Emma terus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia sangat membenci Douglas Blackwood. Kebenciannya pada pria itu semakin berlipat-lipat. Terbesit dalam dirinya untuk membalas semua penghinaan Douglas tadi malam.
Apa yang harus dia lakukan untuk memulai semua rencananya. Dia teringat Dorian. Ya, dia pasti tahu apa yang harus Emma lakukan.
Setelah menelpon Dorian dan berjanji untuk bertemu dengannya, Emma segera bersiap-siap, dia sarapan dengan cepat dan mengatakan pada Agatha bahwa dia akan keluar menemui Dorian.
Emma dan Dorian tiba bersamaan di kafe tempat pertama kali mereka mengobrol saat berkenalan tempo hari.
“Ada apa sweetheart, kau sepertinya sangat gugup” tanya Dorian
“Aku memikirkan ucapanmu tempo hari Dorian, tentang merayu Douglas Blackwood” jawab Emma
Dorian menganga tak percaya. “Hey. Hey. kau tak seriuskan Em?. Ada apa sebenar nya?” tanya Dorian penasaran.+
“Aku ingin menaklukkan pria arogan itu” jawab Emma kesal.
“Tapi kenapa?” Tanya Dorian
“Dia menghinaku Dorian” desis Emma dengan wajah merona.
“Menghina bagaimana maksudmu?” tanyanya tak mengerti.
Akhirnya dengan wajah merona Emma menceritakan kejadian tadi malam pada Dorian. Dan bagaimana terhinanya dia saat Douglas meninggalkannya begitu saja dalam keadaan telanjang.
Dorian sangat terkejut, dia tak menyangka sama sekali. “Benarkah?, tapi kenapa dia begitu marah, dan kenapa dia menciummu?.” Tanyanya
“Tentu saja karena dia pria tua c***l!” kata Emma geram.
“Katakan pada ku dengan jujur Em, kau marah pada Blackwood karena dia menciummu, atau karena dia tak menyelesaikan apa yang sudah dia mulai?” tanya Dorian menahan senyumnya.
Emma menundukan wajah nya yang bersemu Merah.
“Dorian, kau mau membantuku atau tidak?” katanya kesal.
Dorian tertawa lepas. “Baiklah. Apa yang bisa kubantu?”
“Bagaimana caraku merayu pria seusia Douglas?” tanya Emma.
“Sweetheart, Douglas seorang pria. Dia mempunyai kebutuhan mendasar. Dia berbeda dengan anak laki-laki yang sering kau dan teman-temanmu ajak kencan, pria seusianya tidak berkencan seperti itu. Dia lebih menyukai kencan di tempat tidur, dia mencari partner seks.” jelas Dorian.
“Jadi maksudmu aku harus mempersiapkan diri ku jika ada kemungkinan dia mengajakku naik ke tempat tidurnya?” Tanya Emma terkejut.
“Tentu saja Em” jawab Dorian cepat, lalu dia meringis saat sebuah pikiran melintas dikepalanya.
“Jangan katakan pada ku kalau kau masih perawan” kata Dorian, lalu dia mengerang saat melihat Emma merona.
“Ya Tuhan Em, kau masih perawan. Dan apa yang Ada di dalam kepalamu saat berpikir untuk merayu Blackwood?”
“Aku siap Dorian, toh sudah waktunya aku melepaskan keperawananku. Teman-temanku sudah pernah melakukannya. Lagipula cepat atau lambat aku akan menyerahkannya pada seseorang.” jawab Emma enteng.
“Terserah padamu saja sweetheart. Tapi aku mohon, pikirkanlah lagi. Dan jika kau masih bersikeras ingin melakukannya, ingat jangan sampai kau jatuh cinta pada Blackwood” ingat Dorian.
“Takkan mungkin aku jatuh pada pria m***m itu!” jawab Emma tegas.
“Aku hanya mengingatkan sweetheart” Kata Dorian
***
Emma berjalan kesana kemari di dalam ruang kerja Douglas yang merangkap perpustakaan, sudah pukul sepuluh malam dan Douglas belum menunjukan batang hidung nya.
Emma memutuskan untuk menjalankan rencananya malam ini. Sejujurnya dia merasa sangat gugup dan juga takut.
Suara seseorang di ruang depan meyakinkan Emma bahwa Douglas sudah pulang. Dengan cepat Emma berbaring di salah satu sofa, dia meletakan sebuah buku di dekatnya, menarik turun salah satu tali gaun tidurnya, hingga menampakan sebagian dad*nya yang putih. Emma memejamkan matanya, berpura-pura tidur.
Pintu terbuka perlahan, aroma kayu-kayuan berasal dari wewangian Douglas menggelitik hidung Emma. Dad* Emma berdebar kencang menanti reaksi Douglas.
Douglas tercenung menatap ke arah Emma yang berada diatas sofa.
Douglas tahu gadis itu hanya berpura-pura tidur. Douglas melihat tali gaun tidur gadis itu turun melewati bahunya. Douglas tersenyum, baiklah jadi kau mau bermain-main denganku, gadis kecil. Batinnya.
Douglas mendekati Emma lalu membelai bibir gadis itu, jemarinya terus turun membelai dad* putih Emma, Douglas menahan tawa saat dia merasa tubuh Emma tersentak karena belaiannya.
Douglas meraih tubuh Emma dan menggendongnya menuju kamar, gadis itu masih pura-pura tertidur.
Douglas menurunkan tubuh Emma dengan kasar keatas tempat tidur, seketika Emma menjerit karena terkejut
“Apa-apaan kau ini?” teriak Emma.
Douglas terkekeh dan melipat tangannya di depan dad*. “Jadi kau sudah bangun Sekarang?” tanya Douglas.
Emma menatap Douglas tajam.+
Douglas naik ke tempat tidur dan mengurung Emma dengan tubuh besarnya. “Apa kau mencoba merayuku, little one?
Emma menelan ludah gugup, dia hanya mampu menatap Douglas. Dad*nya bergemuruh saat Douglas melarikan jemarinya di sepanjang tulang pipi Emma.
“Jadi kau berpikir untuk melanjutkan yang tertunda kemarin malam?” bisiknya di telinga Emma.
Emma terkesiap saat Douglas membelai bahu telanjangnya lalu mengecupnya sekilas dan menggigitnya. Tangannya mencengkram kemeja Douglas.
Douglas hilang akal saat Emma mendesah ketika dia menjilati leher gadis itu. Douglas terus menc*mbu, dan meremas dad* Emma, membuat gadis itu menggelinjang.
Mulut Douglas menangkap salah satu puncak payudra Emma, dia menghisap dan mengigit kecil. Emma terpekik dan melengkungkan tubuh nya, merasakan sensasi nikmat akibat mulut ahli Douglas.
Douglas menurunkan bagian atas gaun tidur Emma, menyusuri tubuh indah Emma dengan bibir dan Lidahnya, membelai paha mulusnya dan menemukan pangkal paha gadis itu tertutup kain lace yang sudah basah. Jemari Douglas menyelinap masuk dan membelai inti Emma.
Emma mencengkram erat bahu Douglas, nafasnya terengah, kepalanya berputar-putar karena kenikmatan yang diciptakan Douglas.
“Kau menginginkannya princess?” tanya Douglas.
“Ya.. Ohhh, yaa” desah Emma.
Douglas mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Emma, Emma membuka matanya, dia sangat terkejut. Tak mengerti mengapa Douglas menghentikan c*mbuannya.
“Kenapa?” Tanya Emma
Douglas duduk diatas kursi yang menghadap ke arah Emma, ditatapnya gadis yang tengah berbaring telanjang dihadapannya.
Emma bangkit duduk menanti jawaban Douglas.
“Kau tahu aku masih marah karena foto-foto itu. Aku Sangat ingin menghukummu, little one” desis Douglas.
“Apa maksudmu?” tanya Emma bingung.
“Aku akan memberikan apa yang kau mau jika kau mengikuti perintahku sebagai bentuk hukuman untukmu” kata Douglas.
Emma terdiam sesaat. Pikirannya kacau, rencananya gagal. Harusnya Douglas yang bertekuk lutut padanya, menuruti semua perintahnya, bukan malah sebaliknya.
Tapi Emma tak bisa memadamkan api gairh yang Douglas nyalakan, dia merasa tersiksa, ingin Douglas kembali menyentuhnya.
“Apa?” tanya Emma menyanggupi.
“Tunjukkan padaku bagaimana selama ini kau memuaskan dirimu sendiri. Aku ingin melihatnya sekarang juga di hadapanku, baby girl.” kata Douglas dengan nada tenang
Emma menatap ngeri kearah Douglas. Seribu kata makian berputar-putar didalam kepalanya. Tapi tak ayal permintaan Douglas membuatnya sangat bergairh. Memikirkan dia akan membuat pria itu terangsang dan dia bisa melanjutkan rencananya meninggalkan pria itu saat dia berada diambang gairh.
Emma tersenyum miring dan kembali berbaring. “Apapun yang kau inginkan, Mr. Blackwood” desahnya lalu mulai membelai setiap lekukan tubuhnya, dengan ragu-ragu dia membuka lebar kakinya hingga Douglas bisa melihat dengan jelas gairhnya. Emma mencoba untuk terlihat tidak canggung yang akan membuat pria itu curiga nantinya.
Dia mencoba mengingat-ingat setiap adegan di film porno yang pernah dia lihat dengan teman-temannya. Dia tersenyum menggoda.
“Unghhh..” desah Emma saat dia menyentuh miliknya yang terasa basah. Dia tersenyum menatap kearah Douglas.