“Dari mana saja kamu? Ini jam berapa?” tanya Arnelo.
“Ya dari toko, Mas,” jawab Nela.
“Ini sudah lewat magrib, Arnela!”
“Lah aku kan tadi sudah bilang, kalau aku jalan-jalan dulu di taman kota, dan beli ini!” ucap Nela seraya menunjukkan kresek pada kakaknya.
“Alasan saja, sana mandi! Emak sama Bapak nungguin kamu pulang itu,” ucap Arnelo.
“Bawel!” gerutu Nela.
“Aku dengar!” ucap Arnelo.
“Sengaja!”
“Assalamualaikum, Emak Bapak, Nela pulang dengan selamat dan juga tambah cantik,” ucap Nela saat masuk rumah.
“Waalaikumsalam.”
“Tumben pulang sampai malam?” tanya Ayah Nela.
“Sebenarnya, aku masih ingin menghabiskan waktu di taman kota, Pak. Namun Masku yang super duper ganteng gak ada saingannya ini, meneror ku untuk segera pulang,” ucap Nela seraya cemberut.
“Ya jelas, lah kamu ini anak gadis. Masa mau pulang malam, apa kata orang nanti,” ucap ibunya.
“Paling cuma bilang kalau Nela suka kelayapan,” ucap Nela cuek seraya berjalan ke dapur.
“Dasar bocah gemblung!” cibir sang Ibu.
Namun Nela tak menggubris ucapan sang Ibu, ia justru masuk ke kamarnya untuk melakukan aktivitas magrib yang tadi sempat tertunda. Entah mengapa di saat ia melakukan ibadah, sepintas wajah Panji alias si tukang cilok melintas di otak cantiknya.
“Ya Allah, kenapa Engkau menciptakan pria setampan Kang cilok, ingin rasanya aku melamarnya. Mana ada ya cewek ngelamar cowok?” ucap Nela seraya sedikit berpikir.
“Harus ada, nanti aku yang akan memecahkan rekor itu,” ucapannya lagi seraya bergegas merapikan alat sholat miliknya.
Sebenarnya setelah selesai sholat Nela ingin langsung tidur, tapi urung karena sang Emak sudah berkoar-koar memanggil namanya untuk makan. Dengan malas Nela pun berjalan menuju dapur untuk makan. Jika kalian pikir, tempat makan di rumah Nela, ada sebuah meja makan, kalian salah! Rumah Nela itu kecil, hanya berukuran dua belas meter, saja dengan tiga kamar tidur dan satu kamar mandi, sementara dapur juga di pakai menjadi ruang makan, dengan satu tempat duduk yang mirip dengan dipan, terbuat dari bambu. Tempat itu adalah satu-satunya tempat untuk duduk menikmati makanan, terkadang Nela akan makan di lantai, kadang juga di depan televisi. Suka-suka dan senyamannya si Nela saja.
“Besok toko kamu buka apa gak?” tanya Arnelo.
“Kenapa tanya-tanya? Bantu juga kagak! Nyumbang juga kagak! Jadi gak usah tanya-tanya!” jawab Nela ketus.
Sebuah sendok melayang mengenai kepala Nela yang sangat cantik.
“Mas! Kamu mau otak cantikku ini jadi konslet, Hah? Mau ya punya adik yang rada-rada miring otaknya? Dasar Kakak gak ada akhlaknya!” ucap Nela.
“Bisa, tidak kamu itu kalau di tanya itu di jawab! Lama-lama aku bisa miring kalau dekat sama kamu,” ucap Arnelo.
“Ya sudah, sana minggat! Lagian siapa juga yang nyuruh ada di sini!”
“Awas saja ya, kalau besok minta tolong buat bongkar barang!” ucap Arnelo.
“Eh, jangan marah dong Kakanda Sayang,” ucap Nela seraya menunjukkan deretan giginya.
“Bodo amat, amat aja sudah pintar!” ucap Arnelo seraya melangkah meninggalkan Nela.
“Awas saja ya, kalau sampai pinjam uang buat bayar semester kuliah! Gak akan aku pinjami kamu, Mas!” ucap Nela.
Ucapan Nela sukses membuat langkah Arnelo, terhenti dan berbalik menatap adiknya yang tengah tersenyum miring padanya.
“Soal duit saja, langsung nyengir! Dasar kakak titisan firaun!” cibir Nela.
“Iya- iya nanti Mas bantu. Tadi itu Mas mau tanya besok buka apa gak, soalnya Mas mau bantu bongkar barang, biasanya kan tanggal segini barang di toko kamu datang,” ucap Arnelo.
Nela tak menjawab ucapan sang Kakak, ia malah asyik menyantap makanan kebangsaannya, yaitu tumis kangkung dan sambal petai. Tanpa mempedulikan ucapan sang Kakak yang terus merayunya agar memberikan pinjaman uang, Nela segera beranjak dari duduknya dan mencuci piring bekas ia makan. Sementara sang kakak terus saja menggodanya dengan berbagai cara.
“Berhenti merengek, ya! Geli aku dengernya! Heran deh, biasanya kan di mana-mana, seorang Kakak yang selalu memberikan adiknya uang. Ini malah kebalik, kakak nya malah yang morotin adiknya, adiknya cewek lagi, gak malu gitu sama pacarmu, Mas?” ucap Nela.
“Ngapain malu? Demi mendapatkan uang, aku rela memutuskan urat malu!” ucap Arnelo.
“Idih! Emang situ punya urat malu? Perasaan kagak deh! Tak sumpahin kamu nanti akan nangis bombai menyesal atas sikapmu pada diriku ini,” ucap Nela seraya melangkah menjauhi Kakak nya dan mengibaskan rambut abu-abunya itu.
“Nel! Besok pinjami Mas uang, ya?” tariak Arnelo.
“Ogah, kerja sana, kalau butuh duit,” jawab Nela.
“Ini ada apa sih? Dari tadi kok ribut saja,” tanya Ayah Nela pada Arnelo.
“Biasa, Pak. Minjem duit sama Nela,” jawab Arnelo.
“Ooo! Bocah gemblung! Kamu tuh Kakak seharusnya kamu yang ngasih uang ke adikmu, ini malah kebalik.”
“Kan aku masih kuliah Pak, nanti kalau kafeku sudah ramai aku akan berusaha sukses dan membantu Nela,” ucap Arnelo.
“Amin!”
Arnelo pun memasuki kamarnya setelah berbincang dengan sang Ayah. Sebenarnya Arnelo tidak setega itu selalu meminjam uang pada Nela, meskipun ia selalu mengembalikan uang yang ia pinjam pada Nela. Alasan Arnelo meminjam uang pada adiknya karena ia benar-benar membutuhkan untuk membayar kebutuhan kampusnya, karena kafe yang ia kelola belumlah sebesar toko milik Nela. Arnelo menghela napasnya, mengingat masa-masa kelam Nela, alasan adik satu-satunya tidak mau melanjutkan pendidikannya, karena selalu saja mendapatkan perundungan dari teman-temannya, hingga harus keluar dari sekolah saat masih duduk di bangku kelas sepuluh, dan keluarga harus membawa Nela ke psikiater untuk menyembuhkan traumanya. Dengan usaha keras keluarganya akhirnya Nela sembuh, dan mengubah sikap Nela, yang dulunya selalu menangis diam-diam, kini menjadi seorang gadis yang boleh di bilang sangat amit-amit jabang bayi, bagi siapa saja yang menemuinya.
Sebenarnya Emak dan bapaknya ingin menuntut teman-teman yang merundung Nela, karena keterbatasan ekonomi mereka pun mengurungkan niat itu, dan lebih memilih membiayai pemulihan mental Nela. Dan kini Nela sudah bisa bangkit dari rasa traumanya, dan ia sudah bisa bersosialisasi dengan lingkungan, bahkan tingkahnya sudah melebihi ekspektasi keluarganya.
Tak banyak orang yang tahu tentang kondisi Nela saat itu, karena dulu Nela langsung di bawa ke rumah sang Nenek. Yang orang-orang tahu saat ini, sosok Nela adalah sosok gadis yang pecicilan dan juga bar-bar. Jika mereka tahu seperti apa Nela dulu, mereka akan merasa iba pada Nela. Namun sosok Nela sekarang tidaklah mudah untuk di rundung, bukannya lemah atau depresi, justru yang merundung nya yang akan setres. Bahkan teman-temannya dulu, tidak berani lagi menghina atau mengatai Nela. Bisa di makan hidup-hidup oleh Nela.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Arnelo, ia segera beranjak dari kasurnya dan berjalan menuju pintu.
Baru juga membukakan pintu mulutnya sudah di timpuk dengan uang seratus ribuan oleh Nela.
“Paan deh?”
“Belikan pembalut!” ucap Nela.
“Apa? Kamu waras, Nel?”
“Buruan deh, ini tuh sudah banjir dan tadi aku bendung sama kain, kalau gak mau kaos Mas, yang aku buat bendungannya nanti!” ucap Nela.
“Pakai saja, daripada aku belikan kamu pembalut, malu aku. Enak aja, mending korban satu kaos,” ucap Arnelo.
“Aku bawa kater ini, tajam loh buat mengiris ban motor,” ucap Nela seraya berjalan ke depan.
“Nela! Awas kamu ya, kalau motorku sampai kenapa-napa!” teriak Arnelo seraya berlari ke depan.
"Pilih ban motor atau pembalut?" tanya Nela seraya menempelkan kater ke ban motor sang kakak.
"Kenapa kamu, selalu bikin orang emosi sih? Dasar adik laknat!"
"Bagus, buruan Mas, makin deras saja nih bendungan, itung-itung seraya belajar jadi suami siaga. Nih duitnya!"