Douglas membanting pena yang di pegangnya, dia sudah tidak bisa berpura-pura tak peduli lagi. Ini sudah hari ke empat, Douglas merasa sangat gelisah. Dia mengusap wajahnya, dia Sangat lelah. Gadis itu benar-benar sudah menyita pikirannya.
“Maaf Sir, ada seorang wanita ingin bertemu anda” suara sekretarisnya menyadarkan Douglas
Siapa, batinnya penasaran. Rasanya dia tak mengundang siapapun siang ini. “Suruh dia masuk” kata Douglas akhirnya.
Sepasang lengan melingkar dileher Douglas saat Douglas menatap keluar jendela, hanyut dalam lamunannya lagi. Douglas membalikan kursi nya dan terkejut melihat siapa tamunya.
“Caitlyn..” seru Douglas.
“Halo Douglas” sapa Caitlyn mengecup bibir Douglas.
“Apa yang kau lakukan disini.. mengapa kau ada disini.. dimana Richard?” berondong Douglas
Caitlyn hanya tersenyum menanggapi serentetan pertanyaan Douglas, dia duduk diatas pangkuan Douglas. Tangannya membelai kerah jas pria itu. Douglas hanya diam menatap wajah ibu tiri Emma.
“Tak ada ucapan Selamat datang untukku?” bisik Caitlyn yang mulai menyusupkan jemarinya kedalam kemeja Douglas.
“Selamat datang..” ucap Douglas tak acuh
Caitlyn terkekeh. “Ada masalah?, kau terlihat sangat lelah. Apakah gadis ingusan itu menyusahkanmu?” Tanyanya.
“Dimana Richard?” tanya Douglas lagi. Tak mempedulikan pertanyaan Caitlyn tentang Emma.
“Aku meninggalkannya Di London” jawab Caitlyn tak acuh
“Apa maksudmu?” tanya Douglas.
“Tentu saja kau tahu maksudku” dengus Caitlyn.
“Aku bosan, Richard tak mampu memuaskanku Douglas. Aku Butuh seorang lelaki yang mampu memberiku kepuasan.” desahnya.
“Lalu, apa maumu?” tanya Douglas lagi
“Aku mau kau, aku menginginkanmu sejak pertama kali kita diperkenalkan oleh Richard. Aku selalu membayangkan bercinta denganmu” kata Caitlyn menggerakan bkongnya diatas pangkuan Douglas dan mulai membuka kancing gaunnya menampilkan dad* silikon miliknya.
Douglas mencengkram erat kursinya. Sial! makinya. Sudah beberapa hari ini dia tidak bercinta dan tiba-tiba Caitlyn datang padanya menawarkan kenikmatan. Douglas mencengkram erat pinggul Caitlyn, membuat wanita itu memekik senang.
Caitlyn menempelkan dad*nya pada tubuh Douglas, membuka tali G-string nya hingga Douglas bisa merasakan basahnya milik Caitlyn yang tak ditutupi apa-apa diatas kjantanannya yang mulai menegang. Caitlyn mulai bergerak menggoda Douglas, tangan ya meremas kedua dad*nya.
“f**k me, Douglas.. ” rengek Caitlyn.
Douglas tersentak, tiba-tiba dia ingat Emma. Dia ingat percintaan mereka. Douglas meremas erat bahu Caitlyn hingga wanita itu meringis nyeri
“Hentikan Caitlyn!” desis Douglas
“Ohhh.. Please Douglas, bercintalah denganku..puaskan aku” rengeknya
“Caitlyn..!” seru Douglas marah, kata-katanya terputus saat pintu ruangannya dibuka kasar
Douglas menatap kearah pintu dan terkejut
“Emma.. ” ucapnya seraya mendorong tubuh Caitlyn
“Maafkan aku Sir, aku sudah mencoba menghalangi wanita ini tapi dia memaksa masuk ” kata sekretarisnya dengan nada takut-takut tak berani menatap kearah Douglas
“Pergilah dan tahan semua telpon untukku” jawab Douglas
Douglas menatap ke arah Emma yang memandang kearah dia dan Caitlyn dengan tajam. Caitlyn tampak tenang dan tak berusaha untuk mengancingkan gaunnya hingga bra Hitam miliknya terlihat jelas. Emma memandang Caitlyn jijik.
“Dasar perempuan jalang! Kau meninggalkan ayahku dan pergi bersenang-senang disini!” teriak Emma.
“Kau dengarkan aku bocah! Aku bosan hidup dengan ayahmu yang tak pernah bisa memuaskanku. Dia terlalu tua dan lemah. Lagi pula ku dengar ayahmu akan segera bangkrut. Aku sudah tak membutuhkannya lagi” kata Caitlyn
“b******k kau! Dasar perempuan murahan! Kau tidak puas dengan ayahku kau bilang?. Mengapa kau tak menjajakan dirimu di jalanan, karena kau lebih cocok berada di sana” desis Emma tajam
“Bocah ingusan kurang ajar!” teriak Caitlyn menampar pipi Emma.
Emma meraba pipi nya yang terasa panas akibat tamparan Caitlyn, tangannya mengepal. “Kau!.. berani-beraninya kau..!” kata Emma
Emma berusaha melayangkan tinju nya ke wajah Caitlyn tapi Douglas menarik tubuh Emma kedalam pelukannya. Emma meronta-ronta berusaha melepasakan diri dari pelukan Douglas
“Keluarlah Caitlyn” ucap Douglas dengan nada dingin
“Hei.. Tunggu b******k, kau mau kemana? ” teriak Emma saat melihat Caitlyn melangkah keluar dari ruangan Douglas
“Baby.. baby.. tenanglah” bisik Douglas berusaha menenangkan Emma
“Tenang kau bilang?, aku memergoki istri ayahku dan teman baiknya berselingkuh dan kau minta aku untuk tenang?” maki Emma
“teganya kau melakukan ini pada ayahku!” teriak Emma histeris.
“Itu tidak seperti yang kau lihat” jelas Douglas.
“Aku melihatnya! Dia nyaris telanjang! Andai aku tidak menerobos masuk mungkin kau sudah menyetubuhinya diatas meja ini!” Teriak Emma.
Douglas hanya diam. Menatap Emma yang sedang meluapkan emosinya.
Emma menatap tajam kearah Douglas. Hari dia datang menemui pria ini dengan maksud untuk kembali padanya tetapi apa yang dia lihat tadi membuat dad*nya sakit.
Kemarin ayahnya memang memberitahunya melalui telpon bahwa Caitlyn pergi meninggalkan ayahnya begitu saja, membuat Ayah nya sakit. Dan ternyata wanita ular itu disini bersama Douglas, pria yang sudah menjungkir balikkan dunianya.
Douglas hanya terdiam memandang Emma, menunggu sampai gadis itu tenang. Douglas menarik tubuh Emma dan memangku gadis itu, membiarkannya menangis di dad*nya.
“Sudahlah baby, tenanglah.. Beri aku kesempatan untuk bicara” ucap Douglas mengecup airmata Emma yang jatuh dari sudut matanya.
“Apa lagi yang ingin kau jelaskan kau tidur dengan ular itu bukan?” tuduh Emma.
Douglas menghela nafasnya. “Tidak, aku tidak tidur dengan Caitlyn” jelas Douglas. “Dia datang kemari dan langsung merayuku”
“Dan kau menyukainya” potong Emma.
“Itu tidak benar, ketika kau datang tadi, aku sedang berusaha untuk menolaknya” ucap Douglas tajam.
Emma menatap mata Douglas dan menemukan kebenaran di sana. Tanpa sadar tangan Emma menyusuri gurat lelah di wajah pria itu, dad*nya bergemuruh saat Douglas mengecup telapak tangan Emma dan menaruh pipinya di tangan Emma.
“Pulanglah ke penthouseku baby girl, aku berjanji takkan menyentuhmu jika itu yang kau takutkan” bisik Douglas.
“Aku akan menahan diriku, walau itu akan terasa sangat sulit” lanjutnya seraya memejamkan mata.
Emma terdiam. Dia percaya Douglas mampu menahan diri untuknya, tapi bagaimana dengan dirinya, mampukah dia menahan dirinya, menyangkal gairhnya terhadap pria ini. Bahkan saat ini setiap Inci tubuhnya menjerit meminta sentuhan pria ini.
Emma tidak mampu menyangkal bahwa apa yang sudah Douglas lakukan padanya membuatnya terasa sakit sekaligus nikmat. Dia menikmatinya. Dia sama gilanya dengan Douglas. Dia menyukai cara pria itu memuja tubuhnya dan bercinta dengannya. Bahkan dia selalu membayangkan mereka bercinta di playrooms milik pria itu.
“Ya, Douglas aku akan pulang denganmu” ucap Emma lirih.
Douglas tersenyum lalu mencium. Keningnya. “Ayo, kita pulang” bisiknya.
^^^