Teman bersamamu begitu indah
Teman bersamamu ku bebas berekspresi
Teman bersamamu pula aku berebut
***
Keasyikan dirumah Lia berlanjut dengan munculnya aneka makanan. Mulai dari bahan rujakan sampai camilan makanan ringan. Mulut kami bagai mesin penggiling yang tak berhenti mengunyah.
*please author jadi ngiler beneran. mamah jadi lapar
"bujubuset Lia, banyak amat dah makanannya," seruku.
"lah seharusnya bagus dong Na, Lia tau berarti kita lagi kelaparan," tukas Nunung sambil cekikikan.
"ini belum seberapa, Erna," Wati menyela
"he'em, Wati bener, ini belom seberapa. Kalau ada ibuku pasti semua makanan akan dibuatnya," kata Lia.
"ouh, tapi emangnya ibu mu kemana?" tanyaku
"kerja. Baru pulang nanti paling jam 5 sore". kata Lia
***
Keasyikan mengisi saat luang setelah ujian, membuat kami lupa waktu. Rumahku yang jauh dari rumah Lia mengharuskan kami segera mengakhiri keasyikan ini. Walau masih betah bercengkrama tapi kami harus segera membubarkan diri. Orang orang dirumah pasti akan bertanya tanya pergi kemana anak-anak nya sampai sore belum pulang.
Kamipun berpamitan dan tak lupa mengucapkan terimakasih pada Lia yang sudah menjamu dengan beragam makanan. Hari semakin gelap, aku dan Nunung pulang bersama karena letak rumah kami searah.
Kepenasaran Nunung tentang hubunganku dengan Rendi membuat dia menyelidikinya. "Na, Kamu beneran ga ada hubungan sama Rendi?" tanya nunung penuh penasaran.
"iya, bener. Aku gada hubungan apapun sama dia ko. Tapi bentar deh kamu ko kayak penasaran banget, ada apaan tanya begitu? tanyaku penuh selidik.
"tidak, gada papa" jawab Nunung pendek
"bener? ah atau jangan jangan, kamu naksir ya sama dia? ngaku hayo. . ." olok ku padanya.
"iya sih." jawabnya tersipu membuatku tak tahan menahan tawa.
"Nanti aku jadi mak comblangnya ya!" tawarku pada Nunung
"Ya? Kamu beneran? sungguhan kan? mau jadi mak comblangku? tanya nya serius dengan wajah yang cerah antusias.
"ya iyalah. Masa aja sama temen sendiri bohong. Insyaallah, senin besok aku ngomong ke Rendi. Sepertinya dia naksir kamu juga," kata ku panjang lebar
*hibur aja dulu, biar makin meyakinkan jadi mak coblang nya?
"terimakasih Na, kamu emang the best lah" katanya memujiku.
***
Hari Senin kami belajar seperti biasa lagi. Ku perhatikan Rendi tengah mengobrol asyik bersama teman teman nya. Sesekali dia mencuri pandang kearah ku.
‘ada apa dengan nya? mengapa dia bersikap seperti itu? apa jangan jangan . . .
*Erna stop mikir yang aneh aneh, jangan sampe kau ada konflik sama si Nunung
Tak berapa lama dia menghampiriku. 'Wajahnya yang kini sudah ceria lagi membuatnya tampak gagah. Tapi sayangnya aku tak suka kamu. Kamu sudah ada yang naksir' sungguh aku dibuat cekikikan sendiri dibuatnya
Rupanya dia merasakan kalau dirinya tengah menjadi pusat perhatian ku. Dia langsung bertanya, "Hai dari tadi kau terus saja memandangi ku. Kamu suka ya?" dia tertawa sambil mengolok ku.
Aku membalasnya dengan tawaan yang tak berhenti, membuat orang disekeliling memandangi kami. "kamu kalau sudah tertawa buat orang sekelas terganggu Na ahaha." katanya sambil tertawa lagi.
"habis kamu sih, kenapa punya anggapan kek gitu." tanyaku penuh keheranan.
"lah? apa salahnya coba, kalo kamu suka sama ku? Kamu masih normal kan Na?" selorohnya sambil terus memandangi ku.
"ya iyalah ku masih normal Ren, masa aja. Eh eh aku punya kabar gembira buat kamu Ren." kataku mengalihkan perhatiannya.
"Ada seseorang yang diam diam naksir sama kamu Ren" jelas ku padanya
"haha? siapa dia?" tanyanya sambil tertawa.
"Nunung, teman sebangku Lia." jawabku meyakinkan nya.
"tau dari mana kamu dia suka sama ku?" tanya nya tambah penasaran.
"hm? cie penasaran, dia sendiri yang berkata padaku. Sabtu kemarin ada acara makan bareng di rumah Lia. Waktu kita pulang dia bertanya padaku apa aku pacar kamu atau bukan? Ya, aku jawab bukan, secara kan kita gada hubungan apa apa. (*Erna ko rada ngode' buat jalin hubungan sih weh) Nah dia langsung tuh bilang sama ku kalo dia suka sama kamu. Dan ku juga dah janji buat jadi mak comblang nya." jelas ku dengan serius serta panjang lebar kek jidat Oppa J-Hope.
Setelah mendengar kataku barusan, bukannya merespon bagaimana ini malah Rendi tertawa terus menerus membuat teman sekelas kita menatap kami dengan tatapan yang seolah mengartikan 'ada apa?' . Aku yang peka jiak peka, dengan keadaan itu hanya ya cuek cuek and biasa saja. Mungkin mereka sedang traveling pikiran nya menyangka kalo kita lagi pacaran.
Lama saling berdiam karna lelah tertawa, hingga larut dalam pikiran masing masing. Sampai si Nunung melintas di depan kami dengan muka cemberut dan tertekuk tak suka.
"ada apa Nung? ko cemberut?" ucapku sambil menghampiri nya.
"ck. Erna katanya kamu gak ada hubungan apa apa sama Rendi, gak pacaran sama dia. Tapi ko kelihatannya akrab banget nyaris kayak yang pacaran tau gak?" kata Nunung
"kamu cemburu Nung?" tanyaku sambil tertawa.
"ya iyalah, gimana ga cemburu coba hais" katanya lagi.
"haha jangan cemburu buta dong Nung, belom jalin hubungan aja udah cemburu buta banget kayak gini, apalagi kalo udah ada hubungan. Tadi aku baru aja ngomong sama Rendi, kalo kamu suka sama dia." kataku.
"terus dia bilang apa? dia suka sama ku juga kan? dia nerima aku kan? tanya nya antusias.
"satu satu dong nanya nya." kataku sebari menggodanya
"ih cepetan Na, udah penasaran ini." katanya sebari memukul kecil lengan ku.
"haha, lebih baik kamu follow-up aja. Tanya in sama dia, tanya langsung sama yang bersangkutan." jawabku asal sambil berlalu dari hadapannya.
***
Bel yang berdering panjang menandakan kami harus segera masuk ke kelas. Nunung yang mengejar ku untuk konfirmasi tak dapat berkata apa apa lagi. Karena kami harus bersiap siap menerima pelajaran dari guru guru tercinta.
Ketika bel istirahat berbunyi sebagian besar siswa berhamburan menuju musola. Begitu juga dengan diriku yang bergegas menuju musola, karena takut kepenuhan yang bisa mengakibatkan telat masuk kelas nanti, dan di tegur guru.
Sepulangnya dari musola banyak orang yang berdiam di depan kelas ku. Sebari mengobrol asyik. Entah apa yang terjadi, mungkin gibah. Bergegaslah aku menuju kesana.
Dan rupanya kejadian tadi memicu munculnya gosip baru. Aduh siapa sangka kamu di kira berebut pacar. Berbisik bisik tetangga teman sekelas tentang gosip berebut pacar merembet ke kelas sebelah. Bisa di bayangkan apa yang bakalan terjadi selanjutnya?
Sementara itu Rendi si orang yang disangka di rebutin itu masih terlihat santai menggangapi gosip yang tengah menghampiri nya. Dia tidak terlihat gusar, tidak juga terlihat untuk berusaha meredam gosipnya. Semacam masa bodo, hah santai sekali tu orang.
Susah payah menerobos masuk ke kelas. Nunung tengah menangis dengan badan tertelungkup ditopang tangan yang dilipat. 'ada apa gerangan?'
Kuhampiri mejanya dan ku tepuk halus pundak nya. Lalu tanpa di sangka dia langsung refleks memeluk ku.
"ada apa Nung? Kenapa nangis kayak gini?" tanyaku lembut namun penuh rasa heran
"Erna, hiks aku malu." jawabnya sambil terus menerus menangis keras juga sesenggukan di bahu ku.
"hah? malu? malu kenapa? apa yang terjadi emang?" tanyaku semakin kebingungan.
"tadi, ada anak kelas sebelah datang kesini dan ya, marahin si Nunung. Katanya sih dia sudah merebut pacarnya." jawab Lia memberi keterangan, membantu menjelaskannya karena Nunung masih menangis.
*well? sejak kapan si Rendi punya pacar anjim? ngaku' ni anak kelas sebelah. pake labrak labrak kek kakel lagi, oke kita next next.
"Astagfirullah, tapi kapan Rendi punya pacar. Sudahlah Nung, lagipula kamu tidak benar benar merebut pacar orang kan. Lalu apa yang musti kamu tangisin. Lowong kamu gak ngapa ngapain." kataku menenangkan nya sambil mencandainya sedikit.
Nunung mulai berhenti menangis. Dia mengusap-usap air mata di pipi bakpau nya. Lia segera memberikan tissue padanya.
*buat ngebreng ingus kali?
"sudah, sebentar lagi bel masuk berbunyi." kataku menyudahi.
Kami kembali ketempat duduk masing-masing. Bel tanda masuk kelas pun terdengar dengan nyaring nya. Sesaat kemudian guru datang ke kelas. Semua murid terhanyut dalam kegiatan belajar mengajar gurunya itu. Beragam ulah murid saat memperhatikan guru yang sedang mengajar.
Ada yang serius memperhatikan nya, ada juga yang melengguh ngantuk, ya maklum saja, kelas siang, apalagi guru nya menjelaskan materi nya secara mendayu dayu. Syukurlah hari ini selesai juga serangkaian sekolah nya. Kami bersiap untuk pulang. Ketua kelas memimpin berdoa dan memberi salam pada guru. Setelah guru keluar kami mulai berhamburan menuju pintu. Wajar lah budaya antri sudah hilang tidak seperti masa TK, semua rapi berjajar menunggu antrian pada saat mau pulang.
Sesaat kemudian tanganku seperti ada yang menarik. Reflek kubalikan badan, dan ternyata dia. . . . . . . Rendi. Senyum manis dengan cacat di pipinya (lesung pipi) di salah satu pipinya, membuat ku sedikit tertegun. 'ada apa dengan dia? ngapain pegang tangan juga? dan senyum nya itu? dia bakalan ngapain?' Pertanyaan pertanyaan yang muncul di otak ku itu membuat ku pusing sendiri. Karena dia tak biasanya seperti ini.
***