Sweet 5

850 Words
Douglas setengah berlari menaiki tangga menuju kamar Emma. Amarahnya menggelegak. Bahkan Agatha tak pernah melihat Douglas semarah ini. “Dimana gadis itu?” Tanya Douglas pada Agatha. “Di kamarnya.” Jawab Agatha. Douglas berjalan menuju kamar Emma. Lalu dia membuka pintu kamar Emma dengan kasar membuat gadis itu terkejut. Dilihatnya gadis itu berdiri hanya memakai handuknya dan rambutnya diikat asal. Aroma sabun dan shampo menusuk indera penciuman Douglas. Emma panik saat Douglas berjalan mendekatinya. Kedua tangannya mencengkram erat handuk di depan dad*nya. Douglas Blackwood terlihat sangat marah, tangannya memegang sesuatu dengan erat membuat urat-urat tangannya menonjol. Douglas melemparkan sebuah majalah kearah Emma. “Apa yang ingin kau jelaskan tentang foto-foto ini?” katanya dengan nada dingin. Emma meraih majalah yang terjatuh di kakinya, dan mulai membukanya. “Ya Tuhan, astaga!” Seru Emma menutup mulutnya dengan tangan. Mata Emma terbelalak saat melihat foto-fotonya beberapa hari yang lalu kini terpampang di salah satu majalah fashion. “Jadi ini yang kau kerjakan saat berjalan-jalan dengan temanmu?” desis Douglas tajam. Emma tak mengerti kenapa Douglas begitu marah padanya. Ini hanya sebuah foto. Ya, walaupun dengan pakaian yang sangat seksi dan nyaris membuatnya terlihat telanjang. Tapi apakah Douglas tak bisa melihat nya dari sisi seni dan keindahan lagipula bukankah mantan istrinya dulu juga seorang model?. “Apa yang kau ributkan sebenarnya, ini hanya foto. Beberapa hari yang lalu Dorian mengajakku ke lokasi pemotretannya. Tapi ketika tiba disana, partnernya membatalkan kontrak. Aku diminta untuk menggantikan wanita itu. Hanya itu.” jelas Emma. Rahang Douglas menegang. “Dengan pakaian seperti ini?, nyaris memperlihatkan tubuhmu?. Apa yang kau pikirkan sebenarnya young lady, setiap pria bisa melihat tubuh polosmu. Atau memang itu yang kau harapkan?” Tuduhnya. Emma menganga tak percaya mendengar perkataan Douglas. Berani sekali pria itu! “Dengar ya, pria tua sok suci! Aku tak pernah mencoba merayu pria dengan tubuhku, aku bukan placur seperti wanita-wanitamu. Dan aku sangat tidak suka dengan sifat bossy mu itu. Kau bersikap seolah-olah kau adalah Ayahku. Atau kau senang memikirkan untuk mencoba mengendalikanku dan mengatur hidupku?” bisik Emma tajam didepan wajah Douglas. Douglas menggeram, sudah cukup, teriak batinnya. Douglas menggenggam erat rambut Emma, membuat gadis itu memekik sakit. “Ide untuk mengendalikanmu memang sempat melintas di kepalaku princess. Jadi, mari kita lihat apakah kau bisa ku kendalikan” desisnya di bibir Emma. Nafas Emma terengah, handuk yang menutupi tubuhnya terlepas. Secepat itu pula bibir Douglas melumat bibirnya. Emma mengerang. Douglas meraih tubuh telanjang Emma dalam dekapannya. Dibelainya tubuh telanjang itu. Tubuh Emma lemas, ini tak sama seperti ciuman yang pernah dia rasakan sebelumnya. Ciuman Douglas sangat dalam, bernafsu dan sangat menguasai. Emma berpegangan erat pada bahu Douglas saat tangan pria itu meremas dad*nya, putingnya menegang dan terasa pedih bergesekan dengan kemeja Douglas. Douglas mendorong tubuh Emma hingga jatuh telentang diatas tempat tidur, dia memandang kearah tubuh polos Emma. Douglas melihat gadis itu terengah dan pasrah seluruh tubuhnya merona karena gairh, kewanitaannya terlihat basah oleh cairan. Douglas memejamkan matanya, nafsu dan akal sehatnya berperang saat melihat tubuh ranum Emma McGrath. Kjantanannya menegang ingin mengklaim kepemilikannya atas gadis itu. Mengendalikan sifat pembangkang Emma McGrath. Memperkenalkan pada gadis itu apa arti dari mengendalikan. Tangan Douglas terkepal saat bayangan dirinya mengendalikan dan menguasai tubuh Emma McGrath. Dia membuka matanya melihat gadis itu menatap kearahnya, Douglas bisa melihat nafsu berkelebat dalam mata biru itu. Douglas mengerang dan memaki, meninggalkan Emma yang masih berbaring dan diliputi nafsu. Douglas menutup pintu dengan kasar. Emma yang melihat kepergian Douglas merasa sangat kecewa dan terhina diperlakukan seperti itu. Emma menangis terisak. Pria itu benar-benar b******k. Dan kenapa Emma harus merasa sangat kecewa karena Douglas tak menginginkan nya. Emma menangis hingga jatuh tertidur dalam keadaan tanpa busana. *** Douglas menghubungi seseorang masih dalam keadaan marah dan frustasi. “Jim, aku ingin kau menarik semua majalah Fashion X yang terbit hari ini, jangan sampai terlewat. Aku tak mau tahu!” Perintah Douglas, lalu menutup telponnya. Douglas menghela nafas panjang, dia mengurung diri di ruang kerjanya. Malam ini dia benar-benar b******k, nyaris tidur dengan gadis kecil putri temannya. Emma McGrath, desahnya frustasi. Dia sangat marah saat salah satu temannya membawa sebuah majalah fashion dan mengomentari seorang model dengan nada c***l. Karena penasaran akhirnya Douglas melihat majalah tersebut dan betapa terkejutnya dia saat melihat foto Emma beserta teman prianya berpose mengenakan gaun yang nyaris memperlihatkan seluruh tubuh gadis itu. Dengan perasaan marah Douglas memutuskan untuk pulang siang itu juga, ingin tahu alasan gadis itu berpose seperti itu. Douglas menenggak minumannya lagi, bayangan tubuh telanjang gadis itu terus menari di pelupuk matanya. Andai saja Douglas tak meninggalkannya tadi, mungkin saat ini dia bisa tahu bagaimana rasa gadis itu, mendengar desahan dan juga erangannya. Douglas melempar gelasnya hingga pecah Karena kesal. Dia ingin sesuatu untuk melampiaskan amarah juga rasa frustasinya akan gadis itu, dia menghubungi seseorang untuk menemaninya malam ini. Seseorang yang bisa dia kendalikan dengan mudah, bukan kucing liar seperti Emma McGrath. Tapi keinginan untuk kembali ke kamar Emma begitu kuat. Dia ingin mencicipi tubuh ranum gadis itu, menyetubuhinya dengan kasar dan membisikkan kata-kata vulgar ditelinga gadis itu. Mendengar dia menjeritkan namanya, diantara nafasnya yang memburu. Sial! Benar-benar sial! Erang Douglas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD