinggal dan jumpa lagi esok hari. Wajah ceria dari semua murid pun terpancar cerah. Wati teman sebangku pun langsung berhambur berebut keluar menuju pintu. Tapi, aku seperti biasa menunggu sepi baru beranjak dari kursi. Wati berseru padaku, “Erna, ayo pulang, kau mau bermalah di kelas?” Aku hanya tersenyum menanggapi candaannya. Entah kenapa duniaku kini jadi berwarna. Ya, mungkin karna ada yang mewarnainya. Dialah, Wati. “Sampai jumpa esok, bye! Assa'lamualaikum!" serunya lagi. “Ya. Wa'alaikumsalam," jawabku. Kami pulang beda arah. Dia ke Utara sedangkan diriku ke Selatan. Jadi kami tidak bisa mengobrol banyak saat pulang. Kebetulan aku punya teman SMP yang sama masuk ke SMA ini. Dia tengah menungguku didekat pintu gerbang. "Na, disini!” seru Tika. ”hah sudah lama menunggu?” tanyaku "belom ko. Tuh, ayahku sudah menjemput. Ayo pulang bareng!." ajaknya. "Ayo" jawabku dengan senang, ‘karena artinya ongkos untuk naik angkot jadi selamat. Aku jadi punya uang lebih buat minggu ini. Alhamdulillah, rezeki hihi.’ Kamipun masuk ke mobil. Tika duduk di depan, sedangkan diriku dibelakang. “ini siapa, sayang?” tanya ayahnya. “teman SMP aku, pah." jawabnya “oh, dimana rumahnya?" tanya ayahnya lagi. “itu iho pah, yang di dekat pencucian mobil langganan Papa." terang Tika pada ayahnya. “ooh disana, pencucian Haji Jaja?" tanya ayah Tika memastikan. “iya, om. Itu uwa saya. Kakaknya ibu saya," kini giliran ku yang menjawab. “syukur deh, Tika jadi punya temen," kata ayahnya lagi. Kami larut dalam diam menikmati perjalanan yang dihiasi kemacetan di kota Bandung. Holla smuanya, thank's buat yang udh baca sampe akhir. Jan lupa sebelum pergi sematkan tanda hearts nya ya. Sorry kalo banyak typo, kata² baku jga dsb soalny msih pemula. juga niat pertama emang pengen bikin semi SMA baku dulu. jan lupa komen juga ya-!!! 28 November 2021

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.8K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook