Sweet 3

1166 Words
Ini hari ketiga Emma menghabiskan waktu liburannya di Manhattan, dan selama itu pula dia tak pernah bertemu Douglas di penthousenya. Pria itu selalu pulang larut malam saat dia sudah tidur, dan pergi pagi-pagi sekali ketika dia belum bangun. Dan Emma tak peduli. Saat ini Emma sedang berada di Central Park setelah tadi menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitaran fifth avenue. Kali ini dia menolak Diantar oleh supir Douglas. Dia ingin berjalan-jalan sendiri, menikmati hari. Emma sedang membaca sebuah novel saat seseorang datang menyapanya. “Maaf nona, boleh aku duduk disini?” kata orang tersebut. Emma mengalihkan perhatiannya dari buku yang sedang dia baca. Dia menatap seorang pria tampan memakai kacamata hitam sedang tersenyum ke arahnya. “Tentu, silahkan” kata Emma balas tersenyum. “Buku apa yang sedang kau baca?” tanya pria itu menatap ke arah Emma. “Oh maaf, namaku Dorian ” Emma menatap ke arah pria disampingnya. Pria itu sangat tampan rambut hitamnya dipotong pendek dan terlihat rapi. Pria itu memakai kaos dan celana denim, juga beanie hat warna hitam di kepalanya. “Aku Emma. Ini hanya sebuah novel biasa” Emma tersenyum ramah dan menunjukkan novel yang dia baca pada pria itu. “Apa yang dilakukan seorang gadis cantik sepertimu disini, menanti seseorang?” tanya Dorian penasaran Emma tertawa. “Tidak, aku sedang berjalan-jalan, menikmati liburanku” kata Emma “Oh, kau seorang wisatawan. Benar begitu?” tanyanya. “Ya, aku sedang berlibur disini. Aku dari Inggris” jawab Emma sambil tersenyum. “Well, aku bersedia menemanimu berjalan-jalan menunjukkan beberapa tempat yang cukup populer disini” kata Dorian seraya tersenyum manis. “Sungguh?. Maksudku, apakah itu tidak merepotkanmu?” Tanya Emma. “Tentu saja tidak. Aku juga butuh sedikit liburan. Bagaimana?” Emma mengangguk senang. “Tentu saja aku mau” jawab Emma antusias. Emma dan Dorian mengobrol dengan seru, menertawakan banyak hal. Mereka memutuskan untuk mencari sebuah tempat untuk minum kopi dan melanjutkan obrolan mereka. Dari obrolan mereka, Emma mengetahui jika Dorian adalah seorang model profesional dan seorang gay. Hari mulai beranjak malam, Emma melirik jam tangannya. “Dorian, aku harus pulang sekarang, Agatha pasti mencemaskanku” katanya “Ayo, biar kuantar ” kata Dorian seraya berdiri. Dorian mengajak Emma menuju mobilnya. Emma sangat berterima kasih karena Dorian mau mengantarkannya,karena taksi akan sangat sulit didapat pada jam-jam seperti ini. “Dimana kau tingga Em?” tanya Dorian saat mereka berada didalam mobil. Emma menyebutkan salah satu kawasan di lower Manhattan. Dorian bersiul. “Wow, dan kau tinggal dengan siapa?.” “Dengan salah satu rekan bisnis ayah ku” jawab Emma tak acuh. “Pria tua menyebalkan” katanya lagi Dorian mengernyitkan keningnya. “Apakah teman ayahmu itu tipikal pria tua gendut, kaku dan membosankan?” Emma tertawa terbahak-bahak membayangkan Douglas bertubuh gemuk. “Tidak, tak ada satu lemak pun ditubuh Douglas Blackwood” “Kau bilang Douglas Blackwood?” tanya Dorian terkejut. “Apakah ini Douglas Blackwood si pengusaha multinasional dan pemilik beberapa kapal pesiar mewah itu?” “Ya, Douglas yang itu” dengus Emma “Wow, bukan kah dia sangat tampan sweetheart?. Kau beruntung karena banyak wanita yang memujanya dan berharap bisa mendapatkannya. Tapi tentu saja dia tidak bodoh, dia tak pernah lama jika berkencan dengan satu wanita. Ya Tuhan dia tampan juga seksi” kata Dorian penuh kekaguman Emma memutar bola matanya mendengar ucapan Dorian. “Andai kau tahu betapa menyebalkannya dia, Dorian. Dia selalu membuatku marah” katanya emosi “Dengar sweetheart, kau tak boleh terlalu membenci seseorang karena pada akhirnya kau akan jatuh cinta pada orang tersebut” kata Dorian mengingatkann yang dibalas Emma dengan dengusan jijik. Mereka tiba di penthouse Douglas, Dorian memaksa mengantar kedalam berharap bisa memandang sosok tampan Douglas Blackwood secara langsung. Saat pintu lift terbuka, Emma berbalik menghadap Dorian dan mengucapkan terima kasih tapi dilihatnya Dorian menatap ke belakang tubuh Emma dengan tubuh tegang. Emma mengikuti pandangan Dorian, dilihatnya Douglas berdiri menatap ke larah mereka dengan tatapan tajam, pria itu masih memakai setelan kerjanya. Emma berbalik menatap Dorian, mengucapkan terima kasih lalu mencium pipinya yang membuat Dorian terkejut lalu terkekeh dan balas mencium Emma. “Sampai jumpa sweetheart, nanti hubungi aku. Ok?” kata Dorian seraya melangkah memasuki lift dan mengedipkan sebelah matanya Emma berbalik dan bersiap mendengar amukan Douglas. “Menikmati jalan-jalan mu princess?, jadi pria itu penyebab kau tak mau diantar oleh supir?” tanya Douglas dingin. “Aku sudah dewasa, dan tak butuh pengasuh” jawab Emma tak kalah dingin. “Oh, jadi Nona muda Emma McGrath tak butuh pengasuh tapi butuh seorang gigolo untuk menemaninya berjalan-berjalan. Katakan padaku, apakah kau sudah mencicipi jasa yang dia tawarkan, apakah pria Amerika mu itu lebih panas dari kekasih Inggrismu?” tanya Douglas tajam. Kedua tangan Emma mengepal, amarahnya meluap. “Kau benar-benar bjingan Douglas Blackwood! Kau tak punya hak mencampuri urusanku dan mengatur hidupku. Jangan karena aku tinggal ditempatmu lalu menjadikanmu berkuasa atas diriku. Mengatur dengan siapa aku boleh pergi. Ku sarankan padamu, lebih baik kau urusi saja hidupmu dan placur-placurmu” teriak Emma penuh amarah “Selamat malam, Sir!” Emma berjalan masuk meninggalkan Douglas yang masih terdiam kaku di tempatnya berdiri. Emma bertemu Agatha Di bawah tangga. “Aku akan langsung istirahat Agatha, tadi aku sudah makan malam diluar dengan temanku” kata Emma mengusap air matanya. “Tidurlah sayang, kau terlihat lelah” Agatha mengusap air matanya dan tersenyum lembut. “Selamat malam Agatha” kata Emma mencium pipi Agatha yang dibalas anggukan oleh Agatha. Emma menaiki tangga setengah berlari menuju kamarnya dan membanting pintu dengan cukup keras. Agatha menghampiri Douglas, menepuk bahunya lembut. “Kau harus lebih sabar Mr. Blackwood. Emma masih sangat muda” ucapnya lalu meninggalkan Douglas. *** Emma benar-benar muak pada Douglas, segala macam sebutan dia lontarkan untuk pria itu saat dia sendiri dalam kamarnya. Ponselnya berbunyi, nama Dorian tertera disitu. “Halo, Dorian” sapanya “hai sweetheart, Apakah kau baik-baik saja? Tadi aku merasa kan Aura gelap penuh amarah dari Douglas Blackwood. Ya Tuhan, dia sangat tampan ” kata suara disebrang sana “Pria itu benar-benar menyebalkan Dorian, aku ingin sekali memberinya pelajaran. Dia bersikap seolah-olah dia ayahku. Mengatur hidupku ” kata Emma kesal “hey sweetheart, seorang pria alpha memang begitu. mengapa kau tak mencoba merayu nya saja, mungkin dia tertarik padamu” kekeh Dorian “Tidak Akan pernah, Dorian ” jawab Emma tegas ” hanya sekedar saran sweetheart. Bisakah besok kita bertemu dan mengobrol lagi? Aku ingin mengajak mu ke lokasi pemotretanKu, bagaimana?” tanya Dorian “Mmm..baiklah, aku akan mengusahakannya. Hubungi aku besok dan katakan kita akan bertemu pukul berapa, dan dimana. Aku sangat lelah dan mengantuk sekarang” kata Emma. “Ok dear, besok aku akan menghubungimu lagi, istirahatlah. Selamat malam” “Selamat malam Dorian ” kata Emma menutup pembicaraan Emma memikirkan kata-kata Dorian tadi. Merayunya? Merayu Douglas Blackwood? Yang benar saja. Tapi, kenapa tidak. Rayu lalu tinggal kan. Biarkan dia menduga-duga dan berharap. Ya, kenapa tidak. Batinnya. Besok dia akan minta pendapat Dorian, dia harus bisa memberi pelajaran pada tua bangka b******k itu, pikirnya penuh tekad.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD