Reno berdiri di depan pintu kamar kerjanya. Tangannya menggenggam ponsel dengan erat, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ia menatap foto Erika dan pria yang bersamanya kemarin—foto yang ia ambil diam-diam dari kejauhan. Wajah Erika tertawa lepas, tangan pria itu melingkar di punggungnya. Bukan sekadar rekan kerja atau teman lama. Itu… terlalu intim. Hatinya berkecamuk. Ia bukan detektif. Bukan pula tukang adu domba. Tapi ia bekerja untuk keluarga ini. Sudah lima tahun. Ia melihat bagaimana Alvaro berjuang membangun rumah tangga yang nyaris dingin total, mencoba mempertahankan cinta yang seperti kaca retak—masih utuh tapi penuh luka. Akhirnya, Reno membuka percakapan dengan Alvaro. Jemarinya menari ragu. > “Maaf, Pak Alvaro. Boleh saya bicara secara pribadi? Ada hal penting soal

