“Frans..” Kedua mata itu terbuka lebar, menampakkan sepasang iris coklat terang yang seakan bersinar dalam gelap karena memantulkan cahaya bulan yang menerobos masuk dari jendela besar kamar luas itu. Pria itu tidak percaya pada apa yang ia lihat. Kedua matanya terpaku ke depan, pada wanita yang tengah berbaring menyamping sepertinya. “Nana?” Kedua tangan Nana menjulur ke depan. Air mata mengalir keluar dari sudut matanya. “Frans,” “Hh.. Nana! Akhirnya.. akhirnya kau kembali,” Ucap Frans, langsung memeluk istrinya erat. “Na, ke mana saja kau pergi selama ini? Aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf. Aku bisa menjelaskan semuanya. Tolong berikan aku kesempatan,” Nana hanya diam, namun Frans dapat mendengar isak tangis lemahnya. Perlahan, Frans melonggarkan pelukannya untuk mengintip w

