Pagi terakhir di Kyoto terasa ganjil bagi Anggita. Entah karena udara yang lebih dingin, atau karena ia belum siap meninggalkan semua momen yang baru saja menghangatkan hatinya selama beberapa hari terakhir. Rafka masih sibuk merapikan paspor mereka ketika Gita berdiri lama di balkon kamar hotel, memandangi matahari yang muncul dari balik bangunan kayu tradisional. “Kok melamun?” Suara Rafka terdengar dari belakang, lembut dan sedikit berat karena baru bangun. Gita menoleh. “Bukan apa-apa. Sayang aja pulang.” “Ah—itu bagus,” Rafka berjalan mendekat sambil mengancing jaketnya, “berarti kita harus honeymoon lagi nanti.” Gita memiringkan kepala. “Lagi?” “Benar, lagi, asal kamu mau, Sayang.” Anggita tersenyum senang. "Lain kali ke Eropa ya?" "Siap, My wife." Rafka mencium kening Anggi

