Teman adalah orang yang mengerti dirimu
Teman adalah orang yang slalu membuatmu bahagia
Teman adalah salah satu sahabatmu
***
Ujian Tengah Semester tinggal menghitung hari. Kami mulai sibuk mempersiapkan diri. Jadwal ujian pun sudah ditempel dipapan pengumuman.
moga otak masih aman buat ngafalin materi jga kisi-kisi 33>
Jadwal masuk ujian tidak sama dengan jadwal sekolah biasa. Bagi yang jadwal masuk pagi sepertinya tidak ada perubahan, hanya jadwal pulangnya saja yang jadi lebih cepat. Bagi yang masuk siang ada pergeseran waktu masuk. Biasanya masuk pukul 13.00 kini jadi pukul 11.00.
Perubahan jadwal ini sangat melegakan bagi kami yang masuk siang. Kami tidak akan pulang terlalu sore atau sampai kemalaman karena jadwal yang digeser. Kami tidak akan terjebak kemacetan sore hari karena bersamaan dengan pulang nya orang-orang dari tempat kerja mereka.
Sabtu-Minggu menjadi hari tenang untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian. Bagiku hari tenang bukan lah hari tenang, karna tetap saja tidak dapat menenangkan diri. Banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, banyak PR sekolah juga yang masih belum tuntas.
***
Hari Senin yang menegangkan datang. Kami bersiap untuk menghadapi ujian. Wati langsung memburu ku dengan wajah cerianya.
“Erna, bagaimana sudah siap untuk ujian sekarang?" tanya Wati.
“Insyaallah, Wati." jawabku
“hah. . . aku tidak bisa menghafal, tadi malam mati lampu," keluh wati sebari membuang nafas beratnya.
”lalu? sekarang gimana cara kamu buat ngisi ujian hari ini?" tanyaku
"mungkin gimana entar aja liat soal nya." jawab Wati lemas.
"sekarang masih ada 15 menit lagi, kamu bisa baca catatan kecil ini." ujarku sambil memberikan catatan kecil seperti nota mini market.
"woah, trimakasih sayang hihi." Wati berucap sambil tersenyum bahagia. Ya pasti karna jawaban soal nanti dia tak asal-asalan semua.
Kulihat Wati larut dalam hafalannya. Dia terlihat begitu serius membaca setiap kata dalam catatan kecilku.
‘mudah-mudahan bisa membantumu nanti, Wati.'
***
Bel tanda masuk berbunyi nyaring sekali. Semua murid berhamburan menuju ruangan ujian mereka masing-masing.
Ku perhatikan satu wajah kuyu dari tadi. Dia, Rendi temanku. Jelas membuat perhatian ku tersita karna wajah yang selalu kocak, b****k dan barbar itu kini terlihat sangat murung.
'Apa dia lagi ada masalah? ga biasanya tu punya muka begitu.'
***
Jam pertama mata pelajaran Agama. Mata pelajaran ini bagiku bukan masalah. Bukan nya sombong tapi memang setiap ulangan pasti nilai ku yang paling tinggi dari semua teman sekelas ku. Apalagi kalo tes hafalan surat, hanya aku yang mengambil surat yang ayat-ayatnya panjang untuk di tes. Ya mungkin itu salah satu kelebihan yang patut kusukuri.
Walau semua soal sudah dikerjakan, tapi aku tidak mau cepat-cepat ke luar ujian. Aku periksa kembali soal yang sudah diisi, siapa tau ada kesalahan yang harus diperbaiki. Aku ke luar ruangan bila sudah betul-betul merasa yakin akan jawabannya.
***
Istirahat 15 menit menuju jam kedua ku gunakan untuk kembali melihat-lihat catatan kecil ku yang tadi. Ku melirik sedikit ke arah Wati yang keluar selang beberapa menit dariku, dan langsung memeluk ku kegirangan.
"ada apa Wati?” tanyaku.
“aku bersyukur punya sahabat punya sabahat seperti mu Erna." kata Wati.
“hm? emangnya aku kenapa?” tanyaku lagi
“kamu telah menyelamatkan ku Erna, hihi." katanya lagi sebari memeluk tangan ku lebih erat.
“menyelamatkan? emang saya ngapain? ku ga ngerti Wat." kataku keheranan.
*peka dikit nape Erna, oke lanjut.
“aku tadi jadi bisa mengerjakan soal ujian karna kamu memberikan ku catatan kecil. Hampir semua jawaban nya ada di catatan kamu tadi." kata Wati menerangkan
“kirain apa, syukur deh kalo gitu. ku turut seneng." jawabku bersamaan dengan tangan ku yang terulur untuk mengacak acak surai nya.
Wati kembali larut dalam catatan kecil Bahasa Indonesia bahan ujian jam berikut nya. Sesekali ku lihat dia bergumam sendiri, lalu membolak balik catatan kecil itu. Berkali kali juga kulihat keseriusan dia.
Aku hampir lupa pada sosok lelaki tadi. Ya, Rendi yang tadi kulihat begitu murung. Kucari cari di sekeliling depan kelas tapi tak kunjung kutemukan. Aku berkeliling ke belakang pohon sukun, kulihat seseorang tengah duduk termenung. Kucoba untuk mendekatinya dan menepuk pundak nya.
Rendi sepertinya terkejut dengan kehadiranku.
"eh ternyata kau Erna, kira siapa." katanya
"apa yang kau lakukan disini Ren? biasanya suka kumpul sama yang lain di kantin." tanyaku
"ga, gapapa ko." jawabnya pendek dengan ekspresi datanya.
"hais menyebalkan, gapapa tapi temenung murung kek bunga ga di kasih sinar matahari. Ada apaan sih Ren? tanyaku lagi penasaran.
"haha iya iya, ku cuman lagi kesel doang sama ibu tiriku itu." kata Rendi tiba-tiba
"ibu tiri? emangnya kenapa sama ibu tiri kamu, sampe bisa kesel gini?" tanya ku lagi
"dia terlalu mendikte, mengekang, banyak aturan, banyak cengcong, dan apalah itu. Mending kalau konsenuen. Ini hanya berlaku buat ku sendiri." keluh Rendi
"aku jadi tak betah ada di rumah. Bawaannya pengen keluyuran terus, pengen keluar dari rumah intinya. Malas belajar juga." keluh nya lagi.
"menurutmu, ku harus ngapain Na? kepala ku dah puyeng mikirin nya." tanya nya tanpa kuduga Rendi meminta saran.
"menurut ku, kamu seharusnya tetap fokus pada pelajaran disekolah. Kamu bukan murid yang kurang ko. Ku percaya kamu bisa berprestasi, yang penting kamu mau belajar. Kamu harus tunjukin sama ibu tiri mu, bahwa anak yang selama ini dia kekang atau dia tindas bisa berprestasi." saranku meluncur dengan mulusnya seperti air terjun.
Kulihat Rendi tersenyum seolah tengah mendapatkan ilham. Lama dia menatap ku hingga membuat ku sedikit salah tingkah.
*wajar cwek di tatap lamat ma cwok kan pasti rada salting untung ga melting kek keju
"kamu ngapain trus natap ku kek gitu?" tanyaku ke-GR-an
dia meretas senyum dan mengacak gemas surai ku, "aku tak percaya kau bisa berkata kata seperti itu. Seperti Guru BP saja." jawabnya sebari melepas elusan di kepala ku namun tak melepaskan tatapan nya itu.
"ish jadi berantakan kan" ucapku sambil membenahi rambut yang ia acak tadi.
"aku hanya merasa sayang aja bila kamu berprestasi harus jadi frustasi." kataku seenaknya.
"ha? sayang apa sayang nih?" olok Rendi
"ah udah lah, tuh bel dah bunyi," kataku sambil berlari menuju kelas.
Sejak saat itu kami berteman. Dia selalu saja mencari ku kala ada masalah, temen anjim:) Untung aja dia baik juga gak pelit.
***
Ujian yang berlangsung selama satu minggu sudah berakhir. Kami berencana pergi ke salah satu rumah teman untuk melepaskan kepenatan dengan makan bersama disana.
"Wati, jadi gak kita pergi ke rumah mu?" tanya ku pada Wati.
"gak. tapi kita bakalan pergi ke rumah Lia, sepupuku. Rumahnya gak jauh ko dari rumah ku," jawabnya sambil menjelaskan.
"kapan kita berangkat?" tanyaku lagi
"ya sekarang lah, masa besok lusa, lama amat keburu ga jadi." jawabnya sebari mempoutkan bibirnya.
"haha yasudah, siapa saja yang mau ikut?" tanyaku lagi.
"aku, kamu, Lia sama Nunung. Cuman ber empat doang ko." jawabnya seperti mengabsen siswa yang hadir.
"oke kalo gitu. yok, kita berangkat sekarang! keburu sore soalnya." ajak ku
***
Kami berangkat beriringan menuju rumah Lia menggunakan angkutan umum. Satu angkot yang masih kosong kami stop. Lalu kami mulai lagi obrolan di dalam angkot. Well obrolan nya juga gak kalah serunya lagi.
"Erna, kamu pacaran sama si Rendi? celetukan Nunung.
"hah?". jawabku seraya tertawa terbahak bahak.
"siapa yang menyebarkan gosip itu hm? mana ada aku sama dia pacaran Nung. Aduh ada ada aja." tanyaku
"banyak Na, bahkan kami juga sudah pernah memergoki kalian sedang befua di sekolah." kata Wati menengahi.
"memang kalo lagi berduaan udah pasti pacaran ya?" tanyaku lagi.
"ya iyalah! hahaha" jawab mereka serempak sambil tertawa tak henti henti.
"sudah, kalian jangan termakan gosip. Aku sama Rendi gada apa apa ko, gada hubungan apa apa selain temenan doang." jawabku menengahi tawaan mereka.
"temen apa temen nih? jawab Nunung meledek
"temen tapi mesra? atau temen tapi deket?" timpal Wati.
"terserah kalian." ucapku malas.
'dasar kalian, ada aja sih bahan pembicaraan mreka. pake bawa bawa Rendi sambil ngomongin pacaran apa enggak nya. Tapi gapapa lah. mereka juga belum tentu menganggap hal itu serius.'
Angkot yang kami tumpangi akhirnya di stop oleh Lia. Kami berjalan kaki meneruskan perjalanan menuju ke rumahnya. Rumah ber cat putih yang tidak terlalu besar menjadi tujuan kami.
"Rumah kamu enak Lia." kata Nunung
"emang rumah Lia makanan, Nung?" sosor ku pada Nunung.
Teman-teman yang lain nya kemudian tergelak mendengarkan celotehan anak satu ini.
‘dasar kamu Nung, slalu saja ada bahan yang bisa membuat orang lain tertawa.’
***
29 November 2021
Piw met malam kalian. sorry buat typo yang bertebaran haha. kasih vote, juga komen nan nya ya-!!! Biar author mangat nambah part nya.