Hari masih pagi ketika Erika membuka matanya. Cahaya matahari menyelinap dari celah tirai rumah sakit, menari di dinding putih yang terasa terlalu steril, terlalu sunyi. Tangannya refleks meraba perut yang kini terasa lebih berat dari biasanya—bukan hanya karena kehamilan, tapi juga karena beban yang terus ia bawa di d**a. Surat yang ia tulis malam sebelumnya masih terselip di bawah bantal. Ia tak tahu apakah ia benar-benar ingin memberikannya pada Alvaro. Atau… apakah ia hanya menulis untuk dirinya sendiri, sebagai bentuk perpisahan yang tak bisa ia ucapkan secara langsung. Pintu kamar terbuka pelan. Bukan Alvaro. Tapi Jona. “Pagi,” sapanya, membawa sekotak makanan dan sebuket bunga matahari kecil. Erika tersenyum samar. “Tumben kamu bawain bunga. Biasanya kamu lebih suka bawa lelucon

