Percaya atau Tidak?

1394 Words
Laura belum pernah melihat ibunya begitu terkejut hingga detik ini. Sesaat, Laura pikir ibunya akan membantah dan menuduhnya sebagai pembohong, tapi dugaannya salah. Benar-benar salah. “Bagaimana kau…” “Bagaimana aku tahu kebenaran yang selama ini kalian sembunyikan?” tukas Laura pahit. Laura mengepalkan kedua tangannya begitu erat sampai kuku tangannya menusuk kulitnya. Selama ini hidupnya diselimuti kebohongan hingga ia bahkan tidak tahu lagi mana yang harus ia percayai. Laura menatap ibunya dengan penuh emosi. “Seseorang mengatakannya padaku.” “Dan kau memercayainya begitu saja?” “Kalau begitu, apa Ibu keberatan jika kita melakukan tes DNA?” tantangnya, tahu dengan pasti ibunya pasti tidak akan menyetujuinya. Laura menunggu dan terus menunggu. Benar saja, ibunya bungkam seakan tidak bisa bersuara. Laura menarik napas dalam-dalam. Ia tidak akan menangis. Tidak, meski tenggorokannya sakit, meski belakang matanya memanas. Ia sudah melewati malam terkutuk itu. Ia tidak akan mengulanginya lagi. “Tes sialan itu tidak akan membuktikan apa pun.” Laura tertawa sumbang. Alih-alih menjawab ia berjalan dan membuka pintu rumahnya lebar-lebar. “Kalau tidak ada lagi yang ingin Ibu bicarakan, sebaiknya Ibu pergi dan tolong jangan datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.” Ibunya terlihat seolah siap mencekik Laura, tapi Laura hanya menatap ibunya tanpa ekspresi. “Ini balasanmu karena kami telah merawatmu?” Rahang Laura mengeras. “Ibu melakukannya karena pria itu memberikan uang pada Ibu sebagai imbalan dan jangan lupa tindakan yang Ibu lakukan telah memisahkan seorang Ibu dari anaknya dan seorang anak dari keluarganya. Ibu tahu kan jika keluargaku yang sebenarnya mengetahui hal ini, mereka bisa memenjarakan ibu dan semua orang yang terlibat?” “Kau pikir ancaman itu akan membuatku takut?” “Tidak, tapi aku tahu Ibu cukup cerdas untuk berpikir kalau menggertakku tidak akan menghasilkan apa pun. Mulai sekarang, tolong jauhi kehidupanku. Aku tidak ingin berurusan dengan kalian lagi.” Pandangan wanita itu penuh kebencian, tapi Laura yang sudah terbiasa menerimanya sejak kecil menjadi kebal terhadap hal itu. Ekspresinya tenang saat melanjutkan ucapannya. “Sejak kecil aku selalu bertanya-tanya, kenapa keluargaku sendiri tidak mencintaiku? Apa aku anak yang tidak diinginkan? Dan sekarang setelah mengetahui jawabannya, aku justru merasa lega, aneh bukan, Bu? Aku lega karena aku bukan anak kalian.” Ibu Laura tersenyum sinis. “Ya, kau bukan anakku bahkan tidak sedetikpun dalam bayanganku kau pernah menjadi anakku. Dan kau tahu yang lebih buruk Laura? Kau pastilah anak yang tidak diinginkan keluargamu, itu sebabnya kau menjadi anak yang terbuang, bukan?” Laura menggertakkan rahangnya. Giginya gemelutuk saat menatap wanita yang membesarkannya. “Atau mungkin sebaliknya.” Wanita paruh baya itu tertawa keras. “Jangan bermimpi. Kalau orang tuamu menginginkanmu kau tidak akan berakhir dalam belas kasihku.” Laura membuka mulut untuk membantahnya, tapi akhirnya ia berubah pikiran. “Kurasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.” Laura berdiri di ujung pintu, menunggu wanita itu keluar. Sebelum benar-benar pergi wanita itu masih melontarkan kalimat pedas lainnya yang nyaris membuat Laura kehilangan kesabaran. “Dasar anak haram, kau pastilah aib yang sangat memalukan sehingga orang tuamu sendiri membuangmu. Seharusnya kau bersyukur karena aku menampungmu di bawah belas kasihku. Dasar anak tidak tahu terima kasih.” Laura menutup pintu sebelum ia benar-benar melakukan sesuatu yang akan ia sesali nantinya. Misalnya memukul wanita itu. Begitu sendirian Laura mengambil napas panjang dan dalam. Ia bersandar di pintu sembari memejamkan matanya. Ibunya bahkan tidak sedikitpun menunjukkan penyesalan karena telah menerima uang itu, pikirnya getir. Laura menyeka sudut matanya. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengubah masa lalu, tapi Laura tidak akan membiarkan kenangan buruk masa kecilnya mempengaruhi masa depannya. Setidaknya, sekarang ia berhasil membangun dunianya sendiri dan itulah yang terpenting. Hidupnya aman dan damai dan itu cukup. Laura menghela napas. Sepasang visual tajamnya menatap jam di dinding ruang tamunya. Sebentar lagi ia harus ke kampus. Ponselnya bergetar. Laura menariknya keluar dari saku celana. Jangan lupa tentang nanti malam. Pesan itu berhasil mengembalikan senyum di wajahnya. Laura membalasnya saat itu juga. Aku tidak sepikun itu. Yah, mungkin, tapi aku tidak yakin kau cukup berani menerima kenyataan tentang malam itu. Laura menelan ludah menyadari kebenaran kata-kata Rey. Malam ia mabuk mungkin jadi salah satu malam yang ingin ia lupakan, tapi ia juga penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu dan Laura tidak akan membiarkan ketakutan menghentikannya mendapatkan kebenaran. Kita lihat saja. Kenakan gaun, aku suka melihatmu mengenakan gaun. Jangan terlalu berharap. Seorang pria boleh bermimpi, Laura. Kurasa mimpimu sudah kejauhan. Jangan menggangguku, Rey, aku harus ke kampus! Laura menggeleng-gelengkan kepalanya. Siapa sangka, hanya dengan berkirim pesan sederhana seperti itu berhasil memperbaiki suasana hatinya? Ponselnya kembali bergetar, mengejutkan Laura. Keningnya mengerut saat melihat Rey yang menelepon. Laura mengangkatnya. “Rey?” “Cuma mau bilang, ada hadiah yang menunggu di depan rumahmu.” Hadiah? Sambungan dimatikan. Laura membuka pintu rumahnya—dan mematung mendapati satu buket bunga besar tergeletak di pintu rumahnya. *** “Jadi, siapa nama wanita itu?” Rey melengok. “Apa?” Jo menyeruput minumannya. Kedua tangannya dilipat di atas meja panjang. “Apa dia cantik? Dia pasti cantik.” Rey terkekeh sendiri mendengarnya. Ia meletakkan ponselnya dan kembali menggeluti pekerjaannya. “Kenapa kau di sini? Jangan bilang wanita itu mencampakkanmu.” “Apa dia pernah datang ke sini? Aku yakin aku pasti mengingatnya seandainya…” Rey mendesah, tahu benar kalau Jo tidak akan menyerah sebelum ia menjawab pertanyaan pria tua itu. “Dia pernah ke sini.” Jo tersenyum lebar, matanya berbinar. “Sudah kuduga, jadi yang mana? Wanita berlipstik merah menyala yang bergelayut manja padamu waktu itu? Atau wanita sexy yang waktu itu atau mungkin…” Rey meringis. “’Kau membuatku terdengar seperti pemburu wanita.” “Memangnya bukan?” Rey memutar bola matanya. “Dia wanita bergaun merah menyala dengan—“ “Mata indah dan juga wajah cantik,” potong Jo, berhasil membuat Rey tertegun. “Bagaimana kau tahu?” “Ayolah, Rey, aku duduk tidak jauh dari mejamu. Aku melihat bagaimana kau menatapnya. Apa kau pikir aku tidak menyadari itu?” satu alis Jo terangkat. “Kau menatapnya tanpa berkedip. Apa dia wanita yang baru saja kau kirimi pesan?” Rey mengangkat bahunya. “Aku sibuk. Ini harus selesai hari ini.” Rey menunjuk laptopnya yang menyala. Air wajah Jo berubah saat melihat laptop Rey. Wajahnya menjadi serius dan sikap kebapakannya dalam sekejap mendominasi. “Kau benar-benar menolak investasi dari Pradipta?” Rey menoleh, terkejut. “Aku mendengarnya dari Ben,” terang Jo, menjawab petanyaan tak terucap Rey. “Kenapa Rey? Kerja sama kalian akan sangat menguntungkan usahamu. Branding dan juga nilai jual tempat ini akan melonjak drastis kalau kalian bekerja sama.” “Aku tidak tertarik bekerja sama dengan mereka.” “Dan alasannya adalah?” Rey mengedikkan bahunya. “Tidak ada alasan khusus.” Jo melongo. Mulutnya terbuka lebar, membuat mimik wajahnya menjadi lucu seperti tokoh-tokoh yang ada di dalam kartun. Rey yang melihatnya tidak bisa menahan cengirannya. “Kau terlihat sangat terkejut.” “Karena aku memang terkejut.” Rey merapikan mejanya kemudian memasukkan laptopnya ke dalam ransel yang selalu ia bawa. “Tolong katakan pada Ben, malam ini aku tidak akan datang.” “Kenapa?” tanya Jo curiga. Seringai Rey muncul. “Aku punya kencan.” “Wow.” Rey tertawa. “Jangan terkejut begitu. Aku kan pria normal. Apa menurutmu aku tidak tertarik pada wanita?” “Pemikiran itu sempat muncul di kepalaku mengingat selama ini kau hanya main-main dengan wanita yang mendekatimu. Wanita itu pasti spesial jika dia berhasil membuatmu berusaha keras seperti sekarang.” Rey tersenyum, matanya menghangat. “Kau tahu apa yang menarik, Jo?” tanyanya sambil lalu. Pandangannya menerawang saat melanjutkan. “Entah bagaimana aku merasa kalau wanita itu juga memiliki luka yang sama seperti yang kumiliki. Dan anehnya, aku merasakan keinginan yang kuat untuk menghapus lukanya. Apa itu masuk akal?” Jo menepuk pundak Rey pelan. “Atau mungkin sebaliknya, dialah obat yang selama ini kau butuhkan, Rey.” Rey mengerutkan kening. “Apa maksudmu?” tanyanya tidak mengerti. Jo tersenyum hangat. Telunjuknya yang bebas menunjuk d**a Rey, tepat di mana jantungnya berada. “Kita berdua tahu luka apa yang ada di sana, Rey, mungkin akhirnya kedatangan wanita itu akan mengubah semuanya?” Apa? Rey meragukannya. Bagaimana mungkin kedatangan wanita bermata indah itu bisa mengubah semuanya? Seolah bisa membaca keraguan Rey, pria tua itu tersenyum simpul. "Aku tahu kau sulit memercayainya, tapi suatu saat kau akan mengerti." "Mengerti apa?" "Bagaimana kehadiran seseorang bisa mengubah segalanya. Kau percaya itu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD