Laura mengerjap yang rasanya akhir-akhir ini sering ia lakukan semenjak kejutan yang menghampirinya rasanya tidak pernah habis. Apa yang Rey lakukan di sana? Berdiri di depan pintu ruangannya? Laura tahu kalau hari ini ia tidak memiliki jadwal kelas yang sama dengan Rey.
Yah kau memeriksanya setidaknya 3 kali dalam satu hari ini.
Laura mengabaikan suara mengejek di dalam kepalanya. Ia berjalan menghampiri Rey yang hari ini tampil kasual dengan jeans dan kemeja lengan panjang dilengkapi dengan topi bisbol berwarna hitam.
“Rey.”
Rey menoleh, tersenyum lebar seolah kehadiran Laura-lah penyebab senyum itu muncul.
Demi Tuhan dia mahasiswamu!
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku menunggumu.”
“Menungguku?”
Rey mengangguk. Laura membuka buku besar yang dia bawa, sekali lagi membaca jadwal kelasnya, takut ia salah baca atau salah perhitungan.
“Hari ini kita tidak ada jadwal kelas,” tuturnya lebih kepada bingung daripada heran begitu selesai membaca jadwalnya.
“Aku tahu.”
Dia tahu?
“Lantas kenapa?”
“Kau menyukai bunganya?”
Laura melirik sekeliling dengan panik. Bagaimana jika ada yang mendengar mereka? Rey mengikuti gerakan Laura.
“Apa sih yang kau takutkan?” tanya Rey, merasa bingung dengan reaksi hati-hati Laura.
“Bagaimana jika ada yang mendengarmu,” bisik Laura jengkel.
“Dan itu jadi masalah?”
Apa Rey benar-benar sebodoh itu?
“Tentu saja. Bagaimana jika orang-orang berpikir kita memiliki semacam hubungan? Itu akan menjadi skandal yang memalukan.”
Ekspresi di wajah Rey berubah mendengar penjelasan Laura. Wajahnya menjadi kaku dan dingin.
“Kau malu kalau orang-orang berpikir kita menjalin hubungan?”
“Tentu saja. Aku dosenmu, Rey. Aku lebih tua darimu. Apa yang akan dipikirkan orang-orang seandainya mereka pikir kita menjalin semacam hubungan,” tukas Laura masih dengan nada berbisik. Laura kembali menyapu pandangan, sama sekali tidak menyadari perubahan tubuh dan juga raut wajah Rey yang semakin gelap dan dingin.
“Kalau begitu kurasa tidak ada gunanya mengirimimu bunga, bukan?”
Saat itulah Laura menyadari kalau sesuatu telah terjadi. Begitu menatap mata kelam bagai badai milik Rey, Laura bisa melihat kalau lelaki itu gusar.
“Rey, aku….”
“Nah, karena menurutmu memalukan terlihat bersama denganku kurasa nanti malam akan jadi malam perpisahan kita, bukan begitu?”
Laura membuka mulut, menutupnya kembali, ia melakukannya sampai beberapa kali, tapi sampai Rey berbalik memunggunginya, Laura tidak juga menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.
Laura menghela napas.
“Andai kau tahu Rey, seberapa besar pengaruh skandal mempengaruhi hidupmu,” gumam Laura lirih, menatap punggung Rey yang semakin mengecil sampai akhirnya menghilang ditelan gelombang para mahasiswa.
Sekali lagi Laura menoleh, sebelum akhirnya membuka pintu ruangannya. Ia tahu keputusannya benar, tapi entah kenapa Laura juga merasa kalau ia telah melakukan kesalahan.
***
“Pasangan artis yang umur istrinya lebih tua.”
Rey melipat lengannya sambil menunggu hasilnya muncul. Hanya butuh satu kedipan sebelum hasil yang ia inginkan keluar. Rey mulai membaca satu persatu artikel yang ia temukan.
“Nick Jonas dengan Priyanka Chopra memiliki perbedaan usia 10 tahun, Huck Jackman menikah dengan Deborra Lee-Furness yang lebih tua 15 tahun darinya.” Rey tersenyum lebar begitu selesai membaca semua isinya. Ia mengotak-atik ponselnya, mencopy linknya dan mengirimnya pada Laura.
“Nah, ini pasti akan memberimu sesuatu untuk dipikirkan,” gumamnya puas.
Rey menggeleng-gelengkan kepala saat mengingat ucapan Laura. Wanita secerdas Laura tidak seharusnya menjadikan usia sebagai dinding pemisah untuk menemukan kebahagiaannya. Apa Laura selalu memikirkan segalanya saat menjalin suatu hubungan? Sekarang ia benar-benar penasaran dengan kehidupan asmara wanita itu. Jika usia memang sepenting itu, Rey penasaran setua apa laki-laki yang pernah menjalin hubungan dengannya.
Rey menatap ponselnya yang masih sepi dari notifikasi. Mungkin wanita itu masih mengisi kelas, pikirnya. Rey menutup laptopnya, bersiap untuk masuk ke kelas.
“Reyhan.”
Rey mematung mendengar suara familiar tersebut. Saat ia mendongak, Rey menatap orang yang menyapanya dengan pandangan tidak suka.
“Ada apa? Aku sibuk.”
“Bisa kita bicara sebentar? Ada yang ingin kukatakan.”
Rey mengatupkan rahangnya. Jawaban ‘tidak’ sudah ada di ujung lidahnya, tapi akhirnya Rey sadar kalau menghindar tidak akan menyelesaikan masalahnya. Ia meletakkan kembali ranselnya di atas meja hanya untuk melihat senyum puas bermain di wajah wanita itu.
“Aku kemari untuk memberikanmu ini.”
Rey menatap kartu mewah bertintakan emas yang diletakkan wanita itu di atas meja dengan luapan kejengkelan yang tidak ditutup-tutupi.
“Mereka benar-benar berharap kau datang, Rey.” Suara wanita berwajah cantik itu melembut.
“Aku tidak akan datang,” balasnya tegas kemudian berdiri. Kartu undangan itu teronggok seperti sampah yang harus dibuang.
“Rey.”
Rey mengabaikannya. Ia mempererat topi bisbolnya untuk menutupi rona mukanya, tidak ingin orang-orang melihat kemarahan juga kebencian yang pasti terpancar di wajahnya saat ini.
Brengsek, apa mereka pikir pesta mewah dan undangan sialan itu akan membuatnya luluh? Neraka harus membeku lebih dahulu sebelum itu terjadi. Rey mengambil langkah lebar-lebar. Ia butuh udara segar sebelum himpitan dan tekanan dalam dadanya mencekiknya sampai kehabisan napas.
Rey sedang berdiri di atas jembatan yang dibawahnya dialiri kolam ikan yang terawat saat ponselnya bergetar. Melihat nama si pengirim pesan sudut mulutnya terangkat membentuk senyuman lebar.
Apa kau mengirimiku link film ‘aneh’?
Rey tertawa terbahak-bahak. Yah, tepatnya inilah yang ia butuhkan. Selingan untuk meringankan suasana hatinya. Selingan? Rey menggerakkan kepalanya ke samping. Laura jelas bukan selingan.
Padahal biasanya wanita cerdas mudah penasaran. Rey menekan tombol kirim, menunggu balasan Laura. Ia duduk di atas rumput sembari menunggu balasan Laura.
Wanita cerdas biasanya hati-hati dan cermat.
Rey tersenyum lebar, dalam sekejap melupakan pertemuan menjengkelkan yang baru saja ia alami.
Bagaimana kalau kau buka? Aku yakin kau penasaran tentang link itu. Akui saja.
Awas, kalau ini tipuan aneh aku akan membunuhmu.
Rey terkekeh.
Mati dalam pelukanmu bukanlah ide yang buruk.
Rayuanmu payah sekali.
Siapa bilang kalau aku sedang merayu?
Rey bisa membayangkan bagaimana ekspresi Laura saat membaca pesannya. Wanita itu pasti mendecak jengkel sambil menggerutu seperti yang beberapa hari terakhir ia amati dilakukan wanita itu ketika sedang kesal.
Rey menunggu selama beberapa saat dan karena tidak kunjung mendapat balasan Rey mengeluarkan earphonenya, memilih mendengarkan musik sembari memandang langit kebiruan dari tempatnya duduk.
Ia harus menenangkan diri karena nanti malam ia punya kencan.
Kencan, eh?
Rey tersenyum dengan mata terpejam. Jika Laura pikir ia akan menyerah setelah ucapannya yang tidak masuk akal waku itu, sudah saatnya membuktikan sebaliknya pada Laura.
***
Tidak seperti namanya, Royal Palace bukanlah tempat mewah di mana orang-orang elit dengan pakaian mewah buatan tangan mendatangi tempat ini. Sebaliknya, restorannya cukup sederhana.
Restoran yang letaknya berada di pinggir jalan ini menggunakan nuansa keemasan yang mungkin menjadi alasan si pemilik menggunakan Royal Palace sebagai identitasnya. Rey menatap jam tangannya kemudian mengangkat kepalanya menuju pintu masuk.
Menit berlalu, tapi sosok Laura tidak kunjung menunjukkan diri. Apa mungkin Laura membatalkan janji mereka? Rey menelengkan kepalanya. Laura bukan orang seperti itu.
Seakan membenarkan dugaannya, Rey akhirnya melihat wanita itu melewati pintu masuk. Ia berdiri agar Laura bisa melihatnya. Pandangan keduanya bertemu dan Rey bisa melihat kelegaan di mata Laura yang justru membuatnya terhibur.
“Kupikir kau tersesat,” gumamnya begitu Laura berdiri di depannya.
Laura meletakkan tasnnya. “Aku bukan orang bodoh, Rey.”
“Aku yakin seperti itu. Ngomong-ngomong, di mana gaunnya?” gumamnya penuh humor saat menatap pakaian Laura yang terlalu sopan. Sangat berbanding terbalik dengan wanita sexy yang ia temui di klub.
“Sudah kukatakan jangan terlalu berharap.” Laura menarik rambut panjangnya yang tergerai melewati bahunya.
Rey meniru sikap serius Laura. “Kau mau pesan dulu atau….”
Laura menggeleng. “Bukan itu tujuanku ke mari.” Laura menatap langsung mata Rey.
“Katakan, apa yang terjadi malam itu, apa kita….”