Hari ini hari yang cerah. Cerah banget malahan. Saking cerahnya sampai-sampai matahari seraya diatas kepala. Hampir semua orang yang bekerja dibawah terik matahari sudah kembang kempis. Peluh pun sudah membanjiri tubuh mereka. Namun hak itu tak berlaku untuk Nela. Saat ini ia tengah mengecek beberapa kain yang baru datang di gudang. Terlihat serius saat mengecek barang-barangnya. Tapi jika sudah selesai cacing kerminya meronta-ronta.
“Ing! Ingka?” teriak Nela. Nah kan apa Emak bilang, dia itu serius kalau liat bukunya saja.
“Bisa gak sih, jangan teriak-teriak? Aku tuh gak budek ya. Paan sih?” gerutu Ingka.
“Ini kenapa lebih satu lusin dasternya?” tanya Nela.
“Lah kok bisa?”
“Peak apa oon sih? Kalau aku tempe aku gak tanya sama dikau Adinda Ingka,” ucap Nela serius. Serius banget ya. Kalau Nela sudah serius, jangankan Ingka. Sayton saja akan kincep.
“Kemari sudah dihitung dari sana dan itu pas.”
“Telepon, Bu Mutia sana. Bilang kalau dasternya kelebihan satu lusin. Tanyain juga di bayar sekalian boleh apa kagak,” ucap Nela.
“Siap, Bos,” ucap Ingka lalu pergi meninggalkan Nela.
“Ada saja kendala. Ini kalau dibiarkan bisa-bisa reputasi Arnela menurun drastis nanti,” gerutu Nela.
Setelah selesai mengecek semua barang-barang yang ada di gudang, kini Nela kembali kedepan dan membantu melayani para pembeli. Karena akhir pekan jadi toko baju milik Nela lumayan rame.
“Sudah jam dua belas. Kalau mau makan gantian ya,” ucap Nela pada Ingka dan Nurul.
“Nel, kenapa tidak nambah pegawai satu lagi gitu? Cadangan aja di hari minggu gitu,” usul Nurul.
“Lah mbok pikir nyari pegawai gampang apa? Apalagi kalau hanya di akhir pekan saja,” ucap Nela.
“Coba kamu nawarinya ke anak sekolahan gitu. Kan mereka libur kalau akhir pekan,” ucap Nurul.
“Masalahnya nyari dimana, Rul?” tanya Nela.
“Tanya ke Ingka saja, dia kan banyak tuh kenalannya,” usul Nurul.
“Nanti aku tanya dia, kalau tuh anak sudah balik dari makan.”
Nela dan Nurul pun, melanjutkan melayani para pembeli yang semakin sore semakin ramai. Nela bersyukur akan hal itu, baginya diusia yang terbilang muda, ia sudah mempunyai penghasilan sendiri dan lumayan bisa membantu kebutuhan sang Kakak yang sedang kuliah. Biasanya kakak yang akan membiayai sekolah sang adik. Berbeda dengan Nela, setelah ia lulus sekolah menengah atas, ia tak mau lagi meneruskan kuliah dan memilih membuka toko baju, yang sebelumnya ia jual secara online. Beruntungnya kedua orang tuanya mendukung apapun yang menjadi pilihannya. Hal itu membuat kedua orang tuanya sedikit lega karena Nela melupakan hal yang paling menakutkan dimasa lalunya.
Sore pun tiba. Kini Nela dalam perjalanan pulang, hm, pulang bagi Nela bukan pulang yang sesungguhnya, ia sengaja pulang jam tiga. Padahal tokonya belum tutup. Apa lagi kalau tidak menunggu Kang cilok kesayangannya. Tak sampai satu jam, akhirnya Kang cilok yang ia tunggu pun lewat.
“Kang? Ciloknya masih ada?” tanya Nela. Padahal itu mah modus, ya.
Panji menghentikan motornya, sebenarnya ia tahu jika Nela hanya ingin menggodanya, tapi ia tetap saja berhenti, ya siapa tahu saja Nela benar-benar membeli ciloknya yang masih ada.
“Beli tiga bungkus ya, Kang. Sepuluh ribuan,” ucap Nela.
Tanpa menjawab ucapan Nela, Panji segera membungkus cilok pesanan Nela.
“Nih uangnya, Mas. Kembaliannya buat kamu ya,” ucap Nela.
“Aku gak semiskin itu. Nih ambil lagi. Lagipula Cuma dua puluh ribu,” ucap Panji.
“Ish. Kamu mah, gitu Mas. Ya sudah mana. Mayan besok buat beli lagi,” ucap Nela.
Panji segera menjalankan motornya dan pergi meninggalkan Nela. Baginya Nela seperti cacing kermi yang kepanasan saat bertemu dengannya. Menjijikkan bagi Panji. Karena hari sudah sore, panji memutuskan untuk pulang. Dagangannya juga hanya tinggal sedikit. Malas untuk jalan lagi. Setibanya di rumah panji dikagetkan oleh gadis centil yang tiba-tiba saja berada dibelakangnya.
“Kamu ngikutin aku?”
“Iya lah. Aku tanya rumah kamu, gak mungkin kamu jawab,” ucap Nela.
Ya gadis itu adalah Nela. Parah bukan pemirsa? Saking cintanya pada Panji, Nela rela mengikuti si Kang cilok kesayangannya itu.
“Pergi kamu. Jadi gadis jangan kayak gitu!” ucap Panji.
Namun yang namanya Nela. Mana mempan ucapan Panji yang seperti itu. Sebenarnya ini bukan kali pertama Nela mengikuti Panji. Namun kali ini Nela menampakkan diri pada Panji. Kedatangan Nela disambut oleh ibunya Panji mereka sedikit mengobrol. Tepatnya Nela yang nerocos, ibunya Panji mah hanya senyum-senyum saja mendengar ucapan Nela. Sementara Panji, jangan di tanya seperti apa mukanya. Dia terlihat geram dan ingin memakan hidup-hidup gadis yang terlihat sok akrab dengan ibunya itu. Nela juga dengan bangga mengatakan jika ia menyukai Panji di depan Suyati ibunya Panji. Suyati melongo mendengar pertanyaan cintanya pada sang anak.
“Eh, kamu itu jadi cewek jangan kegatelan ya! Kamu pikir dengan kamu mengatakan pada ibuku, aku akan luluh gitu sama kamu? Tidak akan, justru hal itu tambah membuatku jijik dan ingin muntah saat melihatmu. Bahkan aku tidak yakin, kalau kamu tidak hanya menggodaku. Banyak kan pria yang sudah kamu goda! Sebaiknya kamu pergi dari rumahku jangan pernah lagi datang kerumah ini. Kalau bisa jangan muncul di depanku!” ucap Panji.
Ucapan Panji pun di tegur oleh Suyati. Baginya ucapan sang anak sudah keterlaluan. Apalagi sampai menghina Nela.
“Tidak apa-apa Bu. Mas Panji kan hanya bercanda kok, iya kan Kang? Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu ya Bu. Kang Cil, Adek pulang dulu ya. Besok kita ketemu lagi, dadah Kang,” ucap Nela seolah ucapan panji adalah suara kucing menabrak kaleng biskuit.
Namun Panji tetaplah Panji, tidak menggubris perkataan Nela. Ia justru bersyukur Nela pulang sungguh menyiksa kesabarannya.
“Dia lucu loh, Nji. Kenapa kamu mengatakan hal yang tidak pantas seperti itu pada dia? Ingat kamu punya saudara perempuan. Jangan seperti itu,” ucap Suyati.
“Ibu tidak lihat kalau dia seperti itu? Endel dan kayak kegatelan gitu. Jijik aku sama tingkahnya Bu. Seharusnya sebagai cewek dia bisa kan jaga sikap, gak perakilan kayak cacing kermi kepanasan gitu,” ucap Panji.
“Hust! Lambemu kalau ngomong jangan seperti itu. Gak baik. Nanti jadi istri kamu, tahu rasa kamu.”
“Naudzubilah! Jangan sampai deh Bu.”
“Nak, sebenci apapun kamu pada gadis itu, jangan pernah menghina dia bahkan sampai mengatakan hal-hal seperti tadi,” ucap Suyati.
“Aku mengatakan fakta Bu. Aku pernah melihat dengan mataku sendiri, aku melihat dia di pasar malam dengan seorang pria, bahkan dia bergelayut manja, memeluk dan saling menyuapi. Apa itu yang dinamakan baik? Apa lagi dengan sikapnya yang selalu menunjukkan sikap agresif kepadaku. Itu menambah poin kalau dia benar-benar gadis tidak benar. Jadi Ibu tidak perlu membela dia sampai seperti itu,” ucap Panji seraya masuk kedalam rumahnya.
Suyati menghela napasnya mendengar penuturan Panji. Seharusnya anaknya itu bisa menahan ucapnya sedikit saja. Wanita paruh baya itu tidak tahu jika Panji pernah bertemu dengan Nela di pasar malam. Hal itu membuat Panji semakin jijik dengan Nela.
Berbeda dengan Panji. Kini Nela mengendarai motornya dengan sangat pelan, hatinya nyeri mendengar ucapan Panji. Tapi mau bagaimana lagi, ia sadar jika ia juga terang-terangan mengejar Panji. Entah mengapa sejak bertemu dengan tukang cilok kesayangannya itu. Nela semakin menjadi dan seolah melupakan harga dirinya sebagai perempuan, ia rela membeli cilok setiap hari hanya demi bertemu sang pujaan hatinya. Meskipun ia tahu jika Panji sangat membencinya, tapi Nela tetaplah Nela, yang di butakan oleh rasa yang bernama cinta.
Sejak saat itu keseharian Nela tidaklah berubah ia masih sama, mengganggu Panji dengan tingkahnya dan melupakan kata-kata pedas Panji yang di ucapkan terhadap dirinya beberapa waktu lalu. Jangankan Panji. Ingka dan Nurul saja sampai heran dengan tingkah Nela yang semakin hari semakin menjadi-jadi mengejar Panji. Bahkan Panji sampai mengubah rute jualannya agar tidak bertemu dengan Nela.
“Wah, sepertinya Kang Cil, menghindariku ya?” tanya Nela saat mereka bertemu di sebuah jalan. Bukan bertemu tepatnya Nela kembali mengikuti Panji.
“Kamu mengikutiku lagi?” tanya Panji.
“Eh, mungkin kita berjodoh Kang,” ucap Nela.
Panji memarkirkan motor di pinggir perkebunan jagung hal itu diikuti oleh Nela.
“Eh kita mau kemana?” tanya Nela saat tangannya di tarik paksa oleh Panji.
“Kamu benar-benar menyukaiku kan?” tanya Panji pada Nela.
Nela mengangguk antusias, ia berpikir jika Panji sudah menerima perasaannya. Tapi dugaan Nela salah.
“Aku sudah memperingatkan dirimu untuk tidak muncul kembali di hadapanku. Namun kamu masih menggangguku. Sekarang aku akan memberikan apa yang biasa kamu dapatkan dari pria-pria yang kau kencani, Nela!”
Satu hal yang Nela rasakan.
Sakit!
Menyesal!
Malu!
Terhina!
Satu-satunya hal yang paling berharga yang ia miliki di ambil paksa oleh orang yang ia cintai. Masa depannya hancur disaksikan oleh jagung-jagung yang ada di kebun itu. Rintihan dan juga permohonan pilunya tak di gubris oleh Panji. Pria yang ia cintai justru semakin menggila menghujam inti tubuhnya. Hati Nela hancur dan menyesal telah mencintai pria. Meskipun ini salahnya, tapi Nela tidaklah pantas mendapatkan hal itu.
Hati Nela semakin hancur saat Panji meninggalkannya begitu saja di kebun itu. Tanpa ada kata satu pun yang keluar dari bibir pria yang sudah merebut hartanya itu. Nela menangis dalam Diam, hati dan tubuhnya hancur mendapatkan perlakuan dari orang yang ia cintai. Dengan sisa-sisa tenaga, Nela bangkit dan berjalan menuju motornya untuk pulang.