Emma terbangun dan mengerang saat dia merasakan rasa linu di sekujur tubuhnya. Dia membuka kelopak matanya dan mendapati tempat disebelahnya telah kosong. Emma melihat secarik kertas tergeletak diatas bantal, dia membuka dan membaca surat itu.
‘Selamat pagi baby girl, maaf aku terburu-buru pergi, tanpa membangunkanmu karena kupikir kau pasti sangat lelah karena permainan kita semalam. Apakah kau menyukainya? Itu hanya permulaannya saja.
Jika kau masih menginginkannya, aku menunggumu malam ini di salah satu rumahku untuk membicarakan peraturan-peraturannya.
Kau tahu kemana harus menghubungiku baby girl.
Emma membaca sebuah alamat yang tertera di surat itu, rumah yang dimaksud pria itu berada di kawasan pinggir kota.+
Emma kembali berbaring, dia tak tahu harus bagaimana, tadi malam benar-benar di luar bayangan Emma selama ini.
Bagaimana Douglas sangat menikmati perannya sebagai seorang dominan, memperlakukannya seperti sebuah mainan. Tapi mungkin itu belum seberapa. Lalu bagaimana nanti, apakah pria itu akan benar-benar mengenalkannya pada dunianya, batin Emma.
Pria itu seorang Iblis, Iblis berwajah tampan, menggodanya untuk mencicipi dosa dan Emma sudah tergoda. Dia sudah tenggelam dalam gairhnya, dia sudah terjebak dalam permainan yang dia rencanakan sendiri. Bukan Douglas yang memohon, tapi dia sendiri.
Tapi Emma bukan perempuan bodoh dan lemah, pria itu tak boleh menganggapnya sama seperti perempuan-perempuannya selama ini, dia seorang McGrath. Jika Douglas punya peraturan maka diapun punya.
Emma berjalan ke kamar mandi dengan langkah tertatih, daerah Slangkangannya nyeri dan perih. Dia memutuskan untuk berendam dalam Air hangat dan minyak aroma terapi, mungkin hal itu bisa mengendurkan otot-ototnya yang tegang dan membuatnya bisa berpikir jernih.
Setelah menghabiskan waktu untuk berendam dalam air hangat dan dia nyaris tertidur di dalam bathtub, Emma memutuskan untuk turun ke dapur mengisi perutnya, di sana dia bertemu Agatha yang juga sedang sarapan. Dia berjalan menuju meja makan dengan masih tertatih-tatih.
“Selamat pagi Agatha” sapa Emma.
Agatha mendongkakan wajah nya, menatap Emma yang berjalan tertatih “halo sayang, duduklah aku akan menyiapkan sarapanmu”
“Terima kasih” jawab Emma merona.
Dia yakin Agatha pasti tahu apa yang terjadi semalam, tapi dia bersyukur wanita baik hati itu tidak menanyakan apa-apa padanya, selama mereka sarapan mereka hanya membicarakan hal-hal lain.
***
Douglas menyesap whiskeynya menatap lalu lintas kota dari kaca jendela apartmentnya, sampai sekarang Emma McGrath belum menghubunginya dan Douglas tak ingin menanyakan langsung pada gadis itu, dia tak ingin memaksa gadis itu walau ada keinginan dalam dirinya untuk menyeret gadis itu kemari lalu bercinta dengan gila-gilaan.
Suara bel pintu mengejutkannya, dengan langkah gontai Douglas membukanya. Disana berdiri Emma McGrath menatap ke arahnya, lalu masuk kedalam.
Ada rasa senang dan lega pada diri Douglas tapi juga amarah karena gadis ini tak mengindahkan perintahnya untuk menghubunginya, memberitahukan tentang persetujuannya untuk melanjutkan sesi mereka, dan itu membuatnya merasa gelisah sepanjang hari.
“Kenapa kau tak menghubungiku?” Tanya Douglas tajam.
Emma mengangkat bahunya tak acuh “kejutan, mungkin” jawabnya.
Douglas mengepalkan tangannya, masih tetap dengan sifat pembangkangnya. Dia sudah gatal ingin menghukum gadis pembangkang di depannya ini, tapi dia ingin membicarakan tentang hubungan mereka terlebih dahulu.
“Apakah kau Sudah makan?” tanya Douglas
“Sudah, tapi aku merasa haus” jawab Emma.
Douglas pergi ke pantry, membuka lemari pendinginnya dan menuangkan orange juice untuk gadis itu, Emma duduk di mini bar memperhatikan setiap gerak gerik pria itu.
Douglas duduk di samping Emma menunggu gadis itu menghabiskan minuman nya
“Katakan apa peraturan nya” kata Emma membuka suara
“Apakah kau yakin?” tanya Douglas.
“Entahlah, tapi tak ada salah nya untuk mengetahui peraturan nya” jawab Emma.
“Ini tentang apa yang akan kita jalani princess, ini tentang disiplin, hukuman dan bagaimana kau harus menerima setiap perintah ku” Kata Douglas
“Katakan..” jawab Emma
“Aku tak akan membuat kontraknya, karena ini hanya sementara selama kau berada disini. Tapi aku ingin kau tahu tentang semua ini dan meminta persetujuanmu jika kau memang menginginkannya, aku tak akan memaksa” lanjut Douglas.
“Hmm. Aku masih punya waktu sepuluh hari lagi” gumam Emma
“Seperti kau tahu, aku melakukan s*x dengan keras. Terkadang di luar masuk akal dan mungkin sadis menurut orang kebanyakan. Aku juga akan memberi beberapa hukuman jika kau tak menuruti perintahku, tapi jika kau menjadi gadis baik selama kita bersama baby girl, kau akan kuberi hadiah tentu saja” Kata Douglas
“Hadiah apa?” Tanya Emma
Douglas bangkit dan berdiri di belakang Emma, memeluk pinggang gadis itu. “Aku pria yang murah hati baby girl, mungkin aku akan memberimu o*****e yang hebat atau mungkin yang lainnya” bisik Douglas seraya menjilati leher Emma.
Emma mengerang. Nafasnya tercekat saat Douglas menc*mbu lehernya, lwlu merengek saat pria itu beranjak menjauh. Emma memutar kursinya, dilihatnya Douglas berdiri menatap kearahnya dengan tangan dimasukan kedalam kantung celana.
Emma bangkit berdiri dan berjalan ke arah Douglas. “Aku punya syarat” kata nya.
“Kau tak berhak mengajukan syarat” ucap Douglas cepat
“Aku tak ingin ada perempuan lain saat kita bersama” lanjut Emma tak menghiraukan ucapan Douglas.
Douglas terdiam sesaat. “Baiklah, bisa ku terima” jawabnya
Emma menatap Douglas. Dasar arogan! ” lalu selanjutnya apa?” Tanya Emma
Douglas merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sesuatu seperti gelang berwana hitam, dia meraih tangan Emma dan memasangkan gelang yang terbuat dari kulit dengan rantai agak panjang yang di ujungnya terdapat lingkaran seperti cincin
“Kau milikku, baby girl” desis Douglas memasangkan cincin itu di jari tengahnya dan memakaikan gelangnya pada Emma.
Tubuh Emma bergetar, darah nya berdesir mendengar kalimat Douglas tadi. Sepuluh hari kedepan hidupnya akan berubah.
Dia akan menjadi milik Douglas Blackwood untuk digunakan pria itu sesuka hatinya, untuk menjadi mainan seks pria itu. Mengerikan sekaligus terasa sangat seksi.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Tanya Emma
Douglas membawa Emma menuju salah satu ruangan yang terkunci rapat dan membuka nya, Douglas menarik tangannya agar Emma masuk. Emma menatap ruangan yang mirip perpustakaan itu, lalu Douglas menggeser salah satu lemari buku yang ternyata di belakangnya terdapat sebuah tombol. Douglas menekan tombol itu lalu dinding itu bergerak terbuka.
Douglas menarik tubuh Emma saat pria itu masuk ke dalam ruangan rahasia dan menuruni anak tangga yang terbuat dari batu, ruangan itu mengingatkan Emma pada kastil-kastil kuno Di London.
Mereka tiba di salah satu kamar.
Emma melihat keseluruhan kamar berpenerangan redup itu dan merasa sangat takjub. Di kamar itu terdapat sebuah ranjang bertiang empat dengan seprei putih, sebuah lemari kayu besar, sofa berbahan kulit, di dinding terdapat sebuah palang kayu seukuran tubuh pria dewasa dengan rantai besi di setiap sudut nya,dan di langit-langit kamar terdapat banyak gelang besi dan juga tali sling.
Yang lebih membuat Emma takjub adalah di ruangan itu terdapat sebuah sel yang cukup besar.
“Ya Tuhan.. ” desah Emma menutup mulutnya dengan tangan.
^^^