Pagi itu hujan turun rintik-rintik. Langit abu-abu seperti menyimpan firasat buruk. Di rumah besar itu, Alvaro duduk di ruang kerja, menatap berkas-berkas yang tak kunjung ia sentuh. Pikirannya melayang, bukan pada angka-angka atau target perusahaan—tapi pada Erika… dan Aurora… dan dirinya sendiri yang kini berdiri di jurang yang dia gali perlahan. Pintu diketuk pelan. “Masuk,” ucapnya. Reno sang asisten masuk dengan wajah tegang. Tak seperti biasanya. Pria itu tampak menahan sesuatu, dan Alvaro langsung menyadarinya. “Ada yang ingin kamu sampaikan, Ren?” Reno tampak menunduk, menghindari perasaan tegangnya. “Maaf, Tuan… saya sempat ragu untuk menyampaikan ini. Tapi… saya rasa, Tuan berhak tahu.” Alvaro menaikkan alis. “Tentang apa?” Reno mengeluarkan ponsel dari sakunya. Lalu memb

