“Ya Tuhan..” desah Emma menutup mulutnya dengan tangan.
Douglas menatap ke arah Emma saat dia mendengar gumaman gadis itu. “Ini hanya sebagian baby girl, kau belum melihat semuanya” ucapnya seraya menyentak rantai yang menyambungkan jarinya dengan gelang Emma.
Emma masuk dalam dekapan Douglas, pria itu memeluknya erat, mengecup pelipisnya, meremas payudranya.
“Apa yang kau lakukan dengan sel ini?” Tanya Emma penasaran. Tubuhnya menggeliat saat Douglas terus menc*mbu lehernya.
Douglas menggigit kecil bahu Emma dan meremas bkong gadis itu “f*****g” bisiknya seraya menyusupkan tangannya ke balik gaun gadis itu dan membelai paha nya.
Emma mengerang saat Douglas membelai intinya. “Kau sangat basah baby girl, apakah kau ingin daddy melakukan sesuatu yang nakal untukmu?”
Emma terengah dan sangat bergairh mendengar ucapan Douglas yang sarat akan janji kenikmatan, terbayang olehnya kejadian kemarin bagaimana pria itu memberinya klimaks yang hebat. Tubuhnya menggigil.
“Please.. ” erang Emma.
“Apa… Ulangi lagi” bisik Douglas menggigit daun telinga Emma.
“Please daddy….” ulang Emma dengan nafas terengah.
“Good girl, kau menyerap dengan cepat semua pelajaranmu, baby girl” ucap Douglas. “Bersikaplah yang baik mungkin nanti aku akan bermurah hati” lanjut Douglas.
“Brengsek..” desis Emma tajam, dia merasa dipermainkan.
“Ssttt.. baby girl, hati-hati dengan lidahmu, kau tahu bukan apa hukumannya jika bersikap nakal” Kata Douglas.
“Kau benar-benar pria arogan b******k” sembur Emma.
Douglas mencengkram erat rahang Emma “kau benar-benar gadis nakal” desisnya
Emma meringis saat Douglas menyeretnya menuju sebuah ruangan dengan penerangan minim seperti ruangan pertama.
Douglas meraih sebuah tali dan menyeret Emma menuju sebuah sel yang ukurannya lebih kecil dari ruangan tadi lalu mengikat kedua tangannya di salah satu jeruji besi dengan posisi membelakangi pria itu. Emma berontak, berusaha melepaskan ikatannya tapi tak ayal sisi liar dirinya tak sabar menanti kenikmatan yang Douglas janjikan.
Emma mengedarkan pandangannya menyapu isi ruangan tersebut dan terbelalak ngeri saat dia melihat isi ruangan itu, di ruangan tersebut terdapat sebuah sangkar besi seukuran manusia dengan sebuah tali di atasnya lalu sebuah ayunan dengan bangku panjang dan lebar, sebuah kasur besar dan sofa warna Hitam. Di dinding nya berderet cambuk, tali dan juga borgol.
Douglas berlutut di belakang tubuh Emma, dibelainya bkong gadis itu lalu mengecupnya perlahan dan menarik hingga robek celana dalam yang Emma kenakan dan melebarkan kaki Emma.
Douglas menyelinap menjilati lipatan kewanitaan Emma membuat Emma mencengkram erat jeruji tempatnya diikat.
Lidah Douglas begitu terampil membuai Emma membuat Emma menginginkan lebih. Emma menggerakan tubuhnya seperti orang yang sedang bercinta sementara Douglas hanya diam menjulurkan lidahnya memberi kesempatan Emma bergerak sesuka hati mencari kenikmatannya.
Emma bergerak liar diatas wajah Douglas. “Ohh.. aku akan segera sampai” desah Emma
Douglas menghentikan jilatannya lalu bangkit berdiri membuat Emma menggeram marah. “Apa yang kau lakukan, b******k!”
Douglas meremas erat bkong Emma. “Jaga mulutmu, young lady!” bentaknya.
“b******k kau!” maki Emma lebih keras membuat Douglas mengetatkan rahangnya.
“Kau benar-benar gadis pembangkang” ucapnya.
” Kau seperti hewan liar yang menantang untuk dikendalikan dan kau tahu bagaimana hewan liar dikendalikan, baby girl?” lanjutnya seraya menutup mata Emma dengan sebuah kain hitam lalu mengikatnya
Dad* Emma berdebar kencang, tubuhnya gemetar mendengar ucapan Douglas dia tak mampu menebak apa yang akan Douglas lakukan padanya. Tiba-tiba sebuah tamparan keras di bkong nya membuat Emma berteriak terkejut lalu tangan besar Douglas membelainya
“Kau tahu baby girl, aku sangat menyukai warna merah pada bkongmu, sangat indah” bisiknya.
“Dan akan lebih indah lagi nanti”
Sebuah benda keras menempel di bkong Emma, membuat Emma terus berpikir apa yang akan Douglas lakukan padanya. Tangan Emma mulai berkeringat, rasa takut merayapi dirinya.
“Pelajaran untukmu baby girl, kau harus selalu bersikap dan berkata sopan pada daddy” ucap Douglas.
Sebuah sabetan benda keras dibkong Emma membuat gadis itu menjerit kencang
“Jangan pernah membantah ucapanku, kau mengerti?!” desis Douglas kembali menyabet Emma yang menjerit sakit.
Emma menangis menahan rasa panas dan sakit akibat sabetan Douglas, pria itu masih melakukannya hingga hitungan ke lima lalu dia berhenti dan memeluk tubuh Emma yang berguncang karena isakannya
Douglas mencium bahu Emma, membelai bkong Emma yang memerah dan berdenyut sakit, menenangkan gadis itu.
“Lepaskan aku ” ucap Emma lirih
Kali ini pria itu menuruti keinginan Emma, dilepaskannya ikatan tali pada pergelangan tangan Emma dan jeruji besi.
Emma mengusap bekas ikatan pada tangannya dan berbalik menghadap Douglas,dilihatnya pria itu terengah memegang erat sebuah tongkat kecil dan panjang
“Kau b******k. Kau tak lebih dari seorang monster” teriak Emma kalap lalu berlari dengan cepat
Emma berlari keluar dari ruangan itu dengan rasa sakit dan terhina, Emma bersyukur Douglas tak menutup dinding yang menghubungkan perpustakaan dengan playrooms miliknya hingga Emma tak perlu repot-repot mencari cara untuk membukanya. Setelah tiba di ruang tamu Emma menyambar tasnya dan pergi keluar dari rumah j*****m itu mencari taksi
Saat di dalam taksi dia menahan isakannya, dia tak mungkin pulang ke penthouse Douglas. Dia tak ingin pria itu menemukannya disana.
Dan akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Dorian meminta pria itu menampungnya sementara waktu.
Emma memutuskan untuk pulang terlebih dahulu ke penthouse Douglas, mengemas barang-barang miliknya. Agatha yang melihat Emma membawa kopernya merasa bingung.
Emma hanya mangatakan pada wanita itu bahwa dirinya akan tinggal bersama salah satu temannya. Agatha tak mampu mencegah Emma, dia menduga telah terjadi suatu pertengkaran besar antara Emma dan Douglas.
***
Ini sudah hari kedua sejak kejadian Emma meninggalkannya, Douglas tak berusaha menemui gadis itu sekalipun dia mengetahui dimana dan dengan siapa gadis itu tinggal. Dia tidak ingin membuat gadis itu ketakutan saat melihat dirinya
Saat Emma berlari dengan wajah berurai airmata Douglas hanya terdiam mematung tak menyangka Emma akan semarah itu padanya, ucapan gadis itu terngiang-ngiang di telinga nya. Gadis itu benar Blackwood, kau seorang monster. Maki batinnya
Salahnya kah? Dia sudah mengatakan pada gadis itu bagaimana kecenderungannya, gaya hidup nya, tapi gadis itu memaksa ingin mengetahui dunianya.
Douglas mengepalkan tangannya meninju dinding ruang kerjanya, dia merasa kesal pada dirinya sendiri.
***
Emma terbangun tengah malam, tidurnya sangat Gelisah. Ingatan akan Douglas mengusiknya. Sudah dua hari dia tinggal di apartment Dorian.
Pria itu sangat baik tidak berusaha bertanya apa yang membuatnya menangis histeris saat dia tiba disini. Dorian memberinya waktu untuk menenangkan dirinya, dan Emma sangat berterima kasih untuk itu.
Emma merasa haus dan memutuskan untuk mengambil minum di dapur saat dia melihat botol air minumnya kosong. Ketika dia melewati kamar Dorian dia mendengar suara desahan dan makian vulgar dari kamar tersebut. Emma mengintip dari pintu yang tak tertutup rapat bagaimana Dorian sedang bercinta dengan seorang pria. Sesuatu mengejutkannya.
Emma mundur selangkah dan berjalan cepat kembali ke kamarnya dia mengurungkan niatnya untuk ke dapur.
Bayangan Dorian terikat diatas tempat tidur dan kekasihnya memukuli bkong pria itu menggunakan tongkat pemukul berbentuk pipih mengingatkannya akan Douglas1
Bagaimana mungkin Dorian menikmati semua itu, tidakkah itu sakit dan membuatnya merasa terhina, seperti diri lnya malam itu.
Emma mencengkram erat kaosnya saat bayangan Douglas menghukum dirinya dengan sebuah tongkat kecil.
Nafasnya terengah dan mulai menangis terisak, dia merindukan pria itu. Dia rindu pada Douglas Blackwood, dan hati kecilnya selalu berharap pria itu akan mencarinya tapi tidak, pria itu tak pernah berusaha menghubunginya atau mencarinya.
Pria itu hanya menganggap dirinya sama dengan wanita-wanita lainnya. Mungkinkah pria itu sudah mendapat pengganti dirinya, hingga dia tak berusaha untuk mencari keberadaan dirinya saat ini, Emma merasakan rasa sesak dalam dad*nya.